
"****!!!"
Pandangan Rein berubah menjadi dingin setelah mengumpat, dan tanpa sadar mengeluarkan aura membunuh untuk pertama kalinya di dunia ini.
[ Master!! ]
Croft memekik keras untuk menyadarkan Rein agar menarik kembali auranya.
Rein pun menutup matanya dan menarik kembali aura yang tanpa sadar dia keluarkan. Kemudian Rein menghela nafas panjang, dan berkata;
"Terimakasih atas informasinya."
~ "Nak, bila hari itu tiba, aku mewakili seluruh pohon yang ada di tempat ini ingin memberi tahu mu. Bahwa kami siap menerima kematian-"
Rein segera melepas telapak tangannya dari pohon, dia tahu kalimat selanjutnya yang akan diberikan oleh pohon tersebut.
Namun Rein tidak ingin mendengarnya.
Dia berbalik dan ingin mengambil langkah, namun tubuhnya terhuyung ke depan sebelum kakinya menyentuh tanah.
Curran segera menangkap tubuh Rein, saat dia melihat bahwa putranya akan terjatuh. Kemudian dia menggendongnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku ... Mencapai ... Batas."
Rein menjawab dengan terengah-engah. Meskipun atribut alam miliknya berada di tingkat terendah, tubuhnya juga memiliki kesehatan dan kekuatan yang rendah.
Hingga pada akhirnya tubuhnya sudah mencapai batas yang bisa dia tanggung.
"Istirahatlah."
"Hm."
Rein menutup matanya, dia mencoba mengatur pikirannya atas informasi yang telah diperoleh.
[ Master- ]
'Cukup Croft, diamlah!'
Croft terdiam, dia membiarkan Rein untuk beristirahat. Dia mengusap kepala Rein untuk memberikan kekuatannya sedikit demi sedikit, agar mempercepat pemulihannya.
Jasvier melihat Rein yang menutup matanya, dan menunggu tanggapan dari Curran
Awalnya dia merasa takjub saat melihat Rein yang mencoba untuk berkomunikasi dengan pohon besar, namun dia segera dikejutkan dengan umpatan yang keluar dari mulut Rein.
Belum lagi, Aura membunuh yang dia rasakan tak lama setelah itu. Bahkan tangannya pun sedikit bergetar saat merasakannya.
Tak sampai di situ, dia dibuat khawatir saat melihat Rein yang langsung tumbang saat selesai.
"Mari kita kembali."
Ucapan Curran disetujui oleh Jasvier maupun Kendrick.
Kendrick merobek gulungan kertas teleportasi, setelah itu mereka menghilang dari tempat tersebut.
* * *
Mereka muncul di sebuah ruangan mewah yang luas, dan banyak benda yang terbuat dari emas.
"Baringkan dia disini."
Jasvier meminta Curran untuk membaringkan tubuh Rein di atas kasur miliknya. Dan Curran melakukan seperti yang di minta.
Croft memandang dengan mata berbinar ruangan tersebut, namun dia tidak meninggalkan sisi Rein dan tetap memberikan sedikit demi sedikit kekuatannya.
"Bagaimana keadaannya?"
Jasvier bertanya pada Curran tentang keadaan Rein.
"Hanya butuh istirahat."
__ADS_1
Curran menjawab dengan tenang.
"...."
"Ran, apa dia ... Mendapatkannya?"
Jasvier bertanya dengan hati-hati khawatir menyinggung perasaan temannya.
Curran melirik ke arah Jasvier, dan menjawabnya dengan singkat.
"Ya."
Jasvier menghela nafas lega, dia sekarang merasa pundaknya sangat ringan setelah mendengar jawaban dari temannya.
Braakk.
Semua tatapan langsung tertuju ke asal suara pintu yang baru saja di dobrak oleh seorang gadis berusia 10 tahun.
'****!! Aku hanya ingin istirahat, apa itu juga sulit?'
Rein mengumpat dalam hati, dan hal itu membuatnya mengerutkan kening dalam tidurnya.
Croft juga melakukan hal yang sama, dia mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis yang baru saja masuk dengan kasar.
Itu karena informasi yang dia peroleh saat melihat gadis tersebut, ternyata gadis itu....
"Kinara, kenapa kau kemari di tengah malam begini?"
Jasvier terkejut melihat adiknya yang datang ke kamar miliknya dengan cara mendobrak pintu, belum lagi penampilan adiknya yang seperti habis menangis dengan mata yang memerah.
