
Wanita itu tidak mau dibuatkan teh atau minuman hangat lain, dirinya malah meminta air mineral saja. Tidak ingin membuat Selena repot sepertinya.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Selena. Kau bisa menceritakan apa yang kau mau dan kau anggap mengganjal di hatimu. Mungkin walau aku tidak banyak membantu nantinya, kau setidaknya akan merasa lega karena telah mengutarakan beban hatimu."
Karin dengan santai meneguk langsung air mineral dari botol, menatap wanita yang lebih muda satu tahun darinya yang tengah menghela napas dan memijat kepala sebentar.
"Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri, Karin. Di satu sisi aku benar-benar mengkhawatirkannya, tetapi di satu sisi yang lain aku harus tegas kepada dirinya dan juga diriku."
Ia terdiam sejenak, Karin sama sekali tidak menjawab pernyataannya itu.
"Siera menginginkan keberadaan Andrew, aku takut di suatu waktu anakku akan melihat papanya di saat sedang menyakiti orang-orang secara tiba-tiba. Mungkin, saat ini Andrew masih bisa mengendalikan dirinya, tetapi rasa waswas membuatku benar-benar tertekan."
Selena merasa tubuhnya mulai bergetar, air matanya menggenang. Bagaimanapun ia sedang dihadapkan dalam kondisi yang begitu sulit untuk dipilih, semuanya berisiko.
Mengambil napas sejenak, Selena melanjutkan kisahnya, mengutarakan apa yang menjadi beban hati selama ini. Karin terus mendengarkan, matanya yang cokelat terang kini menatap fokus sang wanita yang mencoba menegarkan diri. Setelah dirasa selasai, Karin memberikan teh hangat yang ada di teko, Selena memang tadi membuatnya. Ia menuangkan dan menyuruh agar adik kekasihnya itu menenangkan diri sejenak sembari menyesab teh hangat agar pikirannya rileks.
Setelah tampak lebih baik, Karin mulai menanyai bagaimana persaan Selena setelah menceritakan curahan hati tersebut.
"Aku merasa bebanku agak berkurang."
"Yang kau butuhkan saat ini memanglah seorang pendengar yang baik, Selena. Aku tidak bisa banyak berkomentar, sebab aku tidak mengenal baik bagaimana Andrew itu. Kau tahu aku hanyalah orang baru di kisah ini. Namun, aku menyarankan agar kau cepat mengambil keputusan, dan memikirkan masak-masak ke depannya harus bagaimana."
__ADS_1
Wanita itu mengerutkan alis, mendengera nasihat dari Karin.
"Selama ini aku mendengar sesuatu yang kurang mengenakkan tentang Andrew, kutahu yang lebih tahu adalah kau, Selena. Jadi, kalau memang kau ingin kembali bersama Andrew demi Siera, kau harus tahu konsekuensinya. Bahwa mantan suamimu belum sembuh seratus persen, ada kemungkinan-kemungkinan seperti yang kau ceritakan. Namun, jika kau memutuskan untuk berpisah, maka jangan biarkan Andrew terlalu dekat denganmu atau Siera."
Ya, Selena memahami kenapa Karin mengatakan hal sedemikian. Sebab, Andrew memang tidak berbahaya jika bersama mereka, laki-laki itu akan cenderung menjauh ketika merasa ada yang tak beres terjadi pada diri sendiri. Namun, Andrew bisa berubah bengis jika melihat orang lain tiba-tiba menyakiti Selena atau Siera, baik sengaja atau pun tidak. Bahkan di suatu waktu, Andrew bisa tidak membiarkan Selena untuk tidak menatap yang lain.
Mungkin akan tiba saatnya, di mana Andrew memilih siapa yang lebih penting antara dirinya dan Siera. Ketakutan tiba-tiba datang, tubuh Selena kembali bergetar hebat, sebelum tiba-tiba saja dirinya disadarkan oleh Karin.
"Selena, apa yang kau pikirkan hingga seperti ini?"
"Aku... aku takut, bahwa Andrew akan memilih salah satu di antara kami, Karin."
Bola mata cokelat terang itu membelalak, kemudian wanita itu mengertukan alis dalam.
"Andrew bilang dia telah melakukannya dan masih mencoba agar bisa sembuh, tetapi yang aku dapati dia selalu mengambil kesempatan dengan melibatkan Seira."
Karin tidak bisa mengatakan apa-apa, dia takut mengatakan sesuatu yang tidak semestinya dan malah berakibat fatal.
"Dengar, tentang Andrew, kau lah yang paling tahu tentang dirinya, Selena. Maka dari itu, mungkin kau harus memberinya waktu, seperti katamu mungkin saja memang ia telah berubah, kita jelas belum bisa memutuskan sesuatu kalau belum menemukan sesuatu pula, bukan? Untuk dirimu, dengarkan isi hatimu, Selena. Mungkin, yang paling tepat untuk memberimu nasihat tentang masalah ini adalah seorang ahli, psikologi maksudku."
Tersenyum kecil, Selena mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih, Karin. Dengan begini saja kau sudah cukup membantu. Benar, mungkin aku memang harus berkonsultasi, begitu juga dengan Andrew."
Benar, Andrew sedang berjuang untuk sembuh, bukan. Kenapa dia tidak mendukung, tetapi malah menghakimi bahwa tindakan yang laki-laki itu lakukan menunjukkan bahwa dia tidak berubah. Seharusnya dia bersabar, mungkin saja Andrew yang dulu akan kembali.
Senyuman lelah tergambar di wajah Selena, kembali bertanya-tanya, benarkan Andrew akan kembali seperti dahulu? Mata emerald yang bersinar menunjukkan kehangatan, bukan rasa sakit, kecewa, begitu dingin dan kelam.
.
.
.
Bersambung
Sudah lanjut, duhhh semakin pelik nih. Semoga suka ya, kisah ini gak terlalu panjang kok sebenarnya. mungkin 15 chapter dah tamat hehe.
Mohon kasih komentar dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1