Sudah Digunakan

Sudah Digunakan
14. Isi Hati


__ADS_3

Bagaimanapun sebagai orang tua apalagi seorang ibu, Harata Mieko tetap tak bisa mengiyakan perkataan para Tetua yang terus saja merongrong mereka. Wajah bingung tersirat jelas, semua orang di ruangan diskusi ini mengalami mimik serupa, tak pelak membuat suasana semakin riuh kala istri Shino tetap bersikeras tak ingin melakukan hal yang mereka perintahkan.


Para Tetua sama sekali tak mengira, setelah hampir lima belas abad, hari yang tidak diinginkan ini datang jua, ketika sepasang suami-istri bersikukuh ingin anak mereka lahir, padahal peraturan di klan tak bisa dilanggar. Anak perempuan bermarga Harata tidak boleh dilahirkan, hal ini sudah nyaris lima belas abad dipatuhi.


"Kau tetap harus menggugurkan bayimu, Mieko. Kami meramalkan kalau di dalam rahimmu itu mengandung anak perempuan dan kau tahu konsekuensinya 'kan? Akan sangat berbahaya jika dia sampai lahir di dunia ini." Ketegasan itu tergambar jelas dari suara yang kaku dan raut wajah sang Tetua.


"Ta-tapi, Tetua. Istriku sekarang ini juga mengandung anak laki-laki, bukan hanya anak perempuan. Dan kami tidak ingin menggugurkan anak kami lagi, apalagi di dalam kandungannya ada anak lelaki kami juga." Shino tentu merasa sangat tak becus menjadi seorang ayah karena untuk kesekian kalinya hal ini akan dilakukan lagi. Itu semua karena para Tetua yang meramalkan kelahiran anak mereka.


Tubuh mereka semakin basah oleh keringat, ketakutan karena masa lalu Klan Harata yang telah dikutuk selama belasan abad terus merongrong diri meraka.

__ADS_1


"Kita harus memikirkan cara lainya, untuk sementara sebaiknya pertemuan ini disudahi dahulu, lagi pula kandungannya masih berusia dua bulan. Baiklah, kami para Tetua akan mencari jalan keluarnya. Jika sampai usia kanduganmu tiga bulan dan kalian masih belum mendapatkan kabar dari kami, sebaiknya kandungannya segera digugurkan."


Para Tetua membubarkan diri, masalah kali ini cukup rumit karena Shino dan istrinya tidak ingin menggugurkan kandungan lagi. Namun, hal itu tetap harus dilakukan sebagai keharusan, bagaimanapun kutukan yang menjerat mereka tetap berlaku hingga detik ini.


*


"Kutukan sialan, kenapa harus keturunanku dan keluarga ini? Berengsek!" Shino hanya bisa tepekur dengan apa yang terjadi, lelah hati dan pikiran membuat kemurungan tercetak jelas sebagai mimik wajah.


Beberapa saat setelah pertemuan dengan Tetua Klan Harata, mereka memutuskan pulang dan sekarang telah tiba di kediaman pribadi. Tergambar suasana hati suami-istri yang sedang kalut bukan main, bagaimanapun perundingan tadi benar-benar membuat beban mereka menjadi bertambah dengan ketakutan yang selalu menghantui Klan Harata, dan sangat menyiksa batin dua insan tersebut. Dan rasa sakit itu semakin nyata, ketika calon buah hati mereka terpaksa harus digugurkan karena diramalkan berjenis kelamin perempuan yang sejak dahulu sudah terlarang bagi Klan Harata.

__ADS_1


"Papa, kenapa?" tanya Hoshi kecil penasaran karena ayahnya kelihatan sedang dalam kondisi pikiran tidak baik. Anak lelaki itu terbangun dari tidurnya dan mengintip melalui celah kamar yang terbuka, ia lalu mendatangi mereka dan berusaha menggali rasa ingin tahu.


Tatapan sarat ingin tahu diarahkan kepada sang Papa dan Mama yang duduk di ruangan keluarga, dengan langkahan malas dan bibir menguap, ia pun menghampiri mamanya yang berwajah teramat sedih.


"Tak apa, Hoshi." Lelaki berumur tiga puluh tahunan itu mendekati anak lelaki, ia lalu mengacak rambut si anak sulung ketika telah duduk di samping tubuhnya.


Pupil mata Hoshi melebar ketika menatap kedua orang tuanya, raut bingung pun terpancar dari binar mata, ia kemudian memiringkan kepala dan mengerutkan alis, mencoba mencari tahu apa gerangan yang tengah terjadi kepada mama dan papanya. Dengan perlahan anak lelaki itu mendekatkan dirinya kepada sang Mama, agar bisa meraih dan memeluk perut yang sudah ia tahu berisi calon adik dan teramat ia tunggu.


"Mama, kapan adik bayi lahir? Hoshi ingin bersama-sama adik bayi." Rasa penasaran itu membuat Mieko hampir menangis kembali, sementara Hoshi hanya mengelus perut ibunya sambil menatap dan tertawa riang.

__ADS_1


__ADS_2