Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
9. Di Mata Selena


__ADS_3

"Aku mau pulang, sekarang!" pekik si gadis sambil mengerucutkan bibir, sepertinya masih tak menerima dirinya akan menimba ilmu di sekolah baru.


Mendengar permintaan adiknya yang keras kepala ini, Hoshi hanya memutar bola mata bosan. "Jangan bercanda, sekarang ini kau harus ke Sekolah, Sie~."


"Jangan seenaknya memanggilku begitu, Kak. Cih, pokoknya aku mau pulang. Turunkan aku sekarang, PAK SOPIRRR!" teriakan Siera semakin menjadi, dan Hoshi sedang berusaha menyabarkan hati. Ujian ini selalu saja datang silih berganti.


Menghela napas, memejamkan kelopak dan bersaha menenangkan jiwa yang menggila, Hoshi pun mengucapkan mantra agar ia bisa lebih menggendalikan diri, jangan sampai tangannya melayang untuk menjitak jidat adik perempuannya sekarang.


"Jalan saja." Hoshi tegas berkata.


"Turun!" Siera tetap tak mau kalah.


"Ck, jalan saja. Dan ikuti perintahku, Tuan Ibiki." Akhirnya Hoshi memberatkan suaranya, bertanda ia sedang marah.


"Ihhhh ... menyebalkan!" matanya melotot, bibirnya kembali mengomel sambil berwajah masam dan tangannya bergerak untuk menjambak sambil mengacak-mengacak rambut Sanosuke yang duduk di sebelahnya.


Diperlakukan sedemikian rupa oleh sang Adik kembarnya ini, membuat Sanosuke menghela napas. Tentu saja, dirinya sudah sangat terbiasa dengan tingkah Siera yang manja dan selalu cari gara-gara.

__ADS_1


Dasar, terlalu memanjakan, tidak bisa tegas. Hoshi di dalam hati sewot sendiri karena melihat respons Sanosuke yang tidak masalah dengan perlakuan Siera, padahal adik mereka yang manja itu sedang mengacak-acak rambut Sanosuke, kalau ia yang diperlakukan seperti ini maka dengan senang hati Hoshi akan menjitak kepala Siera.


Sesampai di sekolah barunya, si bungsu malah kembali berulah dengan tidak mau turun dari mobil, dan itu benar-benar membuat kepala Hoshi ingin pecah. Berbagai macam cara ia lakukan untuk membujuk Siera yang merajuk, tetapi hasilnya tetap nihil karena kekerasan kepala yang akut dan sudah mendarah daging di diri adiknya semenjak kecil dahulu.


"Turunlah, Siera. Kakak mau ke kantor, nanti terlambat." Hoshi berusaha pasrah dengan kesabaran, padaha kepalanya sudah berasap karena meladeni Siera yang manja dan keras kepala.


"Malas."


"Kakak ada rapat penting, nanti terlambat, Sie."


"Bukan urusanku. Wekk!" bisa-bisanya Siera malah menjulurkan lidahnya kepada Hoshi dan lansung saja membuat perempatan muncul di kepala sang Sulung yang rambutnya dicat berwarna cola dan memang ikal seperti adik perempuannya.


"Tidak, ya, ti—kyaaaaaa!" pekikkan itu terdengar karena Siera terkejut merasakan tubuhnya seketika tertarik dan melayang.


"Kami pergi, Kak." Dari balik jendela, Sanosuke menggendok adiknya ala bridal style. Jalan dengan ekspresi selalu datar dan tidak memedulikan suasana sekolah yang mulai ramai walau bel belum berbunyi.


Mendapati kenyataan ini, membuat gadis bungsu itu kesal bukan main, tangannya bergerak dan kembali menjambaki rambut Sanosuke, tak percaya ternyata Sanosuke lah yang menghancurkan rencana ngambeknya kali ini.

__ADS_1


"Dasar musuh dalam selimut! Pagar makan tanaman! Serigala berbulu domba! Dasar tidak setia! Dasar Sanosuke menyebalkan!" Siera mengomeli Sanosuke yang masih menggendongnya, tetapi malang bagi Siera karena dia sedang berhadapan dengan si muka papan kayu yang tersesat di kutub es, sehingga dinginnya minta ampun dan tidak akan mendapatkan respons. Melawan agar bisa terlepas dari gendongan ini pun percuma saja, ia sadar diri kalau selalu kalah tenaga padahal mereka lahir hanya berbeda menit saja.


Tatapan mata para penghuni sekolah pun silih bergati memandangi mereka dengan bisik-bisik yang terdengar nyaring di telinga, tetapi Sanosuke dan Siera tidak memedulikan dan masih sibuk dengan urusannya sendiri. Siera dengan rasa kesalnya dan Sanosuke dengan tenaga yang harus dijaga.


.


.


.


.


.


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2