Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 31


__ADS_3

"Aku bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki warna rambut dan mata yang sama dengan ibu."


"Hm?"


Netra biru pucat milik Morgan memandang dengan dingin.


"Bisa kau katakan sekali lagi?"


"Aku bertemu dengan seorang anak yang mirip dengan i- kkhhrrss."


Ucapan Yuda terpotong saat ingin mengatakan kata ibu. Dirinya lengah saat berbicara, hingga tak menyadari tangan besar Morgan yang sudah menyentuh lehernya.


"Kkhhrr."


Cengkraman tangan Morgan semakin erat, membuat Yuda sulit untuk bernafas. Dia juga menyadari bahwa tubuhnya tidak menyentuh lantai.


"Bajingan! Apa kau berpikir kalau istriku berselingkuh?!"


Suara berat yang rendah, terdengar penuh amarah.


"A ... Yah."


Mendengar suara putus asa dari Yuda, Morgan melempar anak bungsunya hingga membentur dinding.


Bruukk...


Uhukk uhuk uhukk.


Yuda meraup oksigen sebanyak mungkin setelah lepas dari cengkraman tangan Morgan. Tubuhnya lemas, punggungnya sakit akibat benturan.


Dia masih merasa lelah akibat melawan para bajingan sebelumnya, itu sebabnya dia tidak memiliki tenaga untuk melawan kekuatan dari ayahnya.


"Ben!!!"


Morgan berteriak dengan keras untuk pelayan yang melayani anaknya.


Ben masuk segera, lalu membungkuk hormat. Matanya melirik ke samping untuk melihat tuan mudanya yang berada dalam kondisi kurang baik.


"Saya menghadap Tuan."


"Bawa dia! Dan jangan biarkan dia keluar dari kamarnya selama tiga hari!!"


"Sesuai perintah anda, Tuan."


Ben bangkit dari posisinya, dia mendekati Yuda dan membantunya berdiri.


Yuda meringis kesakitan, dia melirik ke arah ayahnya sebentar. Lalu menghentikan langkahnya.


"Ayah, kau akan tahu saat melihatnya."


Setelah mengatakan itu, Yuda keluar dari ruangan tersebut dengan bantuan Ben.


Morgan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Sejak mendiang istrinya meninggal, tidak pernah ada yang berani membahas mengenai tentangnya.


Karena itu adalah hal tabu.


Freya, merupakan sosok wanita yang sangat dicintainya. Itu sebabnya Morgan tidak memiliki niat menikah untuk kedua kalinya.


"Tidak, kau tidak mungkin mengkhianati ku."


Morgan meyakinkan dirinya akan fakta hal itu.


Freya selalu berada di dekatnya. Dan saat meninggal dunia tidak ada tanda-tanda kehamilan pada tubuhnya. Jadi, tidak mungkin Freya memiliki anak lainnya.


Tatapan mata Morgan semakin tajam, dan aura membunuh keluar dari tubuhnya.


"Siapapun kau, aku harap kita tidak pernah bertemu."


"Atau, aku akan membunuhmu saat itu juga.


* * *


Hatchuuu...


Rein mengusap hidungnya yang gatal.


'Apa ada yang membicarakan ku?'


Curran memandang dengan tajam.


"Apa makanannya beracun?"

__ADS_1


Rein menatap dengan tatapan bingung. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, itu hanya bersin biasa."


Curran menghela nafas lega. Karena terakhir kali Rein bersin, karena dia merasa alergi terhadap racun yang ada di makan malam saat itu.


~ "Apa Cutie pie sakit?"


Joy bertanya dengan khawatir setelah menelan makan malam miliknya.


~ Myuu Myuu.


Moku mengetuk kaki depannya pada paha Rein, dan memandang dengan raut khawatir.


"Aku baik-baik saja. Berhenti bicara, dan makan dengan benar."


Rein menjelaskan dengan nada lelah. Semenjak insiden yang terjadi sebelumnya, Joy menjadi lebih mudah khawatir dan tidak ingin berada jauh darinya.


Lalu, Moku juga tidak ingin kembali ke ruang dimensi dan tetap ingin berada di dekatnya. Rein menyetujui karena dia sudah membantunya.


Jadi, Moku mengubah ukuran tubuhnya menjadi kecil dan selalu berada di dekat Rein sebagai penjaganya.


~ "Joy mengerti."


~ Myuu Myuu.


Joy kembali makan dengan tenang, namun sesekali dia melirik ke Rein untuk melihat keadaannya. Sedangkan, Moku memakan makanannya dengan tenang.


Croft memiliki senyum kecil di wajahnya, melihat ada seseorang yang mengkhawatirkan masternya.


Curran juga memiliki senyum kecil di wajahnya, melihat interaksi mereka bertiga.