Kinara Osmond, gadis berusia 10 tahun. Memiliki rambut kuning keemasan sepundak, dan netra emas miliknya yang berkilau.
"Saya minta maaf Yang mulia, atas perilaku Tuan putri."
Kate, sebagai pelayan pribadi milik Kinara segera meminta maaf kepada Jasvier.
"Kau bisa kembali."
Kate membungkuk sebentar, lalu berbalik dan menutup pintu kamar Jasvier, kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Kendrick."
"Saya mengerti Tuan muda."
Kendrick melakukan hormat pada ketiganya, sebelum akhirnya keluar dari ruangan. Dan menjaga pintu agar tak seorang pun masuk ke dalamnya.
"Kemari."
Jasvier menyuruh adiknya yang sedari tadi hanya berdiam diri untuk mendekat.
Kinara melangkah maju, dan langsung memeluk Jasvier erat lalu kembali menangis.
Rein segera membuka matanya, saat mendengar suara tangisan yang menganggu waktu istirahatnya.
[ Master, gadis emas itu memiliki kemampuan atribut cahaya yang membuatnya bisa melihat sekilas kejadian di masa depan. ]
Croft segera memberitahu Rein, informasi yang dia peroleh tentang adiknya Jasvier.
Rein terdiam setelah mendengar suara Croft, Hm ... Lebih tepatnya saat dia melihat lampu gantung yang terbuat dari berlian putih di atas.
'Apa itu berlian?'
Croft sempat bingung pada awalnya, namun dia segera mendongak untuk melihat arah pandang yang di tujukan oleh Rein.
[ Memang, bagaimana kalau kita merampoknya? ]
'....'
'Kalau kita mengambil satu, tidak akan ketahuan 'kan?'
[ Kalau bisa semua mengapa harus satu? ]
__ADS_1
Rein menghiraukan ucapan Croft, dan mengajukan pertanyaan padanya.
'Apa berlian bisa di tukar menjadi poin?'
[ Bisa, 10 gram berlian setara dengan 1 juta poin. ]
Sudut mulut Rein berkedut mendengar ucapan Croft.
(Mari kita hiraukan dua makhluk itu😓)
"Kenapa hm?"
Jasvier mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Kita harus ... Membatalkan ... Festival itu."
Kinara menjawab dengan terbata-bata karena menangis. Dia merasa takut, sangat takut.
Dalam beberapa hari terakhir, dia selalu memimpikan hal yang sama. Dimana kakak dan para bangsawan yang hadir dalam acara festival perburuan, semuanya tewas.
Tidak ada yang selamat.
Dia melihat kakaknya memiliki banyak luka di tubuh dan tergenang dalam darah merah kehitaman.
Dia takut, dia takut kehilangan sosok Jasvier dalam hidupnya.
Namun dia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegahnya, yang bisa dia lakukan hanyalah meminta kakaknya untuk membatalkan festival tersebut.
Jasvier menghela nafas.
"Kinara, kau tau 'kan kita tidak bisa membatalkannya tanpa alasan."
Kinara mendongak, dia menatap Jasvier dengan mata berkaca-kaca.
"Ta-tapi tapi, sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku takut, dan aku tidak ingin hal itu terjadi."
"Itu tidak akan terjadi."
Ketiga pandangan langsung menoleh ke asal suara, dimana Rein yang sedang duduk dengan senyum cerah. Secerah matahari.
[ Hehehe. ]
Rein menghiraukan Croft yang tertawa seperti orang gila, dan mengulangi perkataannya.
"Itu tidak akan pernah terjadi, tidak ada hal buruk yang akan terjadi."
Kinara menatap tajam ke arah seorang anak laki-laki rambut pink.
"Darimana kau bisa tahu bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi?"
"Peluang, kita memiliki peluang untuk menang."
Menang.
Kata itu terukir di benak Kinara, seolah-olah memberinya sebuah harapan.
Kinara menggigit bibir, sebelum bertanya pada Rein untuk meminta kepastian dari perkataannya.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Rein mengangguk, dengan senyum tipis yang terpatri di wajahnya.
Kinara merasa lebih tenang setelah mendapat konfirmasi dari Rein.
Jasvier yang sedari tadi diam mengajukan pertanyaan pada Rein, karena tidak mengerti arah pembicaraan mereka berdua.
"Boleh aku tahu, hal buruk apa yang kalian maksud?"
"Perang, akan ada perang di hutan Volker"
__ADS_1
"...."