Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 41


__ADS_3

~ Myuu Myuu.


Moku mengetuk kaki Curran, dia juga akan ikut bila Rein ikut bersama dengannya.


"Tentu kau juga boleh ikut."


Moku mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri.


"Aku juga akan pergi."


Yuda mengajukan suaranya. Sebagai seorang kesatria dia harus mengikuti kemanapun tuannya pergi, meski itu hanya sementara sekalipun.


Curran melirik ke arah Yuda. Lalu menjawabnya.


"Tentu."


Farenzo memiliki ekspresi rumit di wajahnya.


Dia memang memiliki niat untuk melakukan penyerangan terhadap bangsa Ork, tapi bila yang ikut ke dalamnya adalah orang-orang kuat dari kehidupan sebelumnya.


Bukankah itu menjadi pembantaian?


Farenzo menggigit bibirnya. Lalu tatapannya jatuh pada seorang anak kecil yang berada di gendongan Curran.


'Itu benar.'


Rein masihlah anak-anak, itu artinya dia orang terlemah dalam kelompok mereka.


Farenzo bertekad akan melindungi Rein selama pertarungan nanti.


Blue, sang kucing hitam. Menatap Moku tanpa berkedip sejak tadi. Dia merasa terpesona oleh kecantikan yang ada di seekor rubah kecil yang berada di dekat kaki Curran.


Selama ratusan tahun dia hidup, dia belum pernah bertemu hewan secantik rubah di depannya.


Hiiikkk!!!


"Maaf."


Curran menggigit bibirnya.


Dia lupa bahwa dia tidak bisa menyentuh orang maupun hewan sekalipun. Itulah sebabnya dia selalu menggunakan gulungan kertas teleportasi, bila ingin pergi ke suatu tempat.


Kuda yang baru saja dia sentuh, bulunya terbakar dan terluka hingga membuatnya memekik keras karena kesakitan.


"Tidak Tuan, ini kesalahan saya. Saya benar-benar minta maaf."


Kendrick berlutut di hadapan Curran.


Karena terlalu sering melihat interaksi antara Curran dan Rein, dia melupakan fakta bahwa Curran memiliki kemampuan atribut api.


Yang membuatnya tidak bisa menyentuh siapapun.


Rein mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka, bahwa Curran bahkan tidak bisa menyentuh hewan.


"Moku."


~ Myuu.


Moku berjalan dengan anggun menuju tempat yang cukup luas. Dia pun mengubah ukuran tubuhnya menjadi besar hingga setara dengan seekor kuda.


~ Myuu Myuu.


Moku berseru pada Curran, memberitahu bahwa dia diizinkan untuk menaiki punggungnya.


Curran tersenyum tipis.


"Kendrick, obati kuda itu. Aku akan menaiki Moku."


"Baik Tuan."


Blue yang melihat Moku berubah menjadi besar, terlihat menawan di matanya. Dia pun berjalan menuju tempat di sebelahnya, untuk menunjukkan betapa hebat dan gagah dirinya.


~ Ggrrroouuuwww.


Blue mengaum keras, lalu menoleh ke samping untuk melihat reaksi Moku.


Sayangnya sang rubah tidak meliriknya sedikitpun.


Farenzo mengernyit heran. Melihat Blue yang mengubah ukuran tubuhnya, bahkan sebelum dia memintanya.


Namun dia segera menyimpulkan bahwa Blue merupakan spirit best yang pintar, karena melakukan sesuatu yang dibutuhkan untuknya.


Farenzo pun menaiki punggung Blue, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Terimakasih."


Blue sendiri bingung mengapa rubah di sampingnya tidak melihatnya.

__ADS_1


Apa karena dia kurang keren?


"Kita berangkat sekarang."


Moku berlari dengan cepat. Bersama Curran, Rein, Joy, dan Croft yang berada di atas punggungnya.


Di susul Yuda dengan kuda hitam, lalu Kendrick menggunakan kuda coklat, dan para kesatria lainnya.


"Blue, ayo kita bergerak."


Blue berlari dengan cepat. Dia mencoba untuk menyusul rubah merah yang berada di barisan paling depan.


Rein menyipitkan matanya, saat melihat siluet merah dari kejauhan yang menjadi tujuan dari perjalanan mereka.


"Croft, cahaya apa itu?"


Mendengar pertanyaan dari Rein, Croft segera mencari tahu informasi tentang cahaya yang di maksud.


[ Cahaya itu merupakan api milik seekor monster Salamander. ]


[ Monster tersebut berasal dari Benua timur. ]


Tatapan mata Curran menjadi keruh. Pikirannya rumit.


"Bagaimana keadaan di sana?"


Rein mengajukan pertanyaan lainnya pada Croft.


[ Ada 300 half Ork yang berada di lokasi tersebut, di antaranya 3 half Ork tewas. 50 half Ork mengalami luka bakar.


75 half Ork sedang bertarung melawan monster Salamander. 50 half Ork mencoba memadamkan api dengan air, dan sisanya pergi bersembunyi untuk menyelamatkan diri. ]


Rein merenungkan informasi yang dia dapatkan dari Croft.


