
Rein sedang memakan ayam tusuk di tempat pertama kali dirinya bertemu dengan Curran.
Croft duduk di pundak kanan Rein, sedangkan Joy di sebelah kiri. Mereka berdua juga sedang memakan ayam tusuk yang sama.
"Rasanya tidak berubah, persis seperti saat pertama kali aku memakannya."
Rein berkomentar setelah memakan salah satu dari ayam tusuk yang ada di tangannya.
[ Master, bukankah saat pertama kali kita datang ke tempat ini, anda berniat untuk melakukan bisnis. ]
"Memang."
[ Lalu, mengapa kita belum melakukannya? ]
Rein mendengus mendengar pertanyaan dari Croft.
"Kita datang langsung dapat kabar tentang adanya perang. Sebelum perang di mulai aku harus mempelajari bahasa atau sesuatu tentang dunia ini. Setelah perang selesai, aku di hukum tidak boleh keluar. Jadi, kapan kita bisa melakukannya?"
Rein mengajukan pertanyaan balik pada Croft, sekaligus mengeluh secara internal. Sejak dia datang ke dunia ini, dia tidak memiliki waktu untuk melakukan bisnis. Pikirannya langsung teralihkan ke perang yang akan di hadapi.
Belum lagi, dia perlu mencari tahu informasi tentang dunia yang dia tinggali saat ini.
~ "Cutie pie, sepertinya laki-laki itu sedang menuju kesini."
Rein menghiraukan ucapan Joy, karena dia yakin tanpa menoleh pun Croft akan memberinya informasi tentang orang tersebut.
[ Haruskah saya menyebutnya sebagai mangsa? ]
Sudut mulut Rein berkedut. Dia berusaha menahan diri untuk tersenyum mendengar suara Croft terdengar seperti seseorang yang sedang menggoda.
[ Seorang penjahat kecil yang menculik seorang anak lalu membuat anak tersebut bekerja dalam pembuatan narkoba. ]
[ Kelompok penjahat kecil itu memiliki 3 monster yang sudah dijinakkan. Mungkin itulah yang membuat mereka berani menampakkan diri di wilayah Duke Crimson. ]
Rein merapatkan bibirnya agar tidak tersenyum atas informasi yang Croft berikan.
Sekelompok kecil tikus berani memasuki wilayah harimau, karena memiliki singa?
Sungguh menggelikan.
Rein dengan cepat membuat sebuah rencana.
Croft menyeringai mengetahui rencana yang di pikirkan oleh Rein. Dia sudah tidak sabar melihat tumpukan emas lagi.
"Halo adik kecil."
Rein mendongak ke atas untuk melihat wajah seorang pria yang menyapanya.
"Halo Paman."
Pria itu tersenyum setelah mendapat respon positif dari anak kecil di hadapannya.
"Nama Paman, Sam. Nama kamu siapa?"
[ Sam? Pasti nama panjangnya Sampah. ]
Rein berusaha sebaik mungkin untuk tidak tertawa, dan menjawab pertanyaan dengan nada riang.
"Namaku Rein."
Pria yang mengaku bernama Sam, melihat reaksi Rein yang terlihat polos dan mudah untuk di tipu. Dia mulai bertanya dengan ekspresi khawatir di wajahnya.
"Kamu kok di sini sendirian, keluarga kamu mana?"
"Aku kabur dari rumah, dan sekarang aku takut mau pulangnya."
__ADS_1
Rein menggigit bibirnya, lalu menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Sudut mulut Sam berkedut. Dia mendapatkan mangsa yang sangat mudah di dapat.
"Gimana kalau kamu ikut ke rumah Paman? Nanti kalau kamu sudah tidak takut lagi, baru Paman antar kamu pulang."
Rein memiliki ekspresi ragu-ragu mendengar ucapan dari Sam.
"Kamu tenang aja, Paman bukan orang jahat kok. Nanti Paman belikan permen buat kamu, gimana?"
Rein dan Croft mencibir ucapan Pria itu dalam pikiran mereka, yang menawarinya permen.
Berbeda dengan Joy yang tersenyum senang saat mendengar kata permen.
~ "Cutie pie, mari kita ikut dengan pria itu. Joy menyukai permen."
Croft memutar matanya malas melihat tingkah Joy.
Rein menghiraukan ucapan Joy. Dia berseru senang menjawab ucapan pria itu.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Baiklah Rein setuju ikut sama Paman."
Sam tersenyum puas saat dirinya berhasil sekali lagi menipu seorang anak kecil.
Dia memegang tangan kecil Rein, untuk membawanya ke tempat yang sudah di rencanakan oleh rekannya.
"Berhenti."
Langkah mereka berdua di hentikan oleh suara seorang pemuda yang terdengar datar dan dingin.
Dia melihat seorang pemuda memakai pakaian hitam, memiliki rambut biru gelap, netra mata biru pucat, kulit putih, sedang berdiri dengan tatapan datar.
