
"Sudahlah, masih ada cara lain. Lagi pula, dia sudah didaftarkan dan besok sudah harus sekolah. Jadi, hentikan saja dan kita pulang." Sanosuke yang memang over protektif dan tak suka kalau Siera diperlakukan sedemikian pun mengatakan usulannya. Ia jengah melihat kedekatan lelaki asing itu terhadap adik kembarnya.
Takao bergerak untuk memegang tangan Siera yang satu lagi, tetapi si gadis mengelak dengan menjauhkan tangannya agar tak dibelenggu, sehingga harus menariknya dan membalikkan tubuh gadis itu menjadi membelakangi dan memegang tangan yang satunya lagi dari belakang. Jadilah Takao dan Siera seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan dari belakang. Tada!
"Ihh! Lepaskan akuuuu! Sanosuke, tolong aku dari mereka ini."
Memelas adalah hal yang bisa dilakukan Siera untuk melunakkan hati sang Kembaran, dibelakangnya ada Takao yang hanya diam sambil mendengus dan merotasikan pupil matanya. melihat hal itu, Sanosuke pun melangkahkan kaki karena ingin membebaskan Siera-nya.
"Ini urusanku, dia itu tanggung jawabku."Sebagai sang Sulung, Harata Hoshi berkata sambil memegang pundak Sanosuke untuk menghentikannya agar tidak ikut campur.
Adiknya itu menolehkan wajah, menatap sang Kakak dengan tidak kalah serius.
"Dia juga tanggung jawabku. Siera tanggung jawab kita."
"Itu sebabnya biarkan aku yang mengurusnya untuk sekarang ini, kau terlalu lembut kepadanya, Sanosuke."
Melangkah maju menggantikan Sanosuke, Hoshi pun sekarang sudah berada di hadapan adik perempuannya, dia menundukkan kepala untuk mensejajarkan antara wajahnya dengan Siera. Namun, karena lebih tinggi, walaupun sudah menundukkan wajahnya sekarang ini, kepala adiknya hanya setinggi hidung Houshi.
__ADS_1
Menatap lelah adik perempuannya, ia pun mengatakan sesuatu.
"Hmmm, Siera, coba saja kau menurut untuk mendaftarkan diri, pasti tidak beginikan jadinya. Berterimakasihlah kepada Tuan Aoryu Takao yang mau memegangimu." Dirinya berkata sambil tersenyum kemenangan. Entah kenapa dia ingin mengerjai adiknya ini, membuat gadis itu kesal misalnya.
Mendecak karena melihat Hoshi di atas awan, kini Siera menatap Hoshi dengan tajam, kemudian gadis itu pun tersenyum di hadapan wajah kakaknya.
Entah kenapa, Hoshi yang melihat seringai tidak biasa adik bungsu nakalnya ini, merasa waswas karena ekspresi Siera tidak berubah juga, tetap mempertahankan lekukan di bibir dan juga berwajah dingin. Masih mengerutkan alis dan berpikir, tiba-tiba tanpa aba-aba terdegarlah suara teriakan dan membuat semua orang di dalam ruangan membelalakkan mata dan tekejut. Ken yang paling terlihat kaget, pemuda itu memeluk lengan Shintaro Renji di sampingnya, tubuhnya pun bergetar dengan degup jantung mengencang seketika.
"Arrrggggggg! Ukhh!" teriakan menggema di dalam kamar mandi.
Melihat hal demikian, kontan Ken bersembunyi di balik tubuh Renji karena terkejut dan juga takut melihat Siera yang sedang mengeluarkan aura menyeramkan, sementara Takao berada di belakang Siera hanya mengerutkan alis melihat tingkah gadis dalam kungkungannya ini. Benar-benar barbar!
Sanosuke hanya mendesah pasrah, ia sudah duga hal semacam ini akan terjadi, apalagi masih sempat-sempatnya Hoshi menggoda adiknya itu.
"Beraninya kau, Anak Nakal!" Hoshi murka dan menatap nyalang, siapa yang tidak marah coba? Jika kau sedang berada di jarak yang cukup dekat dengan seseorang, tiba-tiba saja orang itu menjedutkan dahinya tepat di hidungmu dan membuatnya berdarah. Untung saja tidak patah, batin Hoshi ngerih. Adiknya satu ini benar-benar luar biasa sekali.
Barusan saja, Siera menjedutkan dahi lebarnya yang keras itu tepat ke arah hidung Hoshi dan seketika membuat lelaki berumur dua puluh delapan tahun itu menggelepar kesakitan.
__ADS_1
Menggerakkan tangannya tepat ke arah leher sang Adik, sambil menghela napas Hoshi berkata, "Disita!" tegas kata itu terdengar dengan delikan serius untuk mengendalikan kenakalan adik perempuan satu-satunya ini.
"Tidakkk ... kembalikan! Itu kalung pemberian Sanosuke." Siera memekik sambil menendang-nendang udara karena tidak sampai mengenai kakakya karena berjarak satu meter lebih. Takao cukup pusing dengan tingkah dari gadis yang baru dikenalnya sebagai adik dari Hoshi dan merupakan teman kakaknya, jika saja bukan teman kakaknya, dia pasti tidak akan mau memegangi gadis ini.
Sanosuke yang tidak suka melihat Siera dipengang seperti itu oleh lelaki lain, langsung mendekat ke arah Siera dan menarik sang Gadis ke dekapannya. Takao juga yang sebenarnya malas dengan keadaan seperti ini, dengan ikhlas melepaskan Siera dan membalas tatapan tajam Sanosuke dengan tatapan tidak peduli.
"Aku tidak mau tahu pokoknya aku mau kalungku, Sanosuke. Cepat ambilkan!" Siera masih keras kepala sambil memukuli dada Sanosuke.
"Sanosuke, kau jangan memanjakannya terus, Siera harus mendapatkan hukumannya. Jika kau berani membantah, Siera ... kalung ini aku kuputuskan." Hoshi kini berbicara tegas.
"Awas saja, jika kalungku sampai rusak. Akan kukuliti hidup-hidup dan kupatah-patahkan tulangmu Ka-kak," ucap sang Gadis dingin dengan penekanan di kata kakak, ia lalu menatap Takao dan melanjutkan perkataaannya, "dan kau, Elang Gila. Aku akan membuat perhitungan denganmu."
"Siera, jangan berkata seperti itu! Aku tidak suka mendengarnya." Sanosuke menggelengkan kepala dan Hoshi terlihat pusing setengah mati karena kelakuan Siera.
Mereka pun berpamit diri dengan berterimakasih, kemudian langsung membawa sang Adik bungsu untuk pulang ke kediaman Harata.
Setelah ketiga orang itu keluar dari kamar mandi, tiga orang lainnya yang ada di dalam pun mulai membicarakan kengerian si gadis, minus Takao yang menatap kepergian mereka dengan tajam.
__ADS_1