Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
24. Menghancurkan Hati


__ADS_3

Coba kaubayangkan, bagaimana perasaanmu saat kau melihat sesuatu yang amis itu, kental dan merah. Kau ketakutan, gemetaran dan merasa tak sanggup untuk menyaksikannya. Namun, kau tetap berada di sana, seakan terpaku dan tak bisa melakukan apa pun. Darah itu mengalir lagi, dari orang-orang yang kau kenal, kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kau yang ditakdirkan untuk bertahan sendiri, menyaksikan kepedihan ini, saat melihat orang-orang terkasih, keluarga, bahkan teman yang sudah melepas nyawa. Kehilangan hidup.


Tubuhmu kian bergetar, suara isakan tak bisa kau tutupi lagi.


"T-tidak, jangan ... ayah ... ibuku!" kau menggeleng-gelengkan kepala.


Kau yang memiliki rambut panjang yang telah memiliki noda darah yang mengering. Suasana riang dan bahagia yang tadi sempat terjalin, juga yang kaukira akan terus terjadi hingga kalian sampai di tempat tujuan, nyatanya berubah menjadi mala petaka.


Kalian berjumlah enam orang, yang sedang berniat pergi ke vila yang ada di dekat gunung, jaraknya cukup jauh dari rumah, kalian bernyanyi di dalam mobil, suasana liburan sangat terasa. Namun, entah bagaimana kejadiannya, mobil kalian tiba-tiba saja ditabrak sesuatu dan menyebabkan benturan yang sangat kuat hingga terperosok ke lereng. Mobil kalian berguling, yang di dalamnya pun sama, kalian berdoa dan menjerit. Tetapi, setelahnya kau tak tahu lagi apa yang terjadi, dan setelah beberapa saat kau terbangun, kau pun histeris melihat yang ada di depan matamu, darah. Semuanya ternodai cairan merah yang amis dan kehilangan nyawa.


Sarita menjerit lagi, dan terus berontak saat regu penyelamat mendatangi dan ingin menyelamatkan dirinya, yang satu-satunya masih bernapas.

__ADS_1


Saras tak pernah absen untuk beristirahat di siang hari, sebagai seorang siswi yang selalu pulang saat lewat jam makan, apalagi jarak sekolah yang cukup jauh, membuatnya merasa letih saat sampai di rumah. Tentu saja, setelah mencuci tangan dan kaki, menaruh tas di tempat semestinya dan mengganti pakaian, gadis dengan rambut yang masih terikat tinggi dan baju kaus bergambar stroberi pun langsung menghampiri meja makan, mengisi perut yang sudah sedari tadi keroncongan.


Dan tentu saja, setelah makan dan sejenak duduk, ia pun lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang penat, walau ada setumpuk tugas sekolah, Saras hanya meliriknya dan membantin dalam hati agar mengerjakannya di tempat les sore harinya.


Ia menelengtangkan tubuh di atas lantai yang beralas karpet berbulu, matanya mulai sayu dan beberapa saat setelahnya ia mulai mengeluarkan dengkur halus, bertanda sudah di bawa ke alam negeri jauh bernama mimpi.


Baru saja sekitar 10 menit ia bermesraan dengan mimpinya, Saras merasakan sesuatu yang aneh dan basah di dekat wajahnya.


Hingga, Saras merasakan lagi hal yang menganggu tidur siangnya.


Ia merasa seperti ada yang tengah menjilat wajahnya. Saras membuka matanya perlahan, dan benar saja, makhluk itu yang berada di depan wajahnya, sedang mengeluarkan lidah dan liur untuk menjilati kelopak matanya.

__ADS_1


"Huuuaaa! Manis, apa yang kamu lakukan!" kaget tentu saja, kucingnya yang satu ini memang benar-benar nakal, selalu saja menggangguk waktu tidur siangnya yang berharga.


"Ah, kamu ini!" yang tadinya mengantuk, lantas kembali cerah. Kantuknya sudah pergi dibawa oleh rasa terkejut.


"Meongg!" kucing putih berekor pendek itu kelihatannya ingin diajak bermain dan merindukan majikanan.


Saras pun membawa Manis ke pangkuannya dan mengelus bulu-bulu sehalus sutra.


 


 

__ADS_1


__ADS_2