
Mieko seperti orang kesetanan, seperti orang gila. Merobek wajah anaknya sendiri, hingga bagian mata yang memiliki warna sama dengannya keluar, tulang pipi mungil itu pun terlihat terkoyak. Setelah terdiam beberapa saat, ia kembali menusukkan pisau ke leher Siera dengan cara memutar sambil memberi tekanan kuat, sehingga tenggorokan sang Anak nyaris putus dengan kulit lehernya robek lebar.
Darah deras menyucur ke wajah Mieko, napasnya terengah, merasa ada gejolak aneh yang menggeliati dirinya di dalam dada. Dengan perlahan, setelah melakukan aksi keji, ia pun berdiri. Menatap sang Anak yang sudah tak bergerak dan mati kehabisan darah.
Isak itu terdengar, air mata turun bak hujan yang sedang mengguyur. Tubuhnya kini gemetaran hebat, ia menyadari hal yang dilakukannya teramat hina dan salah. Ditatapnya telapak tangan penuh kentalnya darah, salah satu dirinya di hati berkata kalau yang dilakukannya ini adalah hal benar karena untuk memusnahkan iblis yang bersarang di dalam diri Siera, anaknya harus menjadi korban. Anaknya telah selamat, iblis itu yang mati.
"Siera selamat! Siera Selamat! Iblis yang mati! Iblis! Iblis!" teriakannya menggema di kediaman yang sepi.
Detak jantung Mieko meningkat, kala ia menatap kembali sang Anak di lantai. Dirinya pun merosot terjatuh dengan tatapan melotot, saat Siera bergerak dan perlahan merangkak dengan masih bersimbah darah ke arah dirinya berada. Kenapa? Seharusnya ini tak terjadi, seharusnya anaknya sudah mati? Kenapa?
"Mama, hihihihii," tawa Siera dengan intonasi tidak wajar, dan merangkak mendekati ibunya yang tertekan.
Dan seperti sebelumnya, perlahan luka-luka itu kembali memulih menjadi sedia kala. Dentuman jantungnya semakin meningkat, Mieko membelalakkan matanya, wajahnya tercengang dan ia hanya bisa menjambak rambut sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"HUAAAAAAA! Tidak!"
*
Enam bulan setelahnya berlalu, para Tetua Klan Harata dan kedua klan lainnya yang ada di ruangan itu, yaitu Aoryu Harada dan Yakumo Kikyo, akhirnya bertemu dan mengadakan rapat untuk menidiskusikan mengenai Siera dan tindakan apa saja yang sudah mereka lakukan setelah ini. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Ini benar-benar hal yang sulit karena Siera tidak bisa dibunuh dengan cara biasa. Iblis itu secara tidak langsung melindunginya.
"Bagaimana kalau kita melakukan penyegelan agar dapat mengendalikan Siera?" saran Yakumo Kikyo kepada mereka, wanita berambut panjang dan berusia nyaris setengah abad itu menatap para Tetua dan Kepala Klan yang ada di meja bundar.
"Penyegelan?"
"Bagaimana caranya?" Aoryu Harada, lelaki berusia empat puluh tahun dengan pupil mata sebelah hitam dan sebelah cokelat, telihat masih belum memahami hal ini.
"Aku akan meminta bantuan temanku, mereka dari Klan Uzukiro yang ada di belahan distrik Uzu di Utara. Memiliki kekuatan supernatural penyegel dari leluhur mereka. Aku juga meminta agar Klan Aoryu membantu menyegel dengan kekuatan mata kalian. Siapa yang memiliki kemampuan terkuat kalian saat ini, Aoryu?" setelah menjelaskan tentang rancananya, Kikyo pun bertanya kepada Harada.
__ADS_1
"Aku, dan aku akan membantu." Harada membalas tatapan mata Kikyo dengan wajah tegasnya.
Setelah melakukan berbagai persiapan, penyegelan iblis yang ada di tubuh Siera pun dimulai. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyegelan itu dan ketika selesai, tindakan ini memakan banyak korban jiwa.
Harata Shino, Aoryu Harada, Uzukiro Tsumugi dan Uzukiro Makoto meninggal dunia, menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga ataupun yang terlibat dalam misi rahasia ini. Walaupun begitu, mereka tetap bersyukur karena penyegelan berhasil dilakukan. Setidaknya, iblis itu tak bisa berulah untuk beberapa saat karena sudah diberikan mantra khusus kepada keturunan perempuan Harata.
Setelah hampir setahun sejak penyegelan, Kikyo menyadari sesuatu hal yang cukup mengkhawatirkan. Yaitu, Siera selalu berubah saat bulan purnama. Walau hanya bentuk fisiknya yang berubah, tetapi Kikyo khawatir jika anak itu akan lepas kendali saat segelnya melemah ketika termakan usia.
*
Kediaman Harata pagi ini sedang terjadi sedikit cekcok, walau cuaca terlihat cerah dan orang-orang sedang semangat untuk melakukan aktivitas, tetapi hal itu sama sekali tidak berlaku bagi perempuan satu-satunya yang ada di dalam Klan Harata. Gadis berambut ikal yang tak lain beranama Siera, kini tengah menaiki mobil mereka dengan wajah sebal sambil mengomel tidak jelas.
Duduk di depan sang Adik secara langsung dan berhadapan wajah di dalam mobil mewah ini, membuat Hoshi terusik juga. Ia menaikkan sebelah alis kala mendengar kicauan tak ada habisnya dari adik perempuan semata wayangnya. Hela napas keluar dari bibir tipis lelaki sulung Harata itu, ia menggelengkan kepala. Di sebelah Siera yang masih terus mengomel, duduk Sanosuke dengan tenang dan terlihat sama sekali tidak terusik seperti sang Kakak. Entah telinga Sanosuke sedang tak sehat atau lelaki kembaran Siera itu memang sudah terbiasa dengan situasi ini.
__ADS_1
"Baiklah, Siera. Ada apa?" jengah Hoshi melihat tingkah Siera.