Bila bangsa half Ork mati, maka dia akan kehilangan calon pekerja untuknya.


'Ini tidak bisa di biarkan.'


Rein telah mengambil keputusan bahwa dia akan menyelamatkan bangsa half Ork.


"Ayah, bisakah kita membantu mereka? Setelah itu, kita bisa berdiskusi tentang pencurian makanan dengan mereka."


Curran menunduk untuk melihat wajah Rein yang sedang menatapnya dengan mendongak. Kemudian, dia tersenyum tipis.


"Baiklah, kita akan membantu mereka."


"Benarkah?"


Curran memperbaiki posisi kepala Rein agar menghadap ke depan, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Kita bisa membantu mereka."


"Terimakasih Ayah."


"Itu bukan hal yang sulit."


Curran menepuk kepala Rein dengan lembut. Tatapan matanya sedikit tajam melihat kobaran api yang mulai terlihat jelas.


Rein menepuk punggung Moku.


"Moku, bantu Ayahku melawan monster Salamander di sana."


~ Myuu Myuu.


Moku berseru mendengar perintah yang Rein berikan untuknya.


~ "Joy akan bersama Cutie pie."


Joy melayang di hadapan wajah Rein, dengan ekspresi serius dan penuh tekad.


"Tentu, kau akan bersamaku."


Joy tersenyum puas mendengar jawaban dari Rein, yang menyetujui ucapannya.


Croft mengerutkan keningnya, melihat Joy yang tersenyum.


* * *


Aaaaaaa.


Bruukk.


Bumm.


Braakk.


Seekor monster Salamander berukuran 3 meter, sedang mengamuk menghancurkan dan membakar bangunan serta pohonan yang berada di tempat itu.

__ADS_1


"Cepat! Bunuh monster itu!"


"Selamatkan desa kita!"


Aaaaaaa.


Bugh.


"...."


Puluhan para half Ork terdiam menyaksikan monster Salamander yang baru saja di tendang oleh monster api lainnya.


~ Myuu Myuu.


Moku berseru dengan keras.


Curran melirik ke samping untuk melihat para half Ork yang terdiam, lalu dia mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dan menyelimuti pedang tersebut dengan kekuatan api miliknya.


"Ayo."


~ Myuu.


Moku kembali berlari untuk menerjang monster Salamander.


"Manusia itu membantu kita?"


Salah satu half Ork mengajukan pertanyaan, namun tak satu pun dari mereka yang menjawabnya.


Farenzo datang menghampiri para half Ork dengan Blue, lalu berkata dengan suara tegas.


"Kami datang kemari untuk berdiskusi dengan kalian! Jadi, jaga sikap kalian terhadap tuan Curran."


Tatapan mata Farenzo tajam dan penuh penekanan. Agar para half Ork lebih tahu diri setelah mereka di bantu.


"Aku mengerti."


Drax, half Ork yang memiliki tubuh besar dan berotot, sekaligus pemimpin dari bangsa half Ork menjawab dengan rasa terimakasih.


"Kita bantu yang lain."


Drax, memberikan perintah untuk half Ork lainnya untuk membantu yang lain dan menyerahkan monster Salamander pada manusia itu.


Blue menatap Moku yang sedang bertarung dengan monster Salamander bersama Curran, dia ingin ikut membantu namun Farenzo segera menahannya.


"Blue, kita tidak bisa mendekati mereka berdua."


Farenzo menggigit bibirnya. Dia merasa gelisah sejak tadi mendengar suara suara yang mengganggu.


~ Ini panas!


~ Mengapa aku harus mati seperti ini!


~ Huuaaaa! Sakiiittt!


~Panaass!!!


Farenzo menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan. Dia harus berpikir dengan jernih.


"Mari kita bersama dengan yang lainnya."


Merasakan tepukan dari Farenzo, Blue dengan berat hati meninggalkan Moku untuk bertarung sendirian.


"Water Ball."


Kendrick melemparkan mantra sihir ke atas langit, untuk memunculkan banyak air agar bisa memadamkan api di sekitar.


Rein mengerutkan keningnya, melihat ukuran bola air di atas yang kecil. Itu tidak akan bisa memanggil Luck untuk datang kemari.


Rein memfokuskan matanya pada bola air tersebut.


'Hack.'


Bola air yang memiliki diameter 200 cm, berubah menjadi 2 meter.


Kendrick dan beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut menatap dengan takjub.


"Wow, Sir Kendrick, sihir anda sangat luar biasa."


Kendrick tersadar dari lamunannya. Dia merasa bingung harus menjawab dengan apa, karena dia sendiri tidak tahu tentang yang terjadi.


Uhuk.


Yuda mencium aroma darah yang berada tak jauh darinya. Dia pun memperhatikan orang-orang di sekitar, hingga tatapannya tertuju pada dagu Rein yang meneteskan darah.


Tap.


Curran dan Moku memasang wajah datar, melihat Yuda yang berada di dekat Rein bahkan menyentuh wajahnya.

__ADS_1


Sring.


Boom.


__ADS_2