Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 42


__ADS_3

Tap.


Rein menahan tangan Yuda, menggunakan tangannya. Netra birunya menatap wajah Yuda dengan acuh tak acuh.


"Aku bisa sendiri."


Rein mengusap darah di mulut menggunakan tangannya. Dia bergeser sedikit menjauh dari Yuda.


Tatapan matanya menatap ke atas, bola air berukuran 20 meter terlihat dengan jelas.


Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan, lalu memanggil monster yang berhubungan dengan air.


"Bell."


Setitik cahaya biru muncul di atas telapak tangan Rein, lalu membentuk suatu makhluk bulat berwarna biru yang sedikit transparan.


~ Bell.


Sudut mulut Rein berkedut, melihat monster Slime yang muncul di kedua tangannya.


~ "Kyyyaaa!! Dia terlihat imut!"


Joy memekik heboh melihat makhluk bulat yang muncul di tangan Rein.


~ Bell.


Monster Slime berseru senang, akhirnya giliran dia yang di panggil oleh Rein.


"Bell, apa kau melihat air yang berada di atas sana?"


Rein berbicara dengan Bell, dengan mengarahkan Bell pada bola air yang berukuran besar.


~ Bell Bell.


Monster Slime yang bernama Bell, mengangguk pada ucapan Rein.


"Telan semua itu, lalu padamkan api yang ada di hutan ini."


~ Bell Bell.


Bell berseru senang, dia akan melakukan seperti yang Rein katakan.


Rein tersenyum tipis. Dia memegang Bell dengan erat, lalu bersiap untuk melemparkan Bell menuju bola air di atas.


Tuuiiinnnggg.


~ Bell.


Blup.


Mata Joy melotot melihat Rein yang melempar makhluk lucu ke atas, bahkan masuk ke dalam bola air.


~ "Cutie pie! Kenapa kau melempar makhluk selucu itu ke atas? Padahal Joy bisa membawanya kesana dengan angin milik Joy."


Rein menghiraukan ucapan Joy, dia menatap ke atas dan melihat ukuran bola air yang kian menyusut.


Croft menepuk-nepuk kepala Joy.


[ Dia akan baik-baik saja. ]


Joy mempercayai ucapan Croft, jadi dia melihat dengan seksama perubahan yang terjadi pada bola air di atas.


Orang-orang dan half Ork yang berada di sana menyaksikan bola air yang semakin mengecil, namun ada juga sebagian dari mereka yang menyaksikan pertarungan Curran dan Moku melawan monster Salamander.


~ Hik.


Bell mengedipkan matanya beberapa kali, saat dirinya cegukan akibat menelan semua air. Tak lama dia pun terjun ke bawah.


Tuing.


~ Bell.


Bell berseru. Dia pun membuat kloning dirinya menjadi banyak, lalu memulai untuk memadamkan api yang membakar hutan.


~ Bell Bell Bell.


Puluhan Slime melompat-lompat menuju api, lalu mengeluarkan air dari tubuhnya yang membuat api tersebut padam.


Rein tersenyum melihat api yang mulai padam satu persatu.


'Sepertinya pemadam kebakaran membutuhkan Bell.'


Croft mengernyit heran, mengetahui pikiran Rein.


Joy menjatuhkan rahangnya, melihat makhluk bulat yang awalnya hanya satu berubah menjadi banyak.


Byuurr.


Curran mengusap wajahnya saat air memadamkan api yang menguar dari tubuhnya.

__ADS_1


~ Bell Bell.


Bell melompat-lompat di atas kepala Moku.


Moku memasang wajah datar. Dia menggelengkan kepalanya yang membuat air terciprat ke arah wajah Curran.


Curran kembali mengusap wajahnya yang kembali basah terkena air. Dia menghela napas panjang.


~ Myuu! Myuu!


Moku memprotes pada Bell untuk tidak membasahinya dengan air.


~ Bell?


Bell menatap dengan polos melihat rubah merah yang terus-menerus berseru padanya.


~ Bell! Bell! Bell!


Salah satu kloning Bell melompat-lompat menuju Moku, saat dirinya di kejar oleh monster Salamander yang baru saja dia siram dengan air.


Dengan tubuh bergetar dia bersembunyi di belakang kaki Moku.


Moku menatap dengan tajam monster Salamander yang telah membuat temannya ketakutan.


Dia menunjukkan taringnya, lalu bergerak maju.


Curran yang berada di atas punggung Moku, sudah bersiap dengan pedang api miliknya.


Sring.


Boom.


Boom.


Curran menebas monster Salamander hingga menjadi beberapa bagian, lalu Moku membakarnya hingga menjadi debu.


"Monster itu telah kalah!"


"Desa kita selamat!"


Semua yang menyaksikan adegan tersebut berseru bahagia dengan suka cita, karena akhirnya tempat mereka selamat dari monster.


~ Myuu Myuu!


Moku berseru senang.


Curran menaruh kembali pedangnya ke dalam sarung.


~ Bell Bell Bell.


Byuurr.


Curran dan Moku memiliki ekspresi tabah, saat mereka lagi-lagi terkena air milik Bell.


Curran turun dari punggung Moku. Kemudian dia menyisir rambutnya yang basah ke belakang. Tatapan matanya melihat sekitar area hutan yang beberapa bagian menghitam.


