
"Perang, akan ada perang di hutan Volker."
"...."
Jasvier terdiam di tempat. Kinara mengeratkan pelukannya. Dan pandangan Curran berubah menjadi dingin.
Rein merasakan perubahan suasana dalam ruangan ini, dia pun turun dari kasur dan berkata;
"Yang mulia, bisakah saya meminta peta lokasi hutan Volker?"
"Tentu."
Jasvier melepas pelukan dari adiknya, lalu memasuki sebuah ruangan yang berada di sebelah.
Puk.
Curran menepuk kepala Rein.
"Bagaimana keadaan mu?"
Rein mendongak, tatapannya tertuju pada wajah Curran. Kemudian dia menjawab pertanyaan Curran dengan tenang.
"Aku merasa lebih baik."
"Senang mendengarnya."
Kinara menatap interaksi mereka berdua dengan pandangan bingung, setahunya Curran tidak bisa melakukan kontak fisik dengan orang lain.
Apa sekarang sudah bisa?
Kinara segera menepis pemikiran itu, masalah yang ada di depannya lebih penting di banding rasa penasarannya.
Kinara berjalan lebih dekat ke arah Rein, lalu memulai percakapan.
"Boleh ku tahu siapa namamu?"
Rein menoleh, dia melihat gadis rambut pendek sepundak yang memiliki netra emas berkilau.
"Namaku Rein Crimson."
"Senang berkenalan denganmu, perkenalkan namaku Kinara Osmond."
"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu Tuan putri."
Kinara mengangguk singkat atas sapaan sopan dari Rein.
Tak lama setelah itu, Jasvier datang dengan membawa satu buah gulungan kertas dan beberapa kertas kosong serta tinta hitam di tangannya.
Mereka berempat pindah tempat ke meja yang terdapat kursi panjang di kedua sisinya.
Rein mengetuk peta yang terdapat nama hutan Volker.
"Ada sekitar seribu monster di hutan ini."
Rein menjeda ucapannya sejenak, dia melihat wajah mereka satu persatu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dan hanya satu orang yang mengendalikan monster tersebut."
Hening.
Terjadi keheningan dalam ruangan, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing atas informasi yang dikatakan oleh Rein.
Namun Rein tetap melanjutkan perkataannya, dia berniat untuk tidur setelah mengatakan hal yang ingin mereka ketahui.
"Orang tersebut berada di level bintang 10, dan dia memakai jubah hitam dengan pola bulan sabit merah di bagian dada kanan."
Informasi itu Rein dapatkan dari Croft, dan dia berencana memberikan beberapa informasi tambahan karena sudah mengambil beberapa berlian yang ada di kamar ini.
__ADS_1
"Aku akan memberitahu ciri-ciri monster yang ada di hutan Volker, jadi catatlah."
Jasvier segera membuka kertas kosong, dan mulai mencatat semua informasi yang diberikan oleh Rein.
Rein menguap setelah selesai memberitahu beberapa informasi tentang monster hutan Volker.
Dia mulai merasa lelah dan mengantuk. Mungkin karena dia berada di tubuh anak kecil itu membuatnya lebih cepat lelah.
"Tidurlah bila kau mengantuk."
Curran mengusap kepala Rein.
Rein mengangguk lesu. Dia pun bersandar pada pundak Curran, dan langsung tertidur lelap.
Croft melayang dan mendarat di kepala Curran, dia duduk di sana karena tidak ingin mengganggu Rein.
"Ini membuat ku gila!"
Jasvier merasa sakit kepala atas informasi yang dia terima.
"Kak Vier, apa kita harus memberitahu ayah?"
Kinara mengajukan pertanyaannya.
Menurut informasi yang diberikan Rein, mereka memang memiliki peluang untuk menang. Namun ada satu masalah yang perlu mereka hadapi.
Orang itu, orang yang bisa mengendalikan 1000 monster.
"Tentu saja kita perlu memberitahunya."
Jasvier menjawab dengan tegas.
Kalau orang itu memang sudah berniat perang melawan kerajaan Xinlaire, maka ayahnya Raja kerajaan Xinlaire perlu tau.
"Menurut pendapat ku, tujuan dari orang itu agar nama kelompok mereka dikenal."
Curran melanjutkan ucapannya
"Menang atau kalah, hasilnya akan sama."
Curran mengetuk kertas yang memiliki gambar bulan sabit merah.
