
Kau berada di atas meja, memengang sebuah buku tebal yang berisi tulisan dan fotomu dengan sang kakak. Kau tak percaya, memikirkan bahwa indramu telah menipumu, namun orang yang kauanggap serangga penggangu, orang yang kaukira selalu menyusahkanmu karena adanya dirinya dalam hidupmu, tak pernah menganggapmu sebagai adik yang bodoh, pengecut atau mainan penghibur. Tak seburuk itu, laki-laki itu tak pernah merasa senang saat kau dibanding-bandingkan dengan dirinya, dipermalukan oleh ayahmu sendiri, laki-laki itu sangat tulus menyayangimu dan ingin membimbingmu, namun kau terlalu gelap mata dan menganggap kaulah yang paling menderita dan menyalahkan kakakmu.
Matamu memejam, kau melihat betapa buruknya kelakuanmu, kau seperti adik durhaka yang tak patut mendapatkan cinta sebesar ini oleh kakakmu.
"Sandi, bagunlah." Suara itu selalu membuatmu sebal dan marah. Kau sangat tak suka jika hidupmu selalu disangkut pautkan dengan orang yang lemah lembut memukul-mukul bahumu. Apalagi, saat kau membuka mata, yang terlihat hanya senyum memuakkan dari orang yang paling ingin kausingkirkan di rumah ini.
Aliran darahmu langsung terpompa cepat, menjadikan jantung berdetak dengan kencang, tatapan matamu yang tajam, kini bagai menguliti hidup-hidup orang yang sudah mengacaukan pagi harimu.
__ADS_1
"Pergilah!" suara beratmu terdengar, kau lelaki yang telah duduk di bangku SMA, pun langsung terduduk dan siap menyentak tangan kakakmu yang sekarang tengah mengacaukan rambutmu yang memang sudah berantakan. "Adimas!" nama itu kausebut dengan geraman di bibir, rasa tak sukamu sangat tak kaututupi dari kakak lelakimu sendiri.
Kini, yang terlihat di bola matamu yang hitam dan tajam hanyalah senyum canggung kakakmu, laki-laki yang enam tahun lebih dewasa darimu itu menggaruk ceruk lehernya dengan rasa bersalah.
"Maaf, aku tak bermaksud, hanya saja kau harus sekolah, bukan. Ibu yang menyuruhku." Tidak ada ampun, kau langsung bangun dari ranjang, dan mendecih hingga terdengar di telingamu sendiri. Kau bahkan tak mau menatap kakakmu yang kini hanya menyoroti punggumu dengan mata pilu, kau tak tahu itu tentu saja.
Sarapan yang tersaji di piring sangat tak menggungah selera, bagimu tak ada yang lebih buruk daripada dibanding-bandingnya oleh ayahmu sendiri. Semakin hari, rasa jengah di dada menggunung dan tak tertahankan. Membuatmu berpikir untuk keluar dari rumah ini dan memilih tinggal di tempat lain saja, namun sekali lagi sang ibu yang sangat menyayangi selalu tak menyetujui ide gilamu. Bagaimana pun, kau masih dibawah umur dan masih duduk di kelas 2 SMA.
__ADS_1
Dahulu kau selalu menyukai saat kakakmu mengajak bermain, bahkan terkadang kau memaksanya agar dia lebih memedulikanmu, daripada tugas-tugas sekolanya. Kau bahkan merengek dan berlaku bagai pengemis, ya mengemis perhatian kakakmu dan kau sangat menyukai saat di mana kakak mengacak rambut berponimu.
Namun, segala yang kaucintai dari kakakmu perlahan sirna, kau berpikir kenapa kau memiliki kakak yang terlalu sempurna? Kenapa ayahmu selalu membandingkan dirimu yang penuh cela ini kepada sosok kakakmu yang jenius? Tanpa sadar, kau membendung luka, iri, dan kebencian. Rasa sayang, kagum dan cinta kepada kakakmu terkubur sudah.
Hari-harimu di sekolah pun tak ada bedanya, membosankan, dan kau selalu dijauhi karena sifatmu yang bermulut tajam dan tak suka berteman.
"Beraninya kau mengatai pacarku ******!" kerah bajumu ditarik lelaki berambut oranye itu, bersiap menghajar wajahmu dengan tinjunya, namun lenganmu yang lebih cepat pun menghadangnya dan melakukan sesuatu yang mengakibatkanmu di panggil ke ruang BK. Berita perkelahianmu di sekolah menyebar bagai wabah penyakit, orang-orang semakin menjauhimu, belum lagi selembar amplop yang berisikan teguran kepada orang tuamu, karena perbuatan yang kaulakukan mengakibatkan lawan kelahimu babak belur dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.
__ADS_1