Moku mengecilkan ukuran tubuhnya, lalu berjalan mendekati Bell. Kemudian, dia memukul makhluk bulat tersebut menggunakan kaki depannya.


Duk.


~ Myuu Myuu-


Moku yang baru saja ingin mengomeli Bell karena telah membasahinya dengan air, terdiam. Melihat ekspresi sedih yang di tampilkan oleh Bell.


~ Bell!


Bell memiliki ekspresi sedih saat dirinya di pukul oleh Moku, padahal dia tidak melakukan kesalahan.


Puk puk.


~ Myuu Myuu.


Moku mengelus bagian yang dia pukul di tubuh Bell. Dia juga mencoba menenangkan Bell yang ingin menangis.


"Tuan Curran."


Farenzo berjalan menghampiri Curran. Dia memperhatikan penampilan Curran yang basah kuyup. Lalu, dia mengambil kantung penyimpanan dan mengeluarkan sebuah jubah hitam yang cukup panjang.


"Tuan Curran, tolong gunakan ini agar anda tidak kedinginan."


Curran sedikit memiringkan kepalanya mendengar ucapan dari Farenzo, lalu tatapannya beralih ke tangan Farenzo yang terdapat jubah hitam.


Dia memiliki kemampuan atribut api, yang membuat tubuhnya tetap hangat di keadaan apapun.


Namun, dia tetap mengambil jubah hitam yang diberikan oleh Farenzo.


"Terimakasih."


"Tidak masalah, Tuan."

__ADS_1


Curran menggunakan jubah hitam tersebut, yang membuat tubuhnya dari bagian pundak hingga kaki tertutupi oleh jubah.


Blue, yang sudah mengecilkan ukuran tubuhnya. Mematung di samping kaki Farenzo.


Melihat Moku yang terlihat cukup dekat dengan makhluk bulat jelek, tidak seperti dirinya yang keren dan gagah.


"Blue."


Langkah kaki Blue terhenti oleh suara Farenzo yang memanggilnya. Dia menoleh ke samping, melihat Farenzo yang sedang berjalan di belakang Curran.


Lalu, menatap kembali ke arah Moku yang masih menenangkan makhluk bulat.


Cinta pertama atau tuannya.


Blue berbalik, lalu berjalan untuk menyusul Farenzo.


~ Saya datang Tuan.


Tentu saja tuannya.


Farenzo yang telah menyelamatkan dirinya dalam kegelapan selama ratusan tahun. Dia juga yang membawanya keluar hingga bisa melihat betapa indahnya dunia.


Seekor rubah merah, memang sesuatu yang dia sukai. Namun, Farenzo merupakan seseorang yang sangat berharga untuknya.


Blue telah membuat keputusan, hanya melihat sang rubah merah bahagia itu sudah cukup untuknya.


Dan, dia tidak akan meninggalkan Farenzo sendirian.


"Kenapa bisa berdarah?"


Tangan Curran terulur ke depan, mengusap sudut mulut Rein yang masih terlihat sedikit darah di sana.


"Aku baik-baik saja."


Curran menghela napas, mendengar jawaban dari Rein. Dia ingin menggendongnya, tapi pakaian miliknya basah.


Curran mengurungkan niatnya untuk menggendong Rein, dia mengusap kepala Rein dengan lembut.


"Saya mengucapkan Terimakasih, karena anda telah membantu desa kami dari monster."


Drax, sang pemimpin half Ork datang menghampiri Curran.


Curran memasang raut wajah datar, dia memperhatikan Drax dengan seksama.


"Bisakah kita bicara."


"Tentu."


"Ayah."


Curran merasakan sebuah tarikan kecil yang menarik jubahnya, dia menundukkan kepalanya dan melihat putranya yang memasang wajah polos.


"Ada apa?"


Curran bertanya dengan mengusap kepala Rein lembut.


"Aku ingin bermain di sekitar sini, boleh?"


Curran menghentikan usapannya pada kepala Rein. Dia menoleh ke arah para half Ork yang berkumpul di depannya, dengan memberikan tatapan mata yang sedikit tajam dan menekan.


Hingga, half Ork wanita melangkah maju ke depan.


"Nama saya Eren, izinkan saya untuk menemani putra anda selama di sini."


Curran memperhatikan half Ork wanita yang bernama Eren, dia melihat sebuah belati yang berada di area pinggang dan kedua kakinya.


Dia kembali menoleh menatap wajah Rein.


"Boleh, pastikan kau tidak terluka."


"Aku mengerti."


~ Myuu Myuu.


~ Bell.


Rein berseru senang. Begitu juga dengan Moku dan Bell yang baru datang, dan berdiri di samping kaki Rein, dengan Bell yang berada di atas punggung Moku.


"Lindungi putraku."


Curran berkata dengan suara rendah.


"Saya mengerti."


Eren menanggapi dengan hormat. Dia akan melindungi putra dari seseorang yang telah menyelamatkan desanya.


"Mari."


Blue menatap ke arah Moku sebentar, sebelum akhirnya menyusul Farenzo yang mengikuti Curran.

__ADS_1


"Saatnya berburu."


Rein memiliki seulas senyum tipis di wajahnya.


__ADS_2