"Kelompok mereka akan tetap diketahui banyak orang."
[ Ho, itu terdengar masuk akal. ]
Croft mengangguk-anggukan kepalanya mendengar pernyataan dari Curran.
Jasvier menghela nafas panjang.
"Itu terdengar lebih rumit dari yang aku kira."
Hanya ada satu cara untuk menangani masalah ini bila memang tujuan mereka agar kelompok mereka diketahui oleh banyak orang. Yaitu, membunuh orang itu sebelum dia muncul.
"Beritahu aku bila kau butuh bantuan."
Curran menawarkan bantuannya, dia tidak tega melihat temannya terlihat frustasi seperti itu.
Jasvier tersenyum tipis. Dia merasa lega mendengar Curran menawarkan bantuan padanya dengan sukarela, tidak seperti bangsawan lainnya yang ingin memanfaatkan balik dirinya.
Itu memang hal yang wajar, tapi sesuatu yang gratis itu lebih manis rasanya.
"Terimakasih."
Curran mengangguk.
Kinara yang melihat interaksi antara kakaknya dan Curran terlihat bingung.
__ADS_1
Kemudian tatapan matanya melihat bolak-balik di antara mereka berdua, lalu tatapannya jatuh pada anak kecil yang sedang tertidur pulas dengan bersandar pada pundak Curran.
Kinara segera menutup mulutnya atas jawaban yang telah dia peroleh, dia pun segera menatap Jasvier dengan sedih.
Jasvier merasa bingung dengan tatapan adiknya, namun dia mengira adiknya merasa simpati padanya tentang perang yang akan mereka hadapi.
Jasvier pun mengelus-elus rambut kuning keemasan milik Kinara.
* * *
[ Master, anda harus bangun ini sudah siang! ]
Croft berteriak di telinga Rein yang membuatnya langsung membuka matanya.
Rein melihat langit-langit kamar Curran.
'Sialan kau Croft!!'
Croft cekikikan melihat wajah terkejut Rein.
Rein bangkit dari posisi tidur nyamannya, lalu duduk bersandar dan matanya memperhatikan sekitar.
"Kemana semua orang?"
[ Curran dan Kendrick sedang menuju ke tempat panti asuhan anak kecil ini pernah tinggal, dan Mark sebentar lagi akan tiba. ]
"Oh."
Rein menyahut dengan acuh tak acuh. Dia sudah memiliki pemikiran bahwa Curran akan menyelidiki tentang kebenaran dari ceritanya.
Toh dia mengatakan hal yang benar tentang anak ini, jadi dia tidak peduli dan khawatir akan hal tersebut.
"Tuan muda Rein, ternyata anda sudah bangun."
Seperti yang dikatakan Croft, Mark datang tak lama setelah itu.
"Paman Mark, dimana ayah?"
Mark tersenyum simpul mendengar pertanyaan dari Rein yang menanyakan tentang Curran saat bangun tidur.
"Tuan muda Ran sedang mengunjungi suatu tempat, beliau berkata akan pulang saat pekerjaannya sudah selesai."
Mark menjawab dengan senyum tenang yang terpatri di wajahnya.
Rein mengangguk, lalu mengajukan pertanyaan lainnya.
"Paman Mark, apa aku boleh mengunjungi Green Forest? Aku ingin tahu tanaman herbal apa saja yang ada di sana."
Bila memang kerajaan ini akan menghadapi perang, kemungkinan besar keluarga ini akan terlibat. Jadi dia perlu melakukan sesuatu.
"Tentu saja Tuan muda Rein, saya akan membimbing anda kesana."
Mark menjawab dengan senyum yang masih terlihat di wajahnya.
"Terimakasih."
Rein turun dari kasur dan bersiap untuk mandi.
[ Master, saya ingin beritahu anda kalau saya menemukan sesuatu yang menarik di hutan Green Forest. ]
'Katakan itu nanti.'
[ Baiklah, oh apa saya juga boleh ikut masuk ke kamar mandi? Seperti waktu saya- ]
'Duduk diam di atas kasur!'
Rein dengan cepat memotong celotehan Croft, dan menyahuti dengan tegas. Sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Croft di depan pintu.
__ADS_1
Croft mengedipkan matanya beberapa kali, lalu terkekeh kecil, kemudian melayang dan mendarat di atas kasur.