Saat ini, mereka sedang makan malam bersama di kamar Curran. Karena Gilbert dan Rosaly sedang sibuk dengan beberapa tugas.


"Rein."


Rein menatap Curran yang memanggilnya, dengan mulut penuh berisi daging.


"Hm?"


"Ini untuk mu."


[ Wow, saya mencium bau emas di dalamnya. ]


Croft berseru semangat, dia terbang dan melayang mendekati kain tersebut. Kemudian dia masuk kedalamnya untuk menghitung jumlah emas yang ada disana.


Joy memiringkan kepalanya ke samping.


~ "Kenapa Croft masuk ke dalamnya?"


~ Myuu?


Moku juga memiringkan kepalanya ke samping, melihat makhluk kecil yang masuk ke dalam kain.


Dia pun menggigit kain tersebut, lalu menggoyangkan ke kanan dan kiri untuk mengeluarkan Croft yang masuk ke dalam.


[ Kyaaaa!! Mengapa benda ini bergoyang?! ]


[ Berhenti! Berhenti! ]


Joy mengerutkan kening. Dia pun terbang mendekati Moku.


~ "Moku, lepaskan kainnya! Kau tidak bisa melakukannya seperti itu."


Moku menaruh kain tersebut kembali ke tempatnya.


~ "Nah, anak pintar."


Joy duduk di atas kepala Moku, lalu menepuk-nepuk kepalanya saat memberikan pujian.


~ Myuu Myuu.


Moku mengibaskan ekornya saat mendapatkan pujian.


Croft menyembulkan kepalanya keluar dari kain dengan oleng, dia terbang keluar dari kain. Lalu merebahkan tubuhnya di atas meja.


[ Aduh kepalaku. ]


Croft memegangi kepalanya. Dia merasa dunia sedang berputar-putar yang membuat kepalanya terasa pusing.


Rein menghiraukan interaksi mereka bertiga yang terlihat konyol, belum lagi Croft. Padahal Croft bisa mencari informasi apa yang ada di dalam tanpa harus masuk ke dalamnya.

__ADS_1


'Sungguh idiot.'


Rein mengalihkan pandangannya dari mereka, dia menatap Curran dengan bingung.


"Ayah, mengapa kau memberikan ini padaku?"


"Ini kantung penyimpanan, di dalamnya terdapat beberapa koin emas. Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan dengan uang itu."


Curran menjelaskan tujuannya memberikan kantung itu pada Rein.


"Ayah tidak akan melarang mu untuk pergi kemanapun, tapi berjanjilah untuk melindungi dirimu sendiri. Keselamatan itu hal terpenting."


Rein tersenyum, lalu menganggukkan kepala.


"Aku mengerti. Terimakasih Ayah."


Curran mengusap kepala Rein dengan lembut.


"Tetaplah di wilayah ini sampai rumah kita selesai di bangun, mengerti?"


"Tentu Ayah."


Curran memiliki senyum lembut yang terlukis di wajahnya.


"Permisi Tuan muda."


Curran menoleh, lalu melihat Mark yang masuk ke dalam kamarnya.


"Katakan."


"Tuan besar meminta anda untuk datang ke ruangannya."


Curran mengerutkan keningnya. Namun dia segera memasang wajah santai.


"Aku mengerti."


Curran memandang ke arah Rein yang sedang makan dengan pipi penuh.


"Aku akan kembali."


Rein menganggukkan kepalanya, mendengar suara Curran.


Curran bangkit dari posisinya, dan pergi meninggalkan ruangan itu bersama dengan Mark di belakangnya.


[ Master! Ada 100.000 koin emas di dalam kantung ini. ]


Croft melayang di sebelah kiri Rein, dengan membawa kantung penyimpanan yang berisi koin emas pemberian dari Curran.


"Idiot, mengapa kau harus masuk ke dalamnya?"


Rein mencibir Croft setelah menelan makanannya.


Croft meringis mendengar ucapan Rein. Dia menjawab dengan cemberut.


[ Saya khilaf. ]


Rein mendengus dingin. Kemudian dia mengajukan pertanyaan pada Croft.


"Ukuran kantung ini kecil, mengapa bisa menampung emas sebanyak itu?"


[ Mekanisme kerjanya hampir sama dengan ruang inventori. ]


"Aku mengerti. Simpan itu."


[ Baik Master! ]


Croft berseru senang. Dia menyimpan kantung penyimpanan di ruang inventori, yang membuat kantung tersebut menghilang dari genggamannya.


[ Master, Bagaimana kalau kita merampok? ]


Rein memasang wajah datar.


"Moku gigit dia!!"


~ Myuu! Myuu!


[ Kyaaaa!! Saya minta maaf Master!!! ]


Joy hanya menatap dengan bingung aksi kejar-kejaran yang terjadi di depannya.


~ "Mengapa mereka berlarian?"

__ADS_1


__ADS_2