Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
13. Gundah dan Rindu


__ADS_3

Mendengar perkataan putranya, membuat Shino benar-benar merasa sesak yang amat sangat, pasalnya sudah dua kali Mieko harus menggugurkan kandungan karena telah diprediksi di dalam rahim sang Istri bahwa sosok bayi berjenis kelamin perempuan yang dikandung, dan mereka sebagai orang tua sangat menyesalkan hal itu, juga merasakan amat sedih ketika melihat Hoshi yang menangis karena tidak jadi mendapatkan adik.


"Sabar, Sayang. Doakan, ya, semoga adik bayinya baik-baik saja." Mieko membujuk anak lelakinya dan mengembangkan lekukan mirip kurva pada bibirnya, hingga matanya menyipit.


*


Tujuh bulan kemudian, seorang lelaki dan seorang anak tengah berada di depan pintu ruang tunggu, semenejak sejam lalu pintu tertutup dengan penanda lampu merah yang berada di atasnya. Wajah lelaki dewasa itu terlihat khawatir, keringat terus saja memenuhi tubuh hingga baju yang dikenakan menjadi cukup basah.


Mencoba menyabarkan diri, ia berjalan mondar-mandir hingga membuat anak lelakinya keheranan. Pasalnya sang Ayah benar-benar tak bisa diam sedari tadi. Yang Hoshi tahu kali ini ia akan mendapatkan dua orang adik kembar, lantas saja ia sangat bahagia mendengar hal itu karena akhirnya ia akan mendapatkan adik.

__ADS_1


Pintu yang sedari tadi menjadi fokus utama Shino, akhrinya bersinyal hijau dan beberapa saat kemudian celahnya telah terlihat dan terbuka lebar, dengan seorang suster yang berjalan keluar.


Bunyi gesera pintu pun terdengar lebih nyaring.


"Selamat, Tuan Harata. Bayi Anda adalah anak laki-laki yang sehat dan tampan." Mendengar keterangan salah satu suster sambil membawa seorang bayi yang terlihat tenang dan tertidur dalam balutan selimut, membuat Shino terheran sebentar. Setelanya ia langsung mendekati dan menatap sang Anak dengan mata berkaca-kaca.


"Syu-Syukurlah!" tangisan bahagia tak dapat ditutupi lagi, Shino dan Hoshi yang ada di sana pun menerima bayi itu dengan perasaan senang dan haru. Hoshi tersenyum ketika melihat adik bayinya yang baru saja berhenti menangis dan dengan gemas si sulung menggerakkan jari telunjuk untuk menyentuh pipi kemerahan itu.


"A-apa ... apa-apaan ini?" Dokter pun hanya bisa terbelalak dengan suara terbata dan tercekat. Tangannya bergetar, sebab dalam masa tugasnya selama belasan tahun, baru kali ini ia menemukan kondisi tak wajar dari bayi perempuan yang baru saja dilahirkan.

__ADS_1


"K-kenapa bayinya tidak menangis? Malah tertawa, sambil me-melototi ki-kita?" suara bergetar dan ketakutan sang Dokter membuat suasana menjadi mengerikan seketika, keringat dingin bercucuran karena melihat keganjilan yang ada pada bayi kembar kedua keluarga Harata yang baru saja dilahirkan. Ia yang mengurus proses persalinan Mieko hanya bisa terdiam, para suster pun terkaku. Mieko sendiri berwajah pucat dengan mata melotot, wanita itu terbelalak dan ternganga karena mendengar tawa aneh dari bayi keduanya yang lahir hari ini. Bayi perempuannya.


"Hihihihihi."


Detak jantung semua orang yang berada di dalam ruangan meningkat drastis, tubuh mereka bergetar karena melihat seorang bayi perempuan dari Klan Harata tengah menyeringai dengan mata semerah darah bersinar bak api.


*


Langit malam tidak membuat Siera merasa takut, tetapi bulanlah yang membuat perasaannya gelisah. Entah kenapa, setiap kali bertepatan dengan purnama bersinar indah, dirinya menjadi berwujud mengerikan seperti ini? Kondisinya sudah seperti siluman yang sering ia tonton di serial animasi kesukaannya. Ia berpikir-pikir dari penyebab perubahan ini, sebenarnya apa yang terjadi?

__ADS_1


Ketika ia kecil dan menanyakan hal ganjil ini kepada kakak lelaki tertuanya, dan akhinya ia tahu bahwa semua yang terjadi pada dirinya di saat bulan purnama karena ada sesuatu yang disebut pelindung. Ia penasaran, kenapa pelindung ini bisa muncul di tubuhnya? Ular berbentuk aura dan sekarang terlihat nyata, bahkan dengan mata telanjang. Padahal biasanya selama satu bulan—kecuali purnama, orang-orang tidak akan melihat sesuatu ... dijelaskan sebagai pelindung oleh kakaknya.


__ADS_2