
Trishna bangun dari tidurnya, dia mengeliat lalu memandang ke sekitarnya.
"Kayaknya aku ada mimpi tadi, tapi mimpi apa ya," ucap Trishna lirih sambil coba mengingat mimpinya tadi.
Tok..tok..tok..
Bunyi pintu kamar Trishna diketok, dia bergegas berdiri lalu menuju ke arah pintu. Trishna membuka pintu dan terpampanglah wajah Ferdian yang terlihat begitu segar.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Ferdian.
Tiba-tiba potongan mimpi Ferdian terbang dan mempunyai taring terlintas di dalam pikiran Trishna. Bulu kuduk Trishna langsung merinding karena dia telah mengingat mimpinya.
Tanpa sadar Trishna mundur satu langkah ke belakang dengan wajah yang terlihat takut. Pikirannya saat ini mengingat bagaimana Ferdian coba mengigit pundak seorang wanita dengan mata yang memerah.
Mata Trishan tidak berkedip hingga Ferdian yang tidak mendapat jawaban dari Trishna kembali bertanya.
"Ada apa? Kau terlihat pucat," ucap Ferdian lagi.
Trishna seperti kembali kepada kesadarannya, dia menatap Ferdian lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
'Kenapa aku harus takut itukan cuma mimpi haih lagi pula mana ada vampir,' batin Trishna.
__ADS_1
"Tidak saya tidak sakit Tuan," jawab Trishna sambil mencoba tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, hmm tadi aku beli makanan sebelum pulang. Sebenarnya aku tidak tau makanan kesukaanmu jadi aku hanya beli steak medium black pepper sama french fries saja," terang Ferdian.
"Terima kasih Tuan, maaf merepotkan," jawab Trishna.
Ferdian hanya mengangguk, lalu mengajak Trishna untuk makanan yang telah dia beli tadi karena merasa bersalah.
Trishna melihat makanan yang mewah itu, selama ini dia tidak pernah memakan makanan sejenis steak karena ekonomi keluarganya tidak memungkinkan.
Trishna coba memotong steak tadi tapi hasilnya tidak bisa, dia mulai kesal hingga mau menyerah dan menggunakan tangan saja dan menggigitnya langsung.
Ferdian tertawa geli melihat tingkah Trishna yang terlihat sungguh sangat sederhana.
"Terima kasih Tuan," ucap Trishna lalu langsung melahap steak itu.
"Tuan tidak makan?" tanya Trishna kembali.
Ferdian mengeleng lalu mengatakan bahwa tadi dia telah makan di luar bersama Roben, dan menyuruh Trishna untuk menikmati saja makanannya tanpa banyak bertanya.
Setelah selesai, Ferdian dan Trishna duduk di ruang tamu. Trishna melihat sekeliling apartemen itu lalu menghela nafas berat.
__ADS_1
"Maaf Tuan, belum bisa jalani tugas yang seharusnya saya lakukan," ucap Trishna sambil menundukkan wajahnya menatap kedua tangannya.
"Kamukan lagi sakit masa aku harus paksa, aku tidak sekejam itu Trish," jawab Ferdian.
Trishna mengangguk beruntung saja, Ferdian tidak mencari alasan untuk menambah jangka waktu untuk tinggal bersamanya.
Kini mereka mulai bercerita tentang keluarga Trishna. Sebenarnya Ferdian sengaja menanyakan tentang keluarga Trishna karena dia ingin mencari tahu lebih lagi.
'Ternyata benar tebakanku Trishna tidak tahu asal usulnya,' batin Ferdian.
Tiba-tiba Trishna teringat mimpinya tadi yang mengusik pikirannya.
"Oh ya Tuan, maaf tadi saya mimpi Tuan tapi bukan dalam bentuk manusia tapi bentuk vampir yang ada gigi taringa tajam lalu mata menyala dan mengigit puncak seoarang wanita hahaha masa bisa mimoi begitu," cerita Trishna sambil tertawa geli karena mimpinya tidak masuk akal sama sekali.
Deg!
'Eh bukankah ingatannya telah dihapuskan, kenapa dia bisa mengambarkan wujud asliku,' ucap Ferdian dalam hati.
Ferdian mulai terlihat sedikit panik karena takut ketahuan wujud aslinya. Entah apa yang dia takutkan padahal dia bisa saja melenyapkan Trishna saat ini jika wujud aslinya bocor.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf Readerss belum panjang, masih super sibuk authornyaa 🫠🫠apapun teruskan mendukung yahh..
Love you sekebooon 🫶🫶🌹🌹🌹