Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 19


__ADS_3

'Apa yang kau lakukan? Bukankah kau ingin membunuh penyihir itu. Jadi, apa yang kau lakukan?'


Farenzo terdiam atas pertanyaan yang diajukan oleh Rein.


Pupil matanya yang bergetar menjadi lebih tenang, dan secara perlahan mulai menajam. Lalu aura membunuh kembali mengelilingi seluruh tubuhnya, membuat udara dingin mulai menyusut dari tubuhnya.


'Berengsek!!'


Farenzo menggerakkan giginya, dia menggerakkan tangannya yang gemetar untuk memegang pedang. Lalu menancapkan pedang miliknya ke tanah agar dia bisa menahan beban tubuhnya.


Tangan kirinya memegang batang pohon dan mencoba untuk bangkit.


"Aku akan membunuh mu bajingan!!!"


Farenzo mendesis tajam. Kemudian menyelimuti pedang miliknya dengan aura hitam yang pekat, lalu melesat pergi dari tempatnya berada.


Di sudut terjauh pertarungan, seorang anak kecil dengan makhluk mungil di sampingnya sedang makan popcorn melihat pertarungan mereka.


Rein baru saja selesai berburu harta karun bersama dengan Croft, dan duduk di atas pohon untuk melihat pertarungan Curran dan yang lainnya.


Lalu matanya melihat Farenzo yang sedang meringkuk gemetar di bawah pohon. Menurut informasi yang dia peroleh dari Croft, Farenzo sedang mengalami masalah mental akibat kemampuan atribut kegelapan yang dimilikinya.


Rein mencoba untuk berkomunikasi dengan Farenzo lewat pohon, dan hasilnya cukup memuaskan. Jadi, dia melanjutkan aksi menontonnya.


[ Master, mengapa anda tidak membantu mereka bertarung? ]


"Croft, aku bukan seorang seniman beladiri yang melawan musuh dengan tangan kosong."


"Aku bukan seorang sword master yang bertarung dengan pedang."


"Aku juga bukan seorang magician yang melawan menggunakan sihir."


"Aku seorang hacker."


Apa yang dilakukan seorang hacker? Tentu saja mengamati, lalu melakukan serangan secara semu.


Lagipula Rein memiliki gambaran kasar tentang pertarungan yang terjadi.


Satu orang rela berkorban untuk kepentingan rakyatnya, yang satu memiliki kesetiaan terhadap seorang teman, dan terakhir memiliki rasa balas dendam yang kuat.


Mereka bertiga telah di buang.


Menang atau kalah, posisi mereka tetap berada di tepi jurang kematian.


Namun, karena mereka telah di buang maka Rein akan memungutnya.


'Hm? Kira-kira berapa banyak emas yang di miliki oleh istana kerajaan? Apakah ada berlian?'


Rein menyeringai kecil saat otaknya mulai menyusun rencana perampokan untuk target selanjutnya.


Traaanngg..


Denzel melempar Farenzo menggunakan sihir angin, lalu menciptakan jarum es, kemudian mengirimkan serangan tersebut ke arah Curran dan Jasvier.


Curran menyelimuti pedangnya dengan api, lalu menebas jarum es yang mengarah pada dirinya. Kemudian dia mendekati Jasvier, saat dia melihat Jasvier sedikit kewalahan menghadapi serangan mantra sihir es.


Sreettt...


Uhukk.


Jasvier memuntahkan seteguk darah saat dirinya terpukul mundur dari serangan Denzel.


"Anda bisa beristirahat Yang mulia."


Netra birunya menatap pemuda rambut merah yang masih terlihat bugar setelah melawan penyihir bintang 10 selama beberapa menit.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ini hanya darah."


Jasvier mengusap darah dari mulutnya, dan kembali menyelimuti dua pedang miliknya dengan aura.


Kemudian berlari menyusul Farenzo yang terlihat bertarung dengan Denzel bersama dengan Blue.


Curran tersenyum kecil melihat sikap Jasvier. Dia pun menyelimuti seluruh tubuh serta pedangnya dengan api, dan bergabung dengan mereka.


Tap.


Denzel melompat dari tanah yang baru saja dia injak.


Duuaarrr..


"Sialan!! Siapa yang memasang bom di tengah hutan?!"


Denzel menggerakkan giginya. Dia merasa marah, dia mendapat printah untuk menjaga tambang emas di hutan Volker dari para bangsawan kerajaan Xinlaire.


Awalnya dia merasa bahwa tugas itu cukup mudah, belum lagi dia bisa menjinakkan seluruh monster yang ada di hutan tersebut.


