
Rein berjalan menyelusuri kediaman Lester. Moku yang berjalan sejajar dengannya. Croft yang duduk di pundak kanan Rein, serta Joy yang melayang di samping kiri Rein.
[ Master, apa anda tidak memiliki minat untuk merampoknya gitu? ]
Croft mengajukan pertanyaan.
Sedari tadi mereka melewati beberapa benda yang di lapisi dengan emas, namun Rein tetap berjalan tanpa berhenti.
Rein berjalan-jalan karena suasana hatinya sedang tidak baik. Pikirannya rumit. Mungkin karena dia berada di tubuh anak kecil, yang membuatnya sulit untuk mengatur ekspresinya.
Bertemu dengan seseorang yang mengingatkan dirinya tentang masa lalu, membuat suasana hatinya menjadi emosional.
Dia perlu melakukan sesuatu agar hatinya kembali menjadi tenang.
Rein menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas, lalu memejamkan matanya sejenak. Kemudian, membukanya kembali.
"Croft, aku marah."
~ Myuu?
Moku memiringkan kepalanya ke samping. Dia tidak mengerti maksud dari ucapan Rein.
~ "Hm?"
Joy menatap dengan bingung.
[ Saya akan memberitahu Curran untuk langsung kembali ke kediaman Crimson bila sudah selesai. ]
"Hm."
Croft segera melakukan telepati ke Curran setelah Rein menyetujui sarannya. Setelah beberapa saat mendapatkan izin dari Curran.
[ Kalian berdua, pegangan pada Rein. ]
Joy segera melayang lebih dekat dengan Rein. Moku memeluk kaki Rein dengan erat.
Cahaya keemasan menyelimuti bagian kaki Rein, hingga mencapai kepalanya. Dan mereka pun menghilang dari kediaman keluarga Lester.
* * *
[ Kita sudah sampai. ]
Rein membuka matanya mendengar suara Croft. Dia melihat hutan rimbun yang memiliki berbagai macam jenis pohon.
"Kita dimana?"
[ Kita berada di daerah selatan wilayah Crimson. Disini, terdapat monster-monster yang cukup kuat. ]
Rein menyeringai mendengar penjelasan dari Croft. Dia tidak menyangka usulan Croft sangat mengesankan.
Dia memang butuh pelampiasan untuk menenangkan dirinya.
"Kau memang luar biasa."
[ Tentu saja. ]
Croft tersenyum, dengan membusungkan dadanya bangga mendengar pujian untuknya.
~ "Bukankah hutan ini cukup berbahaya?"
Joy mengajukan pertanyaan. Dia merasa khawatir akan keselamatan Rein.
~ Myuu! Myuu!
Moku berseru gembira. Sudah lama dia tidak pergi berburu monster kecil dan lemah.
[ Anda butuh perisai? ]
Croft menghiraukan pertanyaan dari Joy. Dia malah mengajukan pertanyaan untuk Rein.
"Tidak perlu."
Rein mengeluarkan belati merah, yang sekarang sudah berubah warna menjadi emas.
Rein menendang tanah, yang membuat dirinya melayang, lalu melesat masuk ke dalam hutan.
"Siapa cepat, dia dapat."
~ Myuu Myuu.
Moku berlari di belakang untuk menyusul Rein.
Croft merangkul pundak Joy.
[ Hei, mari kita berburu harta karun. ]
~ "Bagaimana dengan Cutie pie?"
[ Tidak apa-apa, Master sedang bersenang-senang. Jadi kita pun harus melakukan hal yang sama. ]
Joy berpikir sejenak. Dia khawatir dengan keadaan Rein, namun dia juga belum pernah berburu harta Karun.
__ADS_1
~ "Baiklah, Joy akan ikut berburu harta Karun dengan Croft."
Joy berseru bersemangat untuk bermain mencari harta Karun.
Croft tersenyum kecil. Dia menarik tangan Joy untuk mencari harta Karun, dengan kemampuan penciuman tentang emas.
[ Ayo. ]
~ "Baik."
* * *
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Monyet! Dasar Monyet!"
Rein secara terus menerus memukul monster yang memiliki kekuatan fisik sekuat baja.
Monster berukuran dua meter, melindungi wajahnya, mata hitamnya menatap dengan marah manusia kecil yang mengganggu tidur siangnya.
~ Ggrrroouuuwww...
Monster berbulu hitam pekat itu berteriak, membuat Rein yang sedang memukulnya terpental hingga menubruk pohon.
Bruukk.
Uhukk.
"Monyet sialan!"
Rein mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Kemudian, dia bangkit kembali dan mengumpulkan angin di bagian kakinya. Lalu melesat menuju monster berbulu hitam.
Buaghh..
~ AARRGHHH...
Rein menendang wajah monster berbulu hitam dengan kuat. Kemudian, dia kembali memukuli monster tersebut.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Sudah hitam! Jelek lagi!! Dasar monyet!!"
~ AARRGHHH...
