Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
4. Kenangan


__ADS_3

Memejamkan mata sejenak, kemudian Andrew mendengkus lucu, membuat dalam sekejab Lucas mengerutkan alis kesal.


"Kasar sekali, bukan?" tanya Andrew, matanya menatap bunga yang ada di dalam vas di tengah-tengah meja, tangannya juga ikut memainkan kelopak hingga salah satunya tercabut.


Andrew lalu melemparkan kelopak bunga, dan berjatuhan lah mawar merah di atas meja.


"Selena adalah seorang wanita yang diberkahi dengan kebaikan hati, dan walau kami telah resmi bercerai, kau yang paling tahu dia seperti apa, Lucas. Sementara Siera, dia menginginkan keberadaanku dan aku pun akan dengan senang hati untuk terus bersamanya... karena dia adalah anakku."


"Kau memanfaatkan mereka, Andrew." Lucas menggeram, tangannya mengepal dan ia begitu ingin menonjok kepala laki-laki beramata indah bak emerald itu.


"Aku ini masih seorang manusia, jangan memandangku seperti iblis, Lucas." Tertawa kecil, sekarang lelaki itu berterima kasih kepada pramusaji, kemudian meminum kopi hitam tanpa gulanya.


Tidak ada tanggapan, laki-laki yang kini berwajah datar dan asik menyantap kue keringnya pun menyandarkan punggung di kursi.


"Ah, ya. Aku mulai malam ini akan tinggal di rumah Selena," jelas Andrew.


Tersenyum tipis, ia lantas berdiri dan melangkah pergi setelah mengucapkan sampai jumpa kepada lelaki yang duduk di kursi sambil mengetatkan rahang karena menahan kemarahan. Napas Lucas menderu, tangannya mengepal dan ia pun mencoba mengendalikan kemarahan yang begitu membara di dada.


Benar-benar tidak habis pikir, padahal ia sudah berkata kepada Selena agar memikirkan terlebih dahulu keputusan yang ingin diambil, tetapi malah menerima Andrew tinggal di rumah. Kepalanya mendadak terasa berasap karena kembali merasa murka, mengambil ponsel di saku, ia pun berniat menekan nama sang adik di layar, tetapi beberapa saat kemudian ia urungkan.


Lebih baik langsung menjumpai Selena sekarang, lagi pula memang itu tujuannya untuk menjengung Siera yang sekarang telah pulang dari rumah sakit. Cuti yang ia ambil hanya tinggal beberapa hari lagi, setelahnya Lucas akan kembali bekerja di luar kota. Kalau seperti ini, adiknya bisa semakin terperangkan bersama laki-laki kurang ajar itu.

__ADS_1


Langsung pergi, ia tak lupa memberikan beberapa oleh-oleh dari kafe untuk keponakannya. Mengendarai mobil dan menuju rumah Selena.


Di dalam benak masih berpikir, kalau saja saat itu Selena mau diajak pindah ke rumahnya yang berada di luar kota, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.


Menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit lebih, Lucas pun sampai dan langsung turun, ia melihat Selena yang telah berada di depan pintu menunggu seperti pesan singkat yang ia berikan setelah keluar dari kafe.


Tersenyum kepada dirinya, Lucas pun menghampir sang adik dan memeluk sejenak, ia memberikan sebuah kue yang dibelinya tadi dan langsung berajak menuju kamar sang keponakan. Sebuah bungkusan cukup besar membuat alis Selena naik dan menggelengkan kepala kepada Lucas.


"Siera sedang istriahat? Aku tidak mengganggu kan?"


"Tidak, Siera baru saja bangun satu jam lalu. Dia sedang bermain dengan hadiah Karin."


Mengetuk pintu kamar Siera, Lucas lantas mendengar suara gadis kecil itu meneriakinya untuk masuk. Membuka pintu, ia tersenyum sesaat sebelum melangkah dan ikut memberikan sebuah oleh-oleh lain.


"Wah, kau suka sekali boneka kelinci, ya?" telapak tangan Lucas mengelus kepala Siera, rambutnya agak kusam karena belum diperbolehkan membasuh kepala.


"Tentu saja, kelinci sangat manis dan seperti tidak bosan untuk dipeluk."


Tertawa kecil, kembali Lucas mengacak rambut Siera karena gemas.


"Paman, sudah dong."

__ADS_1


"Maaf, maaf. Kau juga sangat manis, Siera."


"Tentu saja, aku kan anak mama dan papa." Teringat sesuatu, Siera pun menceritakan hal ini kepada pamannya. "Paman, tahu tidak. Papa dan mama akan tinggal bersama lagi, aku begitu senang sampai rasanya mau berteriak kencang sambil tertawa."


Gadis kecil itu mengguncang-guncangkan boneka kelinci yang ada di pelukannya, sesekali memeluk gemas dan menjatuhkan wajah di atas kepala kelinci.


Menghela napas, Lucas tersenyum kecil, sekarang ia sadar bahwa begitu sulit bagi Selena untuk mengambil keputusan. Harapan Siera dan kebahagiannya lah yang membuat sang adik rela melakukan apa saja.


.


.


.


Bersambung


Haloooo, chapter tiga sudah up nih hehheheh.


Ok, Erza tunggu tanggapannya ya, jangan lupa vote dan komen. Lucas dan jumpa sama Andrew hehehe.


 

__ADS_1


 


__ADS_2