
Malam. Sunyi. Gelap.
Betapa aku mencintai ini semua, di saat matahari mulai turun dari singgah sananya. Saat kuasanya digantikan oleh bulan. Aku sangat menyukainya.
Udara dingin terasa saat aku menghirup napas di balik jendela, menyegarkan, embun dan kabut yang semakin turun dan jalanan yang semakin sunyi kala itu, menjadikanku sangat terpesona dengan kemisteriusan malam.
Betapa aku mengagumi salah satu ciptaan Sang Pemilik Alam.
Namun, semua ini karena aku juga memujamu, hai pria misterius yang sudah kehilangan senyum.
.
.
__ADS_1
.
Rambut keriting Safia berkibar, karena ditiup angin malam yang mencoba menggodanya dengan usil, jemarinya yang berkuku panjang pun menyisir rambut-rambutnya yang termakan bujukan angin. Matanya yang memiliki iris cokelat menatap seorang pemuda yang berdiri di simpang jalan. Rumahnya atau lebih tepatnya kamarnya memang mengarah langsung ke badan jalan, ia dapat menyaksikan siapa saja yang berada di tempat menunggu bus, dan saat malam adalah waktu yang menjadi primadonanya, ia bisa menyaksikan lelaki yang dulu merupakan teman kecilnya, namun telah berubah saat beranjak dewasa, semenjak kakak perempuan lelaki itu meninggal dunia.
Laki-laki itu sepertinya baru saja pulang bekerja, setiap hari dan tak kelihatan lelah, dengan wajah nyaris tanpa ekspesi dan tampan, juga kulit yang pucat entah karena kedinginan atau memang bawaan tubuhnya. Lelaki itu memakai topi rajut di atas kepalanya.
"Samuel," bisik Safia pada dirinya sendiri.
Lelaki seindah malam yang selalu dipujanya, namun tak juga disapa.
"Kautahu, Caisha. Aku mendengar rumor kalau di hutan Darkness didiami kumpulan vampir dan serigala jejadia."
Dua orang gadis sedang bercerita, gaun mereka yang panjang harus terlipat karena sekarang mereka tengah duduk di alas karpet dan mengupas sekeranjang apel untuk dijadikan sari apel. Tangan-tangan ramping itu sangat lincah dalam mengerjakannya, terutama Molly yang juga asik berceloteh tentang rumor yang beredar di desa. Sementara itu, Caisha hanyamenganguk. Gadis dengan rambut yang disanggul anggun dan kepirangan lurus itu menatap temannya dengan pandangan tak yakin, bola matanya yang biru terlihat jelas menyipit.
__ADS_1
"Itu hanya rumor atau dongeng, malah. Nyatanya, tak ada yang pernah menyaksikan itu dan hanya ketakutan terhadap hutan yang dinamai Darkness, konyol." Ia mengembus napas jengah, tak percaya.
Namun, tidak dengan temannya yang sekarang malah memberinya bukti-bukti, seperti banyaknya orang hilang jika ingin memasuki Darkness.
"Tentu saja, aku juga akan hilang jika memasuki Darkness, aku sama sekali tak tahu jalan." Ia benar-benar tak mau menghabiskan waktu untuk meladeni temannya ini, maka ia pun mengambil apel-apel yang sudah terkupas dan memberikannya kepada sang bunda.
"Ok, Mom. Kami selesai, aku ingin beristirahat."
Caisha dan Molly sangat akrab, mereka selalu besama sepanjang waktu. Namun, untuk sekarang ini ia benar-benar tak ingin mendengarkan apa pun tentang lelucon hutan tersebut. Lagipula, hutan itu terlalu jauh dari desa mereka, butuh waktu tiga hari untuk mencapainya dengan kuda. Walau dalam arti lain desa mereka yang paling dekat dengan Darkness.
Setelah melihat Molly pulang sambil mengeluh karena usiran tak langsungnya, Caisha pun menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang empuk, ia memejamkan mata dan tertidur selama beberapa saat.
Entah Caisha merasa tak ada yang mau membangunkannya, atau memang ia yang ketiduran telalu lama, saat terbangun dirinya merasa lelah dan karena itu ia menyentuh bagian matanya beberapa kali, guna ingin menjernihkan penglihatannya.
__ADS_1
Dan saat itu ia sadar, kalau ini bukanlah kamarnya.