
Desahan malas tersembus dari bibir, hal ini memang selalu terjadi, tetapi untungnya hanya malam hari saja di saat purnama. Setelahnya, tubuhnya akan kembali seperti biasa. Rambut hitam panjang indah, matanya yang gelap dan kecokelatan, bibir kemerahan dan tidak ada taring dan kuku hitam yang tumbuh secara mendadak. Yang paling mencolok, aura pelindung itu akan menghilang untuk sebulan kemudian.
Mencoba untuk merileksasikan diri, Siera pun berdiri dan merenggangkan otot. Besok ia akan berangkat ke sekolah baru yang sama sekali tidak ia sukai dan setujui untuk menimba ilmu di sana, tetapi berkat kelicikan kakak-kakaknya, ia akhirnya sekarang telah resmi terdaftar.
"Haaah, kenapa juga aku harus repot ke sekolah baru, kalungku juga masih disita sang Baby Face Mesum itu. Dasar menyebalkan."
Melihat ranjangnya yang menggoda, Siera langsung menjatuhkan tubuh sehingga kasur itu mengenjot beberapa kali. Tatapan matanya berpupil rubi itu sekarang mengarah pada langit-langit kamar, memperhatikan ukir bunga-bunga di sana, bibirnya mengerucut dengan alis mata berkerut tajam karena memikirkan cara apa yang harus dilakukan untuk mengerjai Hoshi.
__ADS_1
"Apa aku mogok sekolah saja, ya? Kelihatannya menyenangkan membuatnya kesal." Seringai tercetak di bibir, dalam hati mengiyakan rencana yang akan dilakukanya besok. Yaitu membuat kakaknya repot dan susah karena ia akan mogok untuk ke sekolah. Siapa peduli dengan sekolah bodoh itu 'kan?
Gadis itu pun memutuskan untuk tidur dan meraih negeri abstrak bernama mimpi, beberapa saat setelahnya, tubuhnya yang terlentang dengan boneka panda di pelukan telah nyenak dengan napas yang teratur.
Sejam setelahnya, pintu kamar merah muda dan selalu tidak dikunci pun terbuka karena dimasuki oleh seorang lelaki dewasa, sekarang tengah melangkah mendekat ke arah si gadis. Pandangan mata yang sering terlihat sangar dan tegas, walau berwajah imut diusia cukup matang, kini terlihat tersenyum sekilas dengan sorot mata sedih.
Ingatannya kembali ketika sang Adik ketika baru petama kali dilahirkan, tidak seperti Sanosuke yang diterima dengan baik, Siera selalu mendapatkan pengecualian dan sangat tidak pantas untuk dilakukan. Gadis itu tumbuh tanpa kasih sayang, apalagi semenjak ayahnya meninggal dunia. Sang Mama selalu kelihatan ketakutan saat berdekatan dengan Siera, hingga ingatan paling kejam itu mengalir begitu saja di kepala Hoshi.
__ADS_1
Mendesahkan napas, tatapannya memejam, air mata tiba-tiba mengalir di pipi. Sungguh Siera hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua. Apalagi ibunya membenci adiknya begitu dahsyat. Hingga gadis di sampingnya ini, yang tertidur bak malaikat pun selalu sedih ketika melihat anak-anak bercengkerama dengan ibu mereka. Siera bahkan tidak terlalu ingat saat-saat dia bersama sang Mama, jika saja bukan Hoshi yang mengarang berbagai cerita—tentang ibunya yang sakit parah dan harus selalu dirawat intensif bahkan tidak boleh dijenguk sembarang orang selama bertahun-tahun, mungkin Siera akan membenci Ibu yang telah menelantarkannya.
"Mungkin, sudah saatnya nanti Siera bertemu dengan Mama. Kuharap dia telah melupakan masa-masa sulit keluarga kita, ya." Tangannya mengelus ke helaian rambut yang bak darah. Kembali ditatapnya sang Adik, kemudian ia berdiri dan tersenyum karena memikirkan mungkin akhirnya Siera bisa merasakan kasih sayang sang Mama. Semoga saja, nanti akan tercapai dan baik-baik saja. Lagi pula, hal ini terjadi sudah cukup lama, semenjak Siera berusia balita.
Keluar dari kamar, Hoshi kembali ke ruangan kerjanya, banyak dokumen yang belum ia periksa karena hari ini cukup melelahkan, berurusan dengan adiknya yang keras kepala membuatnya merasa lelah bukan main. Sekali lagi, desah napas ia keluarkan, rasanya ingin segera berlabuh ke alam mimpi, tetapi kenyataan terlalu banyak urusan kantor yang belum ia selesaikan membuantya mendecak kesal.
"Sabarlah, sabarlah." Mendengus, ia langsung memasuki ruang kerja sambil sesekali mengumpati kerjaan yang tiada habisnya ini.
__ADS_1
"Sepertinya aku butuh liburan untuk cuti, astaga."