Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
6. Motivasi


__ADS_3

 


 


Memperhatikan sejenak cincin yang telah diletakkan di dalam kotak, kepala Selena menoleh ketika telah mendapati Andrew masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Alisnya pun mengerut seketika, tentu saja hal sedemikian tidak sopan bagi tamu seperti sang lelaki.


"Ada apa?"


Tidak menjawab pertanyaan Selena, Andrew malah melangkah dan ikut duduk di samping si empunya rumah. Ikut menatap kotak cincin yang kini telah ditutup oleh jari mantan istri Andrew.


"Siera bilang kepadaku bahwa kau ingin mencarinya papa baru, jadi benar kau menerima laki-laki itu?"


"Andrew, bisakah tidak terus-terusan mengorek urusan pribadiku?"


"Ini berkaitan dengan Siera, Selena. Kenapa kau tidak bisa...."

__ADS_1


"Baik, aku tidak pernah menerima perasaan Jhonatan, mengerti." Selena tentu berusaha sabar, ia sampai memejamkan mata beberapa kali karena Andrew begitu keras kepala.


Memijat batang hidungnya sebentar, Selena tidak tahu kalau Andrew menyeringai kecil sebelum mengembalikan ekpresi seperti sedia kala.


"Kalian berpacaran, bukan?" mendapati pandangan tak suka Selena, laki-laki itu menambahi. "Siera yang mengatakannya kepadaku."


Hela napas kembali dikeluarkan untuk menahan gejolak emosi karena Andrew terus-terusan bertanya tentang masalah ini.


"Baiklah, kalau kau tidak mau menjelaskan, setidaknya aku telah paham." Berdiri, Andrew kemudian menaruh kedua telapak tangan di dalam saku.


Selena pun melakukan hal yang sama, ia mendekati lemari dan menaruh cincin di dalam laci sebelum menguncinya kembali. Menatap Andrew yang berada di depan pintu, ia pun mendekat dan berdiri di sampingnya.


"Hari ini aku mengambil cuti, kalau kau belum tahu."


Melangkah menuju kamar sang putri, Andrew pun membuka pintu dan membiarkan Selena di luar sana yang masih menatapnya. Beberapa saat kemudian, seperti yang ia duga, wanita berusia tiga puluh dua tahun itu datang dan berdiri di belakang punggunggnya. Andrew sedang memasangkan sebuah kalung berbandul hati dengan hiasan permata merah di tengah-tengah kepada anaknya, kemudian ia berdiri dan memberikan benda yang sama kepada Selena, tetapi berbandul bunga cosmos.

__ADS_1


"Kau tidak menerima perasaannya, tetapi menerima hadiah darinya. Aku juga akan melakukan hal yang sama, dan aku tidak menerima penolakan untuk yang satu ini, Selena."


Mengerutkan alis, Selena kini hanya terdiam, menatap kalung berliontin kelopak bunga cosmos di tangan Andrew. Tidak bergerak untuk beberapa saat, tetapi dengan ragu telapaknya mengambil hadiah dari lelaki itu.


"Terima kasih," ucap Selena ragu, ia lantas melihat senyuman Andrew yang begitu manis dengan kedua mata nyaris menyipir, tetapi terlihat palsu.


.


.


.


Andrew memutuskan untuk pergi, tetapi ia akan kembali sore nanti karena tahu pasti putri kesayangannya akan bersedih dan menangis karena mencari-cari keberadaannya. Untuk itu, kali ini ia membiarkan sendiri agar bisa berpikir jernih, menerimanya demi anak mereka atau tetap kukuh dengan keinginan wanita itu untuk hanya membiarkan dirinya datang beberapa kali dalam sebulan saja.


Mengendarai mobil, Andrew melihat seseorang yang duduk sendrian di sebuah kafe di pinggir kota dekat dengan lampu merah. Ah, ada yang datang dan itu adalah seorang lelaki yang selalu mengahalang-halangi kedekatannya dengan Selena dan Siera.

__ADS_1


Memutuskan untuk membelokkan mobil dan memarkirkannya di dekat kafe, Andrew keluar dari mobil dan memasuki ruangan kafe, Andrew berjalan ke arah meja yang ditempati dua orang tersebut.


"Selamat siang, Bung."


__ADS_2