Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
22. Embun Lensa


__ADS_3

"Kau terlihat tak bersemangat, Nak?" suara ibumu membangunkan dari dunia khayalmu dan mengingatkanmu tentang surat yang masih tersimpan rapi di dalam amplop dan tas sekolah.


"Ibu, bolehkah aku tidur dipangkuanmu?" senyuman orang yang paling berjasa dalam hidupmu itu, membuat keadaan kacau yang kaurasakan menjadi lebih baik, kau pun mendekat dan mulai merebahkan diri di lekukan paha ibumu. Merasakan belaian tangan lebut yang selalu membuatmu tentram.


Seperti yang kaukira, suara ayahmu menggelegar di heningnya malam, dia terlihat murka dan itu semua karena ulahmu. Menambah satu hal lagi yang membuat ayahmu memandang sebelah mata terhadap dirimu. Panjang lebar ceramah kaudengar dengan wajah dingin yang merupakan khasmu, menjawab sesekali dan meminta maaf, namun tak membuat segalanya menjadi lebih baik. Ayahmu kembali membandingkanmu dengan sang kakak, saat lelaki yang lebih dewasa itu baru saja masuk ke rumah dan melihat pertunjukan ini. Telinga dan hatimu terasa panas, membakar dan seperti dihujam. Kau mencoba menahannya dengan menggenggam tanganmu sendiri, hingga membuat luka yang menimbulkan bercak merah di kemeja biru yang kaukenakan.

__ADS_1


"Ayah, jangan marahi Sandi lagi. Sebaiknya kita," telingamu semakin ingin pecah, saat kakakmu Adimas membelamu lagi. Namun, dengan tegas ayahmu langsung memotong perkataannya.


"Jangan selalu membela dan memanjakannya, dia tumbuh menjadi pengecut." Gigimu gemeletukkan dan tubuhmu bergetar, air mata pun menggenang, namun kau berusaha menahan semuanya, dan terus diam bagaikan seonggok batu.


Hingga hampir tiga jam, barulah kau disuruh pergi ke kamarmu, dengan kakakmu yang mengikuti dari belakang, namun sebelum dia memanggil namamu, kau sudah berlari dan menutup pintu sekencang yang kau bisa, hingga mungkin saja tembok bisa retak.

__ADS_1


Kau sama sekali tak tahu, kalau kakakmu masih berdiri di depan pintumu yang tertutup dan menjadi penghalang bagi interaksi kalian, kau tak tahu kalau kakakmu begitu menyayangimu hingga merasakan sakit saat ayah membentakmu tadi. Dengan rasa khawatir, Adimas mengetuk pintu kamarmu dan memanggil namamu dengan lembut, namun semua itu bagai angin lalu bagimu, kau terlalu acuh dan berdoa agar sesegera mungkin Tuhan mencabut nyawa kakakmu, agar kau menjadi satu-satunya di rumah ini dan tak dibandingkan lagi.


Kau seharusnya tertawa, bersyukur, dan memuji keagungan Tuhan, karena kau mendapati keinginanmu dikabulkan-Nya. Namun, sekarang kau malah seperti anak anjing yang kehilangan induk, kau meraung, mengais simpatik dari keluargamu, mengemis agar dokter mau menyelamatkan nyawa kakakmu, karena bagaimana kau membencinya, cinta itu tetap ada di hati kecilmu. Tubuhmu tetap gemetaran saat kau membawa tubuh kakakmu yang bersimbah darah dalam pelukanmu, kau menyaksikan kakakmu tersenyum karena bisa melidungimu dari ancaman orang-orang yang memiliki dendam denganmu.


Kau tak tahu kenapa akhirnya begini, kau pulang sekolah seperti biasa, dan saat melewati gang sepi yang selalu menjadi jalan pintasmu, kau dihadang beberapa orang yang cukup kaukenal dan yang tak kaukenal, mereka mengeroyokmu seperti pecundang, tentu saja tenagamu tak bisa membandingi delapan orang yang mengepungmu, hingga saat itu kau melihat Adimas datang, dan membantumu walau kaumuak dengan senyuman kakakmu.

__ADS_1


Kalian bisa mengimbangi orang-orang itu, karena kakakmu adalah lelaki dewasa yang cukup menguasai bela diri. Diujung kemenangan yang tinggal selangkah lagi, tiba-tiba kau melihat kakakmu mendorong tubuhmu kuat, dan menggantikanmu dipukul batu beton yang kini menghantam kepala belakang kakakmu, oniks hitam yang kaupunya membulat dan orang-orang itu ketakutan saat cairan merah kental keluar seperti batu bendungan yang perlahan retak. Bau amis menguar, dan anak-anak SMA yang kau ketahui juga bersekolah di tempat yang sama denganmu berhamburan menghilangkan jejak.


__ADS_2