Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
29. Di Sekolah


__ADS_3

Kenangan, itu adalah judul yang terngiang di benak Selena. Ia tahu bagaimana kehidupan mereka sebelum semua ini terjadi, Andrew yang dahulu adalah teman pertamanya, yang datang karena ia begitu sering diejek teman-teman sekelas ketika masih di sekolah dasar, kemudian mereka berteman dan menjadi akrab. Sampai di suatu waktu mereka berpisah, tidak bertemu lagi begitu lama.


Saat di jenjang Senior High School, Selena kembali berjumpa dengan sosok laki-laki itu yang telah remaja. Berbeda, dingin dan menyimpan seribu cerita di mata emerald yang menjadi kelam. Namun, Selena tetap mendatangi Andrew dan berharap bisa membalas budi laki-laki yang pernah begitu tulus menolong dan menjadi temannya.


Cinta Selena kepada Andrew tidak berubah, dari rasa suka biasa sosok anak kecil kepada teman lelakinya, menjadi begitu luar biasa ketika merasa Andrew begitu tertekan dengan keadaannya di saat remaja. Ia menjadi kekasih bagi leleki yang kehilangan kasih sayang itu, mencoba membawa dari derita keluarga.


Setelah mengalami pasang surut cobaan dalam berkekasi, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah walau tidak disetujui oleh Lucas. Di usia dua puluh satu, mengesampingkan sikap Andrew yang terkadang over dan seperti tidak suka Selana berbagi perasaan kepada siapa pun bahkan kakaknya sendiri. Ketika menikah, laki-laki itu semakin menjadi, kehamilannya membuat siapa saja yang mencoba mendekat Selena bahkan dengan bringas diancam atau dilukai.


"Kau harus menerima bahwa Andrew itu pria yang cacat logika!" seru Lucas yang begitu murka beberapa tahun silam, ketika ia mendapati suaminya berulah lagi ketika itu bahkan sampai terngiang jelas di telinganya.

__ADS_1


Hal yang selalu coba ia tutupi dari dunia, bahwa Andrew menderita trauma berat paska penyiksaan ayahnya sendiri, hingga menjadi seperti sekarang. Kematian Noah—Kakak Andrew, saat remaja memperparah segalanya.


"Andrew menderita gejala skrizopernia, Selena! Dia bahkan terobsesi kepadamu, begitu ingin memilikimu karena telah kehilangan segalanya, termasuk orang tua yang tidak peduli, juga kakak laki-laki yang selalu menjadi panutannya!"


Kembali teriakan Lucas begitu terngiang, ia memahami bagaimana khawatiran sang kakak saat itu, mereka juga telah kehilangan sosok ibu, bahkan hingga dua tahun setelahnya sang ayah yang berjuang dengan penyakitnya akhirnya tiada menyusul ibunda mereka.


"Tidak ada yang akan percaya kepada orang gila, bukan, Selena?"


Itu adalah kata terakhir yang diucapkan Andrew sebelum resmi bercerai dengan dirinya. Laki-laki itu bukannya tidak memiliki hati, tetapi sulit mengontrol logika dan emosinya. Selama mereka menikah, memang ia tidak pernah disakiti secara fisik oleh mantan suaminya, tetapi psikisnya yang tersiksa.

__ADS_1


Ketukan pintu terdengar, khayalan Selena mengenang kisah masa lalunya lantas menghilang. Ia pun menghapus air mata dengan tisu dan bangkit untuk membuka pintu. Ketika melihat siapa yang datang, alisnya pun berkerut.


"Maaf, Senior. Aku telah mengatakan agar menunggu, tetapi dia memaksa masuk karena mengatakan telah lama menganalmu." Lea tersenyum dengan wajah yang begitu merasa bersalah.


Menghela napas, Selena pun menganggukkan kepala seraya mengatakan tidak masalah. Menyuruh lelaki itu masuk dan duduk di sofa yang tersedia di dekat jendela dan agak berjauhan dari tempatnya bekerja. Ia lantas membuka celemek dan mencuci tangan, merapikan beberapa bagian rambut dengan menyisir dan membasuh wajah agar lebih segar. Keluar dari kamar mandi, Selena menatap sejenak laki-laki yang duduk santai sambil memainkan ponsel.


"Jadi, Jhon. Hal penting apa yang membuatmu sampai datang ke tempat kerjaku?"


Selena mengambil sebuah mimunan kaleng dan melemparkannya kepada lelaki itu, di jam makan siang ini apakah Jhonatan sengaja datang ke sini di sela-sela waktu istirahatnya.

__ADS_1


__ADS_2