'Siapa dia?'
[ Yuda Horation, putra kedua dari keluarga Horation yang menguasai dunia bawah di Benua timur. ]
[ Dia memiliki kemampuan atribut air, yang membuatnya dapat melihat masa lalu seseorang lewat sentuhan. ]
[ Tapi anda tenang saja, air juga bagian dari alam. ]
Croft segera memberitahu informasi yang dia ketahui tentang pemuda di depannya, setelah Rein bertanya padanya lewat pikiran.
Pandangan Rein berubah menjadi dingin sejenak, sebelum kembali seperti semula.
'Apa dia ingin berperan sebagai pahlawan?'
Rein mencibir pemuda bernama Yuda di dalam hatinya.
Yuda memperhatikan reaksi mereka berdua yang terlihat bingung. Lalu tatapannya jatuh pada anak kecil rambut pink yang melihat dirinya.
Rambut pink, mata biru.
Anak kecil ini mengingatkan Yuda pada mendiang ibunya yang sudah meninggal akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
"Aku ikut."
Dua kata yang merupakan poin inti dan alasan mengapa Yuda menghentikan langkah mereka.
Rein mengerutkan keningnya. Dia merasa bingung mengapa pemuda bernama Yuda ingin ikut dengannya, secara mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
Berbeda dengan Sam yang merasa bahwa ini adalah hari keberuntungan miliknya, dia berniat menipu satu anak malah dapat dua.
__ADS_1
Sam menduga, anak laki-laki di depannya merupakan kenalan dari anak kecil bernama Rein. Itu sebabnya dia juga ingin ikut.
"Tentu, kau juga boleh ikut."
Sam menyambut Yuda dengan tangan terbuka, dan senyum ramah yang dia miliki.
Yuda hanya melirik sekilas Pria bernama Sam, dia berjalan maju mendekati Rein dan memegang telapak tangannya yang lebih kecil dari miliknya.
Rein menatap tangan kirinya yang di genggam oleh tangan Yuda. Dia pun mendongak ke atas dan menatap wajah Yuda yang juga sedang melihatnya.
'Berapa usianya?'
[ 13 tahun. ]
Croft menjawab pertanyaan Rein lewat pikiran. Karena saat ini dia sedang menutup mulut Joy menggunakan tangannya agar suara Joy tidak di dengar oleh Yuda.
Rein segera mengalihkan pandangannya dari wajah Yuda. Dia tidak masalah saat tangannya di genggam oleh Yuda, karena dia tidak bisa menggunakan kemampuan atribut air padanya. Tapi...
"Aku merasa pendek."
Rein bergumam dengan suara rendah.
Pendengaran Yuda yang tajam dan sensitif dapat mendengar gumaman Rein. Sudut mulut Yuda sedikit berkedut, sebelum rapat kembali di detik berikutnya.
[ Master, anda itu bukan pendek, hanya ... Kurang tinggi. ]
Rein menghiraukan ucapan Croft yang terdengar seperti menghina dirinya secara halus.
"Baiklah, mari kita ke rumah Paman."
Sam dengan ramah membawa kedua anak kecil yang ikut dengannya ke suatu tempat yang sudah dia rencanakan dengan rekannya.
Beberapa menit setelah berjalan, mereka telah sampai di sebuah gang sempit yang sepi.
"Paman, tidak ada rumah di sini."
"Siapa yang kau panggil Paman, dasar bocah!"
"Tentu saja, Pam-"
Ucapan Rein terpotong, karena mulutnya tertutup kain yang terdapat obat bius di dalamnya.
'Caranya klasik, kenapa mereka tidak membungkam mulutku dengan emas atau setidaknya berlian gitu?'
Setelah berkomentar tentang penculikan yang menurut Rein klasik, dia kehilangan kesadarannya.
Sementara Yuda tidak menghirup aroma dari obat bius, namun dia berpura-pura telah terkena olehnya. Meskipun begitu, pegangannya pada tangan Rein tidak dia lepaskan, dan semakin erat.
Dia tidak ingin terpisah oleh bocah rambut pink.
"Apa-apaan ini!! Mengapa tangannya tidak bisa lepas?!"
Seorang pria dewasa yang menangkap tubuh Yuda, merasa heran karena genggaman tangan anak kecil ini tidak bisa lepas dari tangan bocah rambut pink.
"Biarkan saja, lagipula kita sedang beruntung hari ini."
Pria yang mengaku bernama Sam, membalas ucapan rekannya dengan ekspresi puas di wajahnya.
Di sudut gang, Croft sedang membisikkan sesuatu pada Joy.
Joy mengangguk mengerti, lalu menatap tajam ke arah kedua pria dewasa itu sebelum menghilang dari tempat tersebut.
[ Nah sekarang, bagaimana rasanya merampok penjahat? ]
Croft memiliki seringai kecil di wajahnya.
__ADS_1