
"Kau menghindariku, Selena."
Laki-laki itu tidak memandang dirinya, malahan membuka tutup jus kaleng yang diberikan Selena dan meminumnya beberapa teguk. Hal ini lantas membuatnya terkejut, apakaha sekarang Jhonatan sedang menghakiminya? Bahkan seharusnya dia tahu bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan karena keadaan sang putri.
"Kau menyalahkanku?"
Tahu wanita itu tersinggung, Jhonatan lantas terdiam dan mengangkat dua kotak makan siang.
"Aku hanya bertanya, Len. Jika kau tidak merasa demikian, kau tinggal mengatakannya kepadaku. Sekarang, ayo kita makan bersama, aku tahu kau belum sempat bersantap siang."
Wanita itu terdiam, kemudian mengiyakan Jhonatan dan duduk di depannya. Menerima bekal tersebut, ia pun berucap terima kasih. Mereka akhirnya makan siang bersama, dengan menu yang adalah kesukaan Selena.
.
.
.
Sesampainya di rumah sore hari pukul enam, Selena pun mendapati anaknya sedang berada di dapur dengan Andrew yang tengah memasak. Tentu saja hal ini membuatnya mengerutkan alis, melihat mantan suaminya itu berkutat di dapur, membuat Selena mengingat masa lalu.
__ADS_1
Mungkin karena merasak diperhatikan dari belakang, Andrew tiba-tiba berbalik dan mengumbar senyum kepadanya, hingga Selena tersentak.
"Mama? Kenapa tidak memberitahu bahwa sudah pulang, kami lagi membuat makan malam."
Siera menatapnya dengan cengiran, memakai apron kecil yang sepertinya hadiah dari Andrew, laki-laki itu malah memakai apron milik Selena yang bertuliskan hot dengan gambar teh panas tertuang dari poci.
"Ah, sebaiknya kau mandi, Selena. Ini hampir matang."
Terdiam sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala. Beranjak dari dapur dan naik ke lantai dua yang adalah kamar mereka. Selena duduk di atas kasur, dan memijat kepalanya. Rasanya semakin menjerat Selena, belum lagi Jhonatan yang mulai kelihatan tidak sabar, bahkan setelah ia menjelaskan bahwa hubungannya dengan laki-laki itu tidak bisa dilanjutkan ke jenjang lebih tinggi, hanya sampai ke perteman saja.
Namaun, sepertinya bukan hanya Jhonatan yang berharap lebih, kakaknya pun sama karena menginginkan dirinya mendapatkan sosok sebagai pengganti Andrew.
Ia tidak ingin menghancurkan hati anaknya, tetapi apakah yang seperti ini patut untuk disembunyikan?
Bukankah lebih baik dijelaskan sejak dini kepada anaknya, agar gadis kecil itu bisa lebih mengerti dan mau memahami? Tidak, setiap anak berbeda-beda, dan Siera bukanlah tipikal anak yang gampang menerima sesuatu yang tidak diinginkan. Siera cenderung keras kepala dan begitu menganggap Andrew sebagai malaikatnya, mungkin jika yang menjelaskan hal ini adalah mantan suaminya, barulah Siera mau mengerti.
Memutuskan untuk membersihkan diri, ia pun menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Siera datang mengetuk pintu, nyaris pukul tujuh malam dan waktunya untuk makan. Gadis kecil itu menggandeng tangannya dan menyuruh Selena untuk duduk di samping Andrew, melihat situasi ini saja ia telah mengerti bahwa anaknya begitu menginginkan hubungan mama dan papa membaik seperti dulu. Namun, pernikahan mereka tidak semulus yang Siera duga, terlalu banyak yang terjadi, terlalu banyak luka di hati.
__ADS_1
"Bagaimana, Ma? Enak tidak?"
"Sangat luar biasa, Sayang."
"Papa memang sangat hebat, kan, Ma. Kalau sudah besar aku mau mahir memasak seperti papa."
"Tentu, Sayang. Apa pun bisa kau raih." Andrew mengacak rambut anaknya, gadis kecil itu melebarkan senyum hingga giginya terlihat.
"Em, Pa. Papa akan terus tinggal bersama kami seperti dulu, kan?"
Garpu di tangan Selena langsung terhenti, wanita itu menatap Andrew yang sekarang tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Sayang, habiskan makananmu dulu baru berbicara, nanti tersedak." Selena menegur, menghindari sang anak menanyainya macam-macam, juga agar Andrew tidak menjawab macam-macam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung