
Siera mengikat rambutnya yang panjang dengan tergesa-gesa, napasnya ia lepaskan dengan saksama karena sedari tadi berjalan tak tentu arah, tetapi sejenak istirahatnya kini terganggu juga tak kala mata dengan iris gelap itu menatap sang Kakak—tengah berajalan ke arahnya. Ia pun membeliakkan mata dan langsung menegakkan badan.
"Ga-gawat!" teriaknya terbata dan langsung berlari menjauh dari Hoshi.
"Hoi! Beraninya kau! Jangan kabur!" Hoshi kembali menggeram ketika melihat Siera sudah menghilang di balik koridor sekolah, bak ditelan bumi. Ia lalu menghela napas, menyisir rambut dan anak poni yang terjatuh ke dahi menggunakan jari-jarinya yang panjang, keringat di sana pun tersapu dan terlihat mengkilap ketika terkena cahaya mentari. Mengeluh beberapa saat, kemudian menyadari ketika kelelahan akhirnya menerjang tubuh, ia bebisik, "Anak nakal itu, awas saja dia."
Menggerutu dan masih tak menerima kekacauan yang terjadi, Hoshi pun melangkahkan kaki dan kembali mencari adiknya yang seenaknya minta ampun itu, padahal sudah duduk di bangku SMA.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali menghapus keringat, ia pun mengendurkan dasi sambil bersandar di dinding, percuma saja meluangkan waktunya untuk tidak bekerja, kalau Siera ternyata masih tetap ngotot tidak mau dipindahkan sekolah seperti ini. Padahal kemarin malam Siera sudah bersedia, kenapa tiba-tiba gadis keras kepala itu berubah pikiran lagi? Ck, menyusahkan saja.
*
Entah di ruangan mana, seorang gadis menatap waspada pada sekeliling. Masih mengendap-endap, Siera pun membuka pintu yang ada di depannya guna untuk kembali bersembunyi.
"Hos! Dasar si baby face mesum, enak saja dia sesuka hati memindahkanku ke sekolah jelek ini." Siera berucap dengan kesal karena tidak terima akan didaftarkan oleh kakaknya ke salah satu sekolah yang berpusat di kota Tokyo, yang pastinya memiliki peraturan sangat ketat dan jauh berbeda dengan sekolahnya yang lama.
__ADS_1
Ia nyaris terdiam, dan kemudian berteriak ketika telah menemukan jiwanya kembali.
"Huaaaa! A-apa yang kalian lakukan di-di sini? Dan kenapa kalian hanya pa-pakai handuk?" Siera tentu saja langsung syok dengan mulut agak mengaga, ia juga terbata-bata lengkap dengan wajah yang memerah seperti buat tomat siap panen.
Kaki sialnya ternyata telah membawan dirinya ke dalam tempat terkutuk ini. Astaga naga!
"Nona, kami sehabis mandi dan tentu saja harus memakai handuk atau kau ingin kami telanjang?" itu adalah pernyataan dan pertanyaan yang diucapkan dengan sangat simpel untuk ukuran kalimat memalukan, ditambah lagi pemuda berkulit pucat tersebut sekarang tersenyum tanpa dosa kepada Siera.
__ADS_1
Bagi gadis berusia tujuh belas tahun itu, melihat senyuman sang Pemuda benar-benar membuatnya merinding, seperti melihat hantu saja. Namun, ada kalanya ia ingin sekali menonjok seseorang pemilik senyuman laknat itu. Intinya ini benar-benar menyebalkan. Oh, kaki sialnya yang kurang ajar.
"Ehh? Oh ... ja-jadi?" tidak tahu harus mengatakan apa, Siera hanya berperan bagai orang linglung, ia benar-benar dalam kondisi terdesak sekarang, dan di luar sana sedang ada beberapa monster yang sedang mengancam keberadaan nyawanya lagi.