***
Boom.
Moku melempar bola api pada monster jelek yang memiliki air liur di mulutnya.
~ Ggrrrmmm...
Moku memunculkan cakarnya, lalu bergerak dengan anggun melawan monster tersebut.
Sret.
Sret.
Sret.
~ Uuuuuuuu....
Rintihan kesakitan terdengar seperti alunan melody di telinga Moku. Dia mengibaskan ekornya ke samping, lalu mayat monster yang sudah dia lawan terbakar oleh api miliknya yang cantik.
Tap.
Moku mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menoleh ke belakang. Disana ekor cantik miliknya di gigit oleh salah satu monster jelek.
~ Myuu!
Sret.
Bruukk.
Moku yang baru saja ingin memprotes pada monster jelek tersebut, malah di lempar hingga jatuh ke genangan air yang rendah.
Semua bulu indah dan bersih miliknya menjadi basah dan kotor.
Moku mendongak untuk melihat monster yang sudah berani melempar dirinya.
Terlihat sekelompok monster tersebut mengelilingi Moku, dengan tatapan seolah-olah melihat mangsa yang mudah.
Moku menampilkan taring tajam miliknya. Kemudian, menggoyangkan kepala hingga tubuhnya untuk menghilangkan jejak air.
__ADS_1
Setelah itu, dia melompat dan mengubah ukuran tubuhnya menjadi besar. Lalu, menerjang monster kotor tersebut.
Moku melawan sekelompok monster jelek dengan brutal, tidak ada keanggunan seperti sebelumnya.
Sreettt.
Bruukk.
Bugh.
Mencakar, mencabik, menggigit, menendang, dan terakhir membakar segala apapun yang berada di dekatnya.
~ UUUUUUUU...
Teriakan kesakitan monster tersebut, terdengar sayup di kobaran api yang menyala.
* * *
Push push push.
Croft terus menggali tanah menggunakan kedua tangannya yang mungil. Ini sudah lubang yang ke 99 sejak masuk ke dalam hutan.
Dia sudah memperoleh banyak benda berkilau, berkat indra penciumannya.
Mulai dari emas, permata, Cristal, dan magic stone.
Sarung tangan putih yang membungkus jari mungilnya, hingga berubah warna menjadi kecoklatan akibat terus menggali.
Duk.
Senyum Croft mengembang, saat galian tanah yang dia lakukan mulai membuahkan hasil. Sebuah kayu yang memiliki ukiran rumit mulai terlihat.
Croft menggali tanah lebih cepat dari sebelumnya. Lalu, sebuah peti besar mulai menampakkan dirinya.
Croft membuka peti tersebut, ternyata terdapat banyak sekali botol kecil yang berisi cairan warna biru.
[ Ini seperti botol kecil yang Morgan gunakan saat terluka oleh Master. ]
[ Ini bukan peti emas. ]
Dengan lesu Croft menyimpan peti tersebut ke dalam inventori. Dia kemudian menggali lagi, dan menemukan ukiran kayu yang sama.
Ternyata peti yang sama, dengan ukuran yang lebih kecil dari peti sebelumnya.
Croft pun membuka peti tersebut.
[ Emas. ]
Mata Croft berbinar cerah melihat tumpukan emas di dalam peti temuannya.
[ Ini yang dinamakan peti harta Karun. ]
Croft menyimpan kotak peti masuk ke dalam inventori. Lalu, dia menggali lagi. Karena, menurut Indra penciumannya, masih ada benda harum yang tercium.
Dan benar saja, Croft menemukan kotak polos warna hitam berukuran kecil. Dia membersihkan tanah yang menempel, lalu membukanya.
[ Wow. ]
Sebuah berlian putih berukuran sebesar buah apel terdapat di dalam kotak hitam.
[ Master pasti menyukainya. ]
Croft langsung menyimpan berlian tersebut.
Setelah itu, Croft terbang ke atas permukaan tanah. Namun, dia segera mengerutkan keningnya saat tidak menemukan keberadaan Joy yang seharusnya menunggu dia di atas.
[ Joy? ]
~ "Croft."
Joy terbang menuju Croft dengan membawa sebuah benda berwarna kuning kecoklatan yang memiliki lubang di setiap sisinya.
Croft melotot. Dia terkejut melihat Joy yang terbang dengan membawa sarang lebah.
[ Apa yang kau lakukan? Kembalikan itu ke tempatnya! ]
Joy memberengut mendengar ucapan dari Croft.
~ "Tidak! Ini punya Joy."
Dia mendapatkannya dengan susah payah, mengapa dia harus mengembalikan benda ini lagi?
Ng Ng Ng Ng
Sekelompok lebah merah berukuran besar mengelilingi mereka berdua dengan tatapan marah.
~ Ssrrhhh...
Croft mendecakkan lidahnya. Dia terbang dengan cepat, lalu menarik tangan Joy dengan erat.
[ Lari!!! ]
__ADS_1
~ "Kyyyaaa!!"