Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 55


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada kalian?"


Curran mengerutkan keningnya, melihat wajah dan pakaian Rein, Yuda, Croft, Joy dan Moya pada hitam-hitam. Hanya Moku yang terlihat bersih di antara mereka berenam.


Rein menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melihat wajah Curran setelah kembali bermain dalam keadaan kotor.


Seingatnya, dia melihat Joy yang wajahnya hitam saat makan ikan bakar. Lalu entah bagaimana bisa berakhir dengan seperti ini.


Rein melirik ke samping. Dia melihat Morgan yang berdiri tak jauh dari Curran, dengan tubuh bergetar dan mulut tertutup tangan.


'Aku yakin dia sedang menertawakan ku.'


Morgan menutup mulutnya untuk meredam suara tawa yang sedang dia tahan. Melihat Yuda dan Rein yang menundukkan kepalanya begitu Curran bertanya, terlihat sangat lucu baginya.


'Imutnya.'


Apalagi putranya, Yuda. Dia tampak berperilaku seperti anak kecil pada umumnya.


Seandainya saja Freya masih hidup, mungkin Yuda tidak akan seperti ini.


Mata biru pucat Morgan sedikit lebih redup.


Curran menghela napas panjang. Dia tidak mendapatkan jawabannya meskipun sudah bertanya pada mereka.


"Bersihkan diri kalian."


"Baik."


* * *


"Selamat malam semuanya."


"Selamat malam, Tuan Morgan."


"Malam, Ayah."


"Malam."


"Hm."


Curran memberikan tatapan tajam pada Morgan.


Pria itu bilang akan kembali setelah bertemu dengan anaknya, namun dia masih berada di kediaman ini hingga waktu makan malam tiba.


Curran menghela napas. Dia kembali memakan makanannya.


Kali ini, Blue mencoba sekali lagi memberikan piringnya yang sudah berisi potongan daging lalu memberikannya kepada Moku.


Meow.


Moku menoleh ke samping, dia melihat Blue yang mengetuk piring berisi daging potong di atasnya.


Moku memiringkan kepalanya.


Sepertinya kucing hitam itu memberikan daging tersebut untuknya.


Moku mengambil langkah mendekat, lalu memakan daging pemberian dari Blue.


Myuu Myuu.


Moku menggunakan ekornya untuk menepuk-nepuk kepala Blue sebagai ucapan terimakasih.


Tubuh Blue langsung membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah menduga bahwa usahanya berhasil.


Farenzo mengerutkan kening, melihat Moku yang memberi daging menggunakan kaki depannya kepada Blue.


'Apa Blue yang menyuruhnya untuk di suapi?'


Farenzo mengerutkan kening semakin dalam. Dia pun mengambil tubuh Blue, sebelum Blue bisa memakan daging dari kaki depan Moku.


"Blue, kau bisa makan sen- "

__ADS_1


Ucapan Farenzo terhenti begitu dia merasakan detak jantung Blue yang sangat cepat.


Pupil mata Farenzo bergetar.


"Blue, apa kau sakit?"


Semua mata langsung tertuju pada Kucing hitam yang berada di tangan Farenzo.


Blue merasa malu saat di lihat banyak orang, apalagi Moku juga sedang melihat ke arahnya. Dia pun menundukkan kepalanya.


Namun, Farenzo salah paham akan tindakan Blue. Dia mengira bahwa Blue bahkan tidak kuat untuk menjawab pertanyaannya, karena dia sedang sakit.


"Tuan Curran, saya izin permisi. Sepertinya Blue sedang sakit."


"Tentu, silahkan."


"Terimakasih, Tuan Curran."


Farenzo menggendong Blue dengan erat, lalu mengambil langkah besar berjalan keluar menuju tempat tabib untuk mengetahui kesehatan tubuh Blue.


Moku memiringkan kepalanya, melihat kepergian Blue dan Farenzo. Setelah itu, dia lanjut memakan daging yang ada di piring.


"Oh benar."


Morgan memandangi wajah putranya.


"Yuda, Ayah akan pergi malam ini, karena urusan Ayah dengan Tuan muda Curran telah selesai. Apa kau menginginkan sesuatu?"


Yuda menatap wajah ayahnya dengan tatapan rumit.


"Jangan mati."


