
Hari-hari paling sibuk bagi Selena telah usai, ia memutuskan untuk istirahat sehari setelah pameran selesai. Esoknya, bersama Andrew dan Selena, ia mengantar Marcus ke bandara, lelaki itu akan kembali ke Jepang dengan Jully pada pukul tiga sore.
Keberangkatan kurang lebih setengah jam lagi, wanita itu memeluk Selena dan mengatakan terima kasih karena bersedia berjumpa dengan dirinya.
Jully menatap Siera yang berada di gendongan Andrew, wanita itu lantas mengusap kepala si gadis kecil dan berpamit, ini kali kedua mereka bertemu. Kemarin malam, Jully dan Marcus datang berkunjung ke rumah mereka. Gadis kecil itu terlihat senang karena diberikan hadiah kesukaan.
"Sampai jumpa, Bibi Jully. Dahh! Paman Marcus." Si gadis kecil melambaikan tangan kepada Marcus yang tersenyum sambil menarik dua koper.
"Ingat, kapan-kapan kalian harus main ke Jepang."
Setelah berpisah, Siera memeluk papanya, membayangkan entah kapan memiliki kesempatan lagi untuk bertemu dengan kedua orang yang mengasyikan itu. Ia pasti akan merindukan mereka berdua.
Setelah berpisah, mereka memutuskan untuk kembali, rencananya hari ini Selena ingin menghabiskan hari bersama anaknya, gadis kecil itu pasti senang.
Sebelum pulang, Selena memutuskan untuk berbelanja. Singgah ke swalayan terdekat yang tidak jauh dari rumah, wanita itu bersama Siera dan Andrew melangkah sambil memilih bahan makanan. Malam ini, ia ingin membuat menu baru yang didapat dari internet.
Memilah sayur dan daging, setelah itu Siera menarik mereka ke rak camilan. Tersenyum lebar, Siera meminta beberapa makanan manis yang tersaji di dekatnya. Cokelat dan permen menjadi incaran, tetapi Selena mengingatkan agar jangan terlalu sering memakannya, dan tidak mengizinkan si putri tercinta menghabiskan semua itu dalam satu waktu.
"Tapi kan enak, Ma?" tanya Siera mencari-cari alasan.
"Tidak boleh, Sayang. Kau bisa sakit gigi kalau makan yang manis-manis sebanyak itu." wanita muda itu memberikan nasihat.
Si gadis kecil pun mendesah pasrah, padahal sudah membayangkan bisa melahap semua cokelat sekaligus.
"Lagi pula, putrinya papa ini sudah sangat manis." Andrew memujuk, kemudian menggendong anaknya, dan memberikan ciuman di pipi. "Kan, rasanya manis."
"Huuuuuhh!" seru Siera menunjukkan tangan dengan jempol terbalik, tidak terpengaruh dengan pujian sang papa.
Tertawa kecil, Andrew hanya mengendikkan bahu dan menatap Selena yang tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Setelah membayar dan menuju mobil di parkiran, mereka sampai di rumah pukul enam sore. Wanita itu lantas menyuruh Siera dan Andrew untuk mandi, sedang ia berkutat di dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Beberapa saat kemudian, makan malam pun usai dan mereka telah menidurkan Siera, kemudian ia dan Andrew memutuskan untuk menuju kamar masing-masing setelah mengucapkan selamat malam. Selena kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian dengan gaun tidur putih, kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang. Menghela napas karena cutinya berjalan sempurna, ia tersenyum kecil karena melihat senyuman Siera yang riang sepanjang hari, bahkan ketika menjelang tidur.
Namun, tiba-tiba saja Selena mengingat janjinya dengan Jhonatan di esok malam.
Walau mata Selena telah terpejam, tetapi tangannya bergerak untuk memijat pangkal hidung. Itu semua karena ia memikirkan bahwa akhir pekan nanti sudah berjanji akan mengabulkan satu keinginan Jhonatan yang terakhir kali.
Menghela napas, mata Selena menatap jendela yang tirainya sengaja ia buka, perlaha-lahan dapat dipandang bulan yang tertutup oleh awan, sinar sang dewi malam yang seharusnya masuk ke jendela, kini telah menghilang. Kelopak berkedip lambat, mata sang wanita yang keabuan mulai terlilah sayu, beberapa saat kemudian, Selena lantas memejamkan mata sampai tersentak kecil karena alarm jam telah berbunyi. Secepat itu pagi hari tiba, dan aktivitas kembali dikerjakan.
Berada di meja makan dengan Andrew dan sang putri, Selena lantas mengerutkan alis karena tidak melihat lelaki itu telah berpakaian rapi seperti biasa. Apakah Andrew tidak masuk kerja? Tahu dengan kebingungannya, Andrew pun menjelaskan bahwa hari ini ia ada jadwal ke tempat Annalise.
Tentu Selena tahu siapa si pemilik nama, itu adalah psikiaternya Andrew.
__ADS_1
"Annalise itu siapa?" tanya Siera, gadis kecil itu menatap Andrew dengan pandangan teramat ingin tahu, tetapi menurut sang lelaki lebih kepada arah ingin menyelidiki.
"Rekan kerjaku, Princess."
"Oh, kalau begitu Papa hari ini mengantar Siera, kan?"
Anggukan terlihat, si lelaki lantas mengusap kepala anaknya dan menyuruh agar Siera menghabiskan sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.
