
"Ini kamar mandi laki-laki, dan kami baru saja selesai praktek di mata pelajaran Karate. Wajarkan jika mandi?" lengkap dengan senyuman, lelaki pucat itu kembali menjawab pertanyaan yang tidak terlalu penting sebenarnya.
Mengerutkan alis bingung, Siera tak tahu harus berprilaku seperti apa lagi, dirinya pun hanya mencicit sambil mengucapkan permintaan maaf. Berharap bisa secepatnya keluar dari kamar mandi laki-laki ini dan kabur dari dua orang kakaknya yang sedang mencari-cari dirinya.
"Bwahahahha! Ya, ampun! Seharusnya kaulihat dirimu itu! Wajah yang merah seperti ingin buang air saja." Nyaring suara pemuda berambut hitam lurus dengan bola mata biru menawan, tetapi perkataannya membuat Siera bertambah malu dan kesal. Makian pun semakin gencar terucap di dalam batinnya.
__ADS_1
Tak habis pikir, semudah itu si lelaki bertampang Eropa mengatai hal memalukan seperti tadi, tidak bisa dimaafkan. Sekarang tangan gadis berambut hitam panajng dan diikat tinggi itu tengah meremas-remas ponselnya yang tidak aktif agar para kakak tidak bisa melacak keberadaan dirinya.
"Apa kau bilang?" berwajah mengerikan, Siera melotot sambil menunjukkan aura suram dan langsung menusuk ke arah pemuda bertampang Eropa yang kini terdiam, membuatnya merinding dan bergetar seketika. Dengan suara yang lantang, Siera pun berteriak, "Rasakan ini!" sekuat tenaga, langsung saja gadis berambut hitam ikal tersebut melemparkan ponsel miliknya tepat ke arah wajah pemuda yang mengatainya tadi, hingga bunyi benturan pun terdengar, dan batinnya merasa senang seketika.
"Arrggg!" dalam benak mencoba mencatat, bahwa dirinya tidak akan mengganggu gadis yang terlihat manis, tetapi sangat mengerikan. Kedua tangan Uzukiro Ken kini mengusap dahinya yang memerah dan benjol.
"Haah! Rasakan itu!" teriak satu-satunya gadis yang ada di kamar mandi laki-laki ini, sambil melangkah maju dan mengambil ponselnya yang retak dengan wajah menang dan senang. Sementara tanpa Siera sadari, ada pemuda lain sedang menatapnya dengan tajam semenjak tadi.
__ADS_1
Melangkahkan kaki menuju arah pintu, gadis itu kemudian membukanya dengan perlahann.
Bunyi deritan kayu terdengar cukup jelas di kamar mandi yang sekarang sunyi, gadis tersebut sedang membuka pintu membentuk celah, dan dari sana ia menggunakan sebelah mata untuk mengintip ke luar ruangan, mencari tahu apakah kakaknya ada di sana atau tidak.
"Ga-gawat ... bagaimana ini? Tadi, sepertinya si baby face itu sempat melihat." Tidak memedulikan tiga lelaki yang masih mengenakan handuk di kamar mandi, Siera kian asik dengan kondisi terdesaknya sendiri, hingga suara kalem kembali mengusik dirinya.
"Nona, kau bertingkah seperti habis melakukan tindak pencurian saja." Sang Pemuda dengan senyum palsunya bertutur kata bagai racun yang disirami madu.
"Yang benar saja?" Siera berkata demikian, sambil berjalan untuk melihat ke arah jendela yang ada di belakang ketiga pemuda itu, tetapi ternyata ia masih tidak diberikan kesempatan untuk kabur karena sekarang hanya bisa mengeluh dan kesal. "Sial ... aku lupa ini lantai dua! Huaa ... bagaimana ini? Dia bisa menemukanku." Tangan dengan kuku yang dicat hijau pun menjambaki rambutnya frustrasi, wajahnya kian kusut dari waktu ke waktu.
Asik dengan dunianya sendiri, ia tersentak kaget saat merasakan tubuhnya tertarik dan memutar, sehingga ia berbalik arah.
"Aww! Apa yang kaulakukan?" sentaknya kesal, tetapi karena tangannya dicengkeram erat oleh pemuda yang sejak tadi terdiam, membuat usahanya untuk melepaskan diri sama sekali tak berbuah manis, pemuda itu terlalu kuat membelenggu pergelangan tangannya.
__ADS_1