Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
3. Menginap


__ADS_3

Esok pagi jam sepuluh, seperti ketentuan yang telah dijelaskan Dokter Crisie, Selena telah diperbolehkan pulang. Andrew juga berada di sana dan membantu membereskan barang-barang gadis kecilnya, matanya yang emerald menatap sebuah rumah bongkar pasang dan menebak pasti itu hadiah dari Lucas atau Karin.


Mereka mengucapkan terima kasih kepada beberapa perawat yang berada di ruangan, setelahnya Siera meminta agar sang papa menggendongnya. Tentu saja Andrew mengabulkan kenginan gadis kecil itu.


"Apa tanganmu masih sakit? Kau sungguh pemberani dan hebat, Siera."


"Hm, sakit, Pa. Tapi, kalau ada papa dan mama jadi berkurang." Kemudian anaknya itu tersenyum sampai gignya nampak.


"Selena, kau ingin ke mana?"


"Aku mau membayar administrasi dan menebus obat di apotek."


"Ah, untuk administrasi sudah aku selesaikan. Masalah obat, sebaiknya nanti aku suruh Oliver yang menangani. Kita sebaiknya pulang saja, kau terlihat lelah."

__ADS_1


"Benar, Ma. Nanti malah kena flu kalau kelelahan seperti kata Miss Angela."


"Miss Angela?"


"Guru kesehatan di sekolah, Pa. Miss Angela yang tahu pertama kali aku sedang sakit."


Mereka lantas menuju parkiran dan Selena membukakan pintu agar Andrew lebih mudah memasukkan Siera, setelahnya ia ikut duduk di jok samping dan menatap kembali Siera yang ada di jok belakang.


"Siap, Pa."


Mereka lantas melaju, menuju rumah yang menjadi saksi bisu di mana pasangan suami istri beserta anak tercinta sempat menghabiskan waktu. Perjalanan memakan waktu dua puluh menit, melewati sebuah gereja yang ada di pinggir kota dan sungai nan indah, beberapa kilo kemudian sampailah mereka ke sebuah pekarangan yang dikelilingi pohon ekk. Di bagian samping terlihat sebuah labirin setinggi pinggang orang dewasa yang terbuat dari tanaman pagar. Sebuah kebun bunga dan juga batu-batu yang sengaja disusun di dekat kolam ikan.


"Kami pulang!" seru Siera lantang, gadis kecil itu masih berada di gendongan papanya dan menggandeng telapak tangan mamanya.

__ADS_1


Pukul sebelas lewat, sekitar satu jam setengah dari sekarang Siera akan meminum obatnya. Pelayan tadi sudah ia kabarkan untuk membuat sup dan bubur untuk santap siang si gadis kecil, juga steak domba dengan saus asam manis ditambah kentang, brokoli, wortel, jamur dan potongan jagung yang dipanggang.


Bibi pelayan kemudian mengetuk pintu, membawa senampan makan siang untuk Siera yang masih duduk di atas ranjang dengan pungung bersandar di dada papanya.


"Nah, sebaiknya kau sekarang makan, Siera. Sini bonekamu, Papa yang pegang."


Dia mengangguk, memberikan boneka kelinci kecil yang adalah penghuni rumah bongkar pasang hadiah dari Karin. Membuka mulut ketika Selena memberikan sup hangat, Siera sekarang memakan dengan ekspresi riang, bahkan terkadang memainkan tangan Andrew yang berada di sampingnya.


Tanpa sadar, Selena yang menyaksikan hal ini pun merasa dadanya berdesir, sebenarnya ia begitu tak sampai hati memisahkan Siera dan ayahnya. Namun, ia tahu Andrew sering di luar batas jika mereka terlalu dekat. Laki-laki itu tidak segan-segan membalas dan menghabisi siapa saja yang dianggap penggangu dihidupnya. Bahkan Selena ingat, saat mereka berada taman umum yang hanya berjarak beberapa ratus meter dekat rumah, dengan kejam Andrew mendorong anak kecil yang tidak sengaja membuat Siera terjatuh karena tertubruk tubuh. Setelah itu, Andrew nyaris mencekik dan mengacam akan memotong kaki si anak karena tidak dipakai dengan benar.


Tentu saja Selena langsung menyuruh anak laki-laki itu pergi, menarik Andrew untuk langsung pulang ke rumah karena telah melanggar janji untuk tidak sembarangan menghakimi seseorang tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma?"

__ADS_1


__ADS_2