
Kau menangis, dengan baju yang masih bernoda merah, saat kakakmu tak bisa diselamtkan. Kau seharusnya tersenyum dan bersyukur, karena doamu telah didengar Tuhan.
"Kakak! Tidak, Kakakku!" kau seperti orang naif, sudah sekian lama kau membeci kemiripan wajahmu dengan dirinya, kau membenci fakta kalau kau adalah adiknya dan tak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, namun kali ini kau mengucapkannya berulang kali. Meraung seperti orang gila.
Kini, gundukan itu tak ingin kautinggalkan, padahal dahulu kau paling muak saat berdekatan atau berbicara dengannya. Ibumu memaksamu untuk pulang, namun kauingin sejenak di sini untuk mengenang wajah kakakmu.
Setelah kedua orang tuamu pergi dan menyisakan antara dirimu dan pusara itu, kau menjatuhkan tubuh lelahmu, kau berlutut dan menengadahkan tangan, berdoa mengheningkan cipta atas segala jasa, cinta, kasih sayang, perhatian yang kakakmu berikan dulu. Kau bergetar karena mengingat kesalahanmu, kau menyadari begitu mencintai kakakmu, namun ego dan iri membuatmu hilang akal. Antara cinta dan benci, begitu tipis. Dan kau memilih untuk menyesali perasaanmu karena tak bisa membuang dua sifat itu dan malah tetap memberinya kepada Adimas.
.
__ADS_1
.
.
Kau menghela napas, menutup buku kumpulan foto yang belakangan hanya berisikan pigur dirimu, hanya semasa kecil saja ada antara dirimu dan Adimas berdampingan, namun setelahnya hanya ada fotomu dan tak ada satupun wajah kakakmu di dalam sana lagi, penuh dengan dirimu dan tulisan unik yang merupakan kerjaan kakakmu dulu. Sekarang kautahu, dia selalu menyayangi dan mencintaimu, bahkan rela mengorbankan nyawanya hanya untukmu yang tidak berguna ini.
Tanganmu bergerak mengambil foto saat kau kecil dan sedang dipeluk sang kakak, dan memasangnya di bingkai yang telah kau beli, lalu meletakkannya di atas meja belajarmu. Kalian terlihat tersenyum bahagia, dan sekarang kau pun membengkokkan bibirmu membentuk kurva dengan sorot kebencian di mata, dan kau memeluk buku kenangan dari kakakmu itu.
Antara dirimu dan Adimas, juga cinta dan benci. Itu yang kaupunya dan selalu kautangisi.
__ADS_1
.
Nuasana sekolah sedang ramai, tetapi tidak menghentikan langkah kaki tergesa sesosok pria dengan wajah menawan dan terkesan lebih muda dari usianya—sedang kebingungan dan celangak-celinguk mencari seseorang. Tubuh bersimbah keringat tak menghambat laju kakinya, ia Harata Hoshi—dengan cekatan terus mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru Sekolah Menengah Atas di kota Tokyo. Koridor demi koridor ia lewati, beberapa siswi tengah berdiri atau memasukkan buku ke loker pun terkaku karena melihat makhluk Tuhan menawan dan tiba-tiba menginjakkan kaki di sekola mereka.
Bisik-bisik siswi terdengar, menyerukan betapa kerennya sulung Harata yang sekarang tengah berwajah panik dengan poni ikal nyaris basah karena keringat. Menambah kesan hot pada lelaki berparas tampan dan baby face tersebut.
"Ck, ke mana perginya anak nakal itu?" tanyanya dengan suara yang menggeram, iris amber menelisik taja.
Ketika ia berbelok menuju sebuah lorong, pandangannya pun menangkap sesosok siluet seorang gadis yang sedang dalam keadaan duduk di lantai, dengan kedua kaki tengah menjulur. Harata Siera—nama sang Gadis, masih belum menyadari kalau kakaknya tengah mendekat dengan cara mengendap-endap.
__ADS_1