
"Harata Siera, eh?" gumam Takao pelan dengan suara datar.
Tak jauh dari Takao, Renji dan Ken masih tak henti menatap kepergian orang-orang yang mengacaukan mandi tenang mereka.
"Ken, kenapa kau kelihatan takut sekali. sih? Walaupun dia itu memang agak mengerikan, tapi kau tidak harus berlebihan seperti itu, bukan?" Renji sejak tadi memperhatikan Ken yang terus seperti seseorang yang tengah ketakutan dan melihat hantu.
"I-itu ... ada ... ada seperti sesuatu berbentuk u-ular aneh yang ... yang terbang mengelilingi gadis tadi ke-ketika dia marah, warnanya hitam dan auranya me-mengerikan sekali." Ken berucap dengan agak gemetar karena takut.
__ADS_1
"Eh?"
Sang Lelaki berkulit pucat melebarkan matanya, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan teman sekelasnya dan masih terlihat ketakutan ini. Alisnya mengerut, apa yang terjadi sebenarnya dengan gadis itu.
"Jadi itu nyata, Kokoro no Yami ka?" ucap Takao tanpa sadar dengan suara nyaris berbisik sambil menundukkan kepala, dan seketika tanpa diketahui Ken dan Renji yang masih membahas tentang Siera, iris hitam dan cokelat Takao berubah menjadi semerah darah dan bersinar terang. Dirinya tersenyum kecil karena telah menyadari sesuatu.
Malam hari, angin mengembus helai rambut Siera yang duduk di dekat jendela kamar, di sebelah tangan—ia sedang memainkan bola kaca berisi ratusan butir-butir salju dan kerlap-kerlip bagai sinar lampu dari si kristal. Menggoyangkan ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah untuk melihat sensasi indah pada bola kaca tersebut. Memesona.
__ADS_1
Padahal malam ini begitu indah, tetapi raut si gadis malah berkebalikan dengan suasana yang tersaji penuh gemintang. Angin kembali menyapa, bertiup dan mengibarkan rambut panjang Siera yang tergerai. Tidak seperti biasanya, rambut Siera kali ini menjadi merah pekat bak baru disiram darah. Bola mata agak gelap dan cenderung kecokelatan juga berubah menjadi rubi, dan yang paling mencolok karena adanya aura kelam keunguan berbentuk ular-ular hitam tengah terbang mengelilingi si gadis.
Ular yang tak seperti hewan pada umumnya, bermata merah bersinar, sisik pekat dan mengeluarka asap hitam. Ketika makhluk itu membuka mulut, akan keluar asap panas yang bisa menyakiti fisik seseorang, walau akhirnya terhalang segel berbentuk huruf kuno yang seperti ikut mengelilingi Siera. Sekitar tiga ekor, seukuran lengan orang dewasa dan terbang mengelilingi satu-satunya perempuan berdarah Harata.
Malam ini, bulan purnama bersinar indah.
Kediaman inti Harata.
__ADS_1
Suasana kaku begitu terasa ikut meramaikan dinginnya udara malam, di lantai beralaskan tatami―sebuah matras khas Jepang yang terbuat dari jerami, duduk pasangan suami-istri yang terlihat sangat resah karena kesengajaan yang mereka lakukan. Harata Shino, lelaki berusia tiga puluh tahunan itu memeluk istrinya yang menangis sesegukan karena mendengar apa yang diucapkan oleh para Tetua Klan Harata.
Di luar sana, suhu sedang menurun, angin bertiup cukup kencang hinga membuat daun momoji berguguran, kediaman Harata yang berbentuk istana tradisional Jepang dengan ujung atap lancip, kini menjadi tempat berkumpul untuk merundingkan hal yang nyatanya sulit diterima.