Gadis kecil itu tersenyum lebar, menunjukkan bahwa isi mangkuknya telah kandas.
Menegakkan tubuhnya, Selena lantas melangkah mendekati sang putri, memberikan ciuman di kepala gadis kecilnya, di pipi kanan dan kiri dan memberikan kecupan di bibir, keduanya pun tertawa kecil.
"Tidak mengecup papa?" tanya gadis kecil itu ketika Selena ingin melangkah pergi.
Memikirkan senjenak, Selena lantas tersenyum dan mendekati Andrew, lelaki yang masih duduk di kursi kini menaikkan sebelah alisnya dengan kedutan yang menghiasi bibir, mendengkus lucu. Mendekatkan kepalanya, Selena mengecup dahi Andrew, membuat Siera menutup wajah karena malu, tetapi mengintip dari celah jari-jari tangan.
"Baiklah, Mama berangkat dulu," ujar Selena setelah memberikan apa yang putrinya inginkan, kemudian melangkah sambil melambaikan tangan dan tawa kecil yang menyertai.
Beberapa saat setelah Selena pergi, Andrew lantas mengandeng tangan anaknya untuk lekas diantar ke sekolah.
.
.
.
Duduk di jok, Selena lantas menyandarkan tubuh dan mengatakan kepada lelaki itu bahwa ingin tidur sejenak. Pikirannya agak berkecamuk, itu juga yang membuat salah satu alasan tidak ingin menyetir.
"Andrew, bangungkan aku jika telah sampai."
"Baiklah."
Rasanya seperti sekejab mata, tetapi ia telah sampai dan disambut oleh Siera. Tidur selama lima belas menit cukup membantu, sekarang pikirannya tidak berkecamuk seperti tadi lagi. Mengembuskan napas, Selena tersenyum dengan riang karena menatap putrinya.
Memeluk gadis kecilnya, membuat beban dan rasa kelelahan Selena lantas menguap, ia mengangkat Siera dan menggendongkanya hingga ke dalam rumah.
"Oh, gadis kecilku yang manis."
"Sudah, Ma. Siera bisa sendiri dan bukan bayi lagi."
Tersenyum geli, Selena lantas menurukan anaknya dan mencubit pelan pipi yang masih cabi itu dengan raut gemas.
"Siera akan selalu menjadi bayi kesayanganku," ungkapnya.
__ADS_1
Melihat Siera mengerutkan bibirnya lucu, Selena lantas mengusap kepala anak itu.
"Ah, kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu, aku ada keperluan dan sepertinya tidak bisa makan malam bersama kalian. Tidak apa-apa 'kan?"
Siera menghela napas kuat, kedua tangannya bersidekap dan dari raut wajah yang masam, sepertinya gadis kecil itu terlihat merajuk.
Berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka, Selena lantas membisikkan sesuatu. Setelah mendengar perkataan sang mama, akhirnya kecut di wajah meluap sudah.
"Yeahhh! Akhir pekan ke waterpark!"
Berdiri dan menatap wajah Andrew, mereka berdua hanya bisa tertawa kecil karena kebahagiaan sang putri.
Setelah membersihkan diri, Selena turun, kemudian menatap Andrew dan anaknya yang tengah duduk di meja makan. Mencubit kecil pipi Siera dengan gemas, ia lantas berpamit diri. Namun, lelaki itu mengatakan akan mengantar ke depan pintu. Mereka pun melangkah bersama dan Andrew menanyakan apakah Selena mau ia antar atau tidak.
"Tidak perlu, kasihan Siera kalau ditinggal."
Wanita itu memakai gaun dark blue tanpa lengan dengan bagian dada berbentuk V, kalung berbandul mutiara menghiasi leher Selena. Anggun dan menawan adalah kata yang sekarang berada di pikiran sang lelaki.
"Kalau begitu, aku akan menjemputmu nanti? Kau akan ke restoran mana?"
"Ah, baiklah, aku pulang sekitar pukul sembilan, di restoran Cavaco."
Anggukan terlihat, kemudian sekali lagi Selena berpamit diri.
"Hati-hati di jalan, Selena."
Wantia itu melangkah, tangannya lantas tertahan, dan Selena menolehkan kepalanya menatap sang lelaki yang menjadi pelaku atas tindakan ini.
"Hei... kau terlihat cantik malam ini," ujar Andrew.
Menarik perlahan tangan wanita itu, Andrew memberikan satu kecupan di bibir.
"Pergilah, jangan membuat rekanmu menunggu."
Senyuman Selena mendadak lenyap, tetapi langsung ia tutupi dengan membalik badan dan pergi. Air muka Selena yang berubah drastis, menandakan pikirannya kembali berkecamuk. Menghela napas, membatin setidaknya ini adalah permintaan terakhir Jhonatan untuk makan malam bersama dirinya, sebelum lelaki itu benar-benar menyerah atas keinginan untuk menggapai hati Selena.
"Ya, ini demi keluarga kecilku."
Walau resah di dada karena harus berbohong kepada Siera dan Andrew, tapi semua ini dilakukan agar kebahagian mereka tidak pudar. Setelah sekian lama, akhirnya keluarga ini terasa utuh bagi Siera dan juga Selena. Senyuman kembali tersemat di bibir, Selena hanya tinggal meyakinkan Lucas agar kembali menerima Andrew untuk hidup dengannya lagi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung