
Bibi pelayan kemudian mengetuk pintu, membawa senampan makan siang untuk Siera yang masih duduk di atas ranjang dengan pungung bersandar di dada papanya.
"Nah, sebaiknya kau sekarang makan, Siera. Sini bonekamu, Papa yang pegang."
Dia mengangguk, memberikan boneka kelinci kecil yang adalah penghuni rumah bongkar pasang hadiah dari Karin. Membuka mulut ketika Selena memberikan sup hangat, Siera sekarang memakan dengan ekspresi riang, bahkan terkadang memainkan tangan Andrew yang berada di sampingnya.
Tanpa sadar, Selena yang menyaksikan hal ini pun merasa dadanya berdesir, sebenarnya ia begitu tak sampai hati memisahkan Siera dan ayahnya. Namun, ia tahu Andrew sering di luar batas jika mereka terlalu dekat. Laki-laki itu tidak segan-segan membalas dan menghabisi siapa saja yang dianggap penggangu dihidupnya. Bahkan Selena ingat, saat mereka berada taman umum yang hanya berjarak beberapa ratus meter dekat rumah, dengan kejam Andrew mendorong anak kecil yang tidak sengaja membuat Siera terjatuh karena tertubruk tubuh. Setelah itu, Andrew nyaris mencekik dan mengacam akan memotong kaki si anak karena tidak dipakai dengan benar.
Tentu saja Selena langsung menyuruh anak laki-laki itu pergi, menarik Andrew untuk langsung pulang ke rumah karena telah melanggar janji untuk tidak sembarangan menghakimi seseorang tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma?"
Lamunan Selena hilang sekejap mata, ia tersentak kecil, kemudian menyahuti sang putri sambil tersenyum.
"Ah, maaf. Kau mau air, ya. Nah, sekarang adalah waktunya meminum obat. Lihat, ini rasa stawberi kesukaanmu."
"Aku tidak minum obat, Ma. Tidak mau, aku kan sudah sehat. Sudah tidak di rumah sakit lagi." Selena menggelengkan kepalanya, menutup mulutnya rapat hingga membuat Andrew tersenyum.
"Ayolah, Princess. Ini hanya satu sendok saja, rasa strawberi kesukaanmu. Kalau rasanya tidak enak, Papa janji akan kena hukumanmu."
__ADS_1
Memandak sang papa dengan tatapan menyelidiki, Siera kemudian menggerakkan jari kelingkingnya, meminta Andrew untuk menyatukan sebagai tanda mereka telah berjanji. Laki-laki dewasa itu tentu saja tidak memahami apa maksud yang ingin diutarakan Siera, hingga dia masih terdiam dan memandangi Selena.
Menghela napas, Selena pun mengucapkan agar kelingking Andrew mengait kelingking anaknya.
"Nah, Siera. Papamu telah berjanji, jadi minum obatmu sekarang, Ok."
Dengan wajah masam, gadis kecil itu membuka mulut ragu-ragu, sambil memejamkan mata ia menerima satu sendok obat dan menelannya seperti itu adalah sebuah bola golf. Setelah merasakan bahwa yang ditelan benar seperti yang dijelaskan sang mama, Siera pun tersenyum sampai giginya terlihat, bahkan akhirnya tertawa kecil.
"Satu lagi boleh, ya, Ma?"
"Hei, ini bukan permen, Sayang. Baiklah, sekarang kau harus istirahat. Nanti kami kembali lagi untuk melihat apakah kau sudah tidur atau belum. Andrew, biarkan Siera berbaring, pelayan telah menyiapkan makan siang juga untuk kita."
"Semoga lekas sembuh, Sayang."
Keluar dari kamar, eksperis Selena seketika berubah menjadi dingin. Wanita itu memijat dahinya beberapa kali dan berjalan lebih dahulu di depan menuju ruang makan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung
Halooo, apa kabar di hari libur ini. Selamat tahun baru Hijriah semuanya.
Nah, Erza up untuk chapter dua seperti janji Erza semoga bisa up tiap hari sesuai ketentuan ya hehe.
Ok, jangan lupa memberikan dukungan berupa vote dan komentar. Sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan novel ini di tantangan menulis.
Terima kasih, semuanya.
Salam sayang,
zhaErza
__ADS_1