Jadi dia tidak perlu bertarung dan cukup bersantai saja. Namun yang terjadi malah sebaliknya.


Sekelompok tiga orang dengan seekor kucing hitam datang menyerang dirinya. Dia bahkan kesulitan untuk memanggil para monster yang sudah dijinakkan.


"Denzel!! Aku akan membunuhmu!"


Denzel cukup terkejut saat namanya disebut, hal itu membuat dirinya lengah lalu terpukul mundur. Namun, dia dengan cepat menguasai dirinya kembali.


"Hahaha."


Denzel tertawa hambar. Dia sekarang menyadari alasan mereka terus menyerang dirinya bahkan berniat untuk membunuhnya.


Dia di buang.


Pantas saja dirinya di beri tugas yang sangat mudah, ternyata dirinya sudah di buang.


Hanya itu yang dapat dia simpulkan. Karena tidak mungkin para bangsawan kerajaan Xinlaire mengetahui tentang namanya, bahkan mereka sampai mengetahui lokasi dirinya berada.


"Jadi ... Kau membuangku?"


Denzel mengatakannya dengan senyum pahit.


Dia mengeraskan rahangnya, dan mencengkeram tongkat sihir dengan kuat.


"Kau mengirim mereka untuk membunuh ku? Kau telah membuat kesalahan, mereka sangat lemah!!"


Denzel mengumpulkan banyak magis untuk membuat mantra penghancur.


"Aku akan membunuh kalian semua!!!"


Denzel berteriak marah. Dia marah karena di buang, dia marah karena merasa dikhianati, dia marah karena mengirim orang lemah untuk membunuhnya seolah-olah meremehkan kekuatan yang dia miliki.


Krak.


Prangg..


Tongkat sihir yang di pegang olehnya retak, dan hancur berkeping-keping.


"Apa? Apa yang terjadi?"


Bugh.


Farenzo menendang wajah Denzel yang masih terkejut oleh tongkat sihir miliknya yang hancur.


Bruukk..

__ADS_1


Uhukk..


Denzel menubruk sebuah pohon lalu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


"Bajingan berengsek!!!"


Tidak hanya kemarahan yang dirasakan oleh Denzel, tapi juga kebencian.


Itu karena tidak hanya tongkat sihir miliknya yang hancur, melainkan magis miliknya juga hancur berkeping-keping.


Dia sekarang menjadi sampah.


Dia telah kehilangan sihir yang sangat dicintainya.


Denzel menatap ketiga orang yang sudah berada di hadapannya.


"Kalian bajing-"


Sreettt..


Farenzo memotong kepala Denzel sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimatnya.


"Ah akhirnya selesai juga."


Jasvier menghela nafas lega, setelah melalui pertarungan panjang melawan penyihir bintang 10.


Curran memasukkan kembali pedang miliknya, dan menarik kembali aura api yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Tuan muda Curran, sepertinya Rein berada tak jauh dari sini karena saya sempat melakukan komunikasi dengannya."


Farenzo memberitahu Curran agar dia segera pergi menemui Rein, dan kemungkinan Jasvier akan ikut dengannya.


"Ck, dasar anak nakal. Aku akan menemuinya."


Curran segera berlari dari sana dan meminta Joy untuk menemukan lokasi keberadaan Rein.


"Tuan muda Rexxon, aku serahkan mayat penyihir itu padamu. Ran, tunggu aku."


Sesuai yang Farenzo duga, Jasvier mengikuti Curran dalam mencari Rein. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah menunggu.


Menunggu roh Denzel keluar dari tubuhnya, lalu menghancurkannya.


Uhukk uhuk.


Rein memuntahkan darah terlalu banyak hingga pakaiannya berlumuran oleh darah miliknya.


Dia tidak menduga, bahwa menghancurkan sihir level bintang 10 dapat membuatnya seperti ini.


Uhukk uhuk.


'Sial!! Aku muntah darah atau donor darah!! Ini terlalu banyak darah!!!'


[ Ya ampun Master, ini lebih baik daripada anda harus berbaring selama beberapa hari. ]


Croft mencoba menenangkan Rein yang kesal akibat efek samping saat menggunakan skill hacker.


Croft mengusap kepala Rein dan memberikan kekuatan pemulihan agar Rein bisa berhenti memuntahkan darah.


"Rein!!"


Rein mendongak ke atas, dan melihat Curran serta Jasvier yang mematung di tempat.


"Ayah- uhukk."


'Darah sialan!!'

__ADS_1


__ADS_2