Yuda menjawab dengan suara datar, lalu melanjutkan makannya.


Ekspresi wajah Morgan menjadi kaku.


"Oi baji- ekhem, maksudku Paman Morgan."


Sudut mulut Morgan berkedut.


"Ya Tuan muda Rein, apa anda menginginkan sesuatu?"


"Belikan aku senjata tajam yang ringan untuk di lempar, dan pastikan kau membawa makanan saat datang kemari."


Morgan terkekeh. Berbicara dengan Rein, mengingatkan dirinya kepada mendiang istrinya.


Hanya mengatakan apa yang ingin dia katakan tanpa tahu malu.


"Baiklah, baiklah, saya akan membelikan barang yang anda minta. Bagaimana dengan anda, Tuan muda Curran?"


"Aku harap kau masih hidup besok."


Morgan tertawa kecil mendengar suara dingin yang berikan oleh Curran.


"Saya mengerti, saya mengerti, saya akan membelikan sesuatu untuk anda saat datang kemari."


Curran menyipitkan matanya. Dia berusaha menahan dirinya untuk tidak membakar Morgan hidup-hidup.


"Ayah."


Curran menoleh ke samping, lalu menatap Rein dengan tatapan lembut.


"Kenapa hm?"


"Daging milik Ayah gosong, masih mau di makan?"


"Huh?"


Curran memandangi piringnya yang ternyata daging di piring tersebut telah berubah warna menjadi hitam.


Tubuh Morgan bergetar hebat. Dia berusaha mati-matian untuk menahan tawanya agar tidak lepas.

__ADS_1


Curran menghela napas.


"Mark, ganti dagingnya dengan yang baru."


"Baik Tuan."


* * *


Rein bersandar di tepi jendela. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya.


Moku duduk di atas kasur bersama Joy dan Moya. Mereka bertiga memperhatikan Rein yang sedang melamun memandangi langit malam.


[ Master. ]


Croft terbang mendekati Rein, dan duduk di pundak kanannya.


Rein melirik sekilas Croft, lalu memandangi langit malam dengan tatapan kosong.


[ Master, anda kenapa? ]


"Aku ingin merampok."


Suara Rein terdengar lesu saat menjawab pertanyaan dari Croft.


Croft terdiam. Dia mengorek telinganya untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar, saat Rein mengatakan ingin merampok.


"Sudah lama kita tidak merampok."


Rein menghela napas panjang.


Croft mengedipkan matanya beberapa kali. Ternyata, memang benar dia tidak salah dengar. Namun, dia bingung harus bahagia atau tidak saat mendengarnya.


Klik.


Rein melirik ke arah Curran yang baru saja selesai mandi. Tetesan air di rambut merahnya mengalir membasahi dada bidangnya.


Setelah Rein perhatikan, kulit Curran sedikit lebih putih dan cerah.


Mungkin karena dia selalu berada di dalam kediaman untuk mengurus berkas-berkas, di banding sebelumnya yang selalu keluar untuk melawan monster.


"Apa yang kau lakukan di situ?"


"Hanya ingin."


Curran mengangguk pada jawaban Rein. Lalu memanggil Mark untuk membantu memakai pakaiannya.


Rein mengalihkan pandangannya dari Curran yang sedang memakai pakaian di bantu oleh Mark, dan kembali memandangi langit malam.


Awalnya, dia berniat untuk melakukan bisnis untuk bisa mendapatkan uang. Namun, entah kenapa saat ini dia lebih menyukai merampok.


Apa ada yang salah dengannya?


Sudut mulut Croft berkedut. Dia mencium aroma emas yang familiar.


[ Master, beberapa menit lagi pangeran emas akan datang kemari. ]


Rein mengerutkan keningnya.


Curran melotot terkejut. Dia mempercepat proses dalam memakai pakaiannya.


"Mark, siapkan makanan segera."


"Baik, Tuan."


Moya mengedipkan matanya beberapa kali. Dia tertegun melihat ekspresi marah Curran, dan memangnya siapa pangeran emas yang di maksud oleh Croft?


Tak lama kemudian, sebuah cahaya muncul dan menampilkan dua sosok bangsawan yang memiliki rambut pirang.


"Hai Ran."


"Apa tidak ada tempat lain sebagai titik lokasinya, Yang mulia?!!"

__ADS_1


__ADS_2