Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 51


__ADS_3

"DASAR WANITA GILA!!"


Teriak seorang pria yang kehilangan tangan kirinya akibat tebasan air dari seorang wanita berlumuran darah di hadapannya.


"Aku menjadi gila karena mu."


Ellena menyahuti dengan suara dingin. Dia merentangkan tangannya ke depan, aliran air menyelimuti seluruh tubuh pria dengan zig zag.


Sepasang netra biru Ellena menatap datar wajah ketakutan dari pria tersebut.


"Ma-maafkan aku, aku berjanji tidak akan menyentuh keluarga mu lagi. Aku bersumpah!"


Trash.


Krashh.


Aaarrrgghhh.


Ellena menyaksikan tubuh pria yang berada di depannya terpotong oleh air hingga menjadi beberapa bagian.


Dia berbalik dan melihat berbagai potongan tubuh manusia atas perbuatannya. Tubuhnya berlumuran darah, tatapannya menjadi sendu.


"Aku minta maaf karena sudah membunuh kalian."


Hening.


Tidak ada suara yang menanggapi ucapan Ellena.


Sudut mulut Ellena berkedut.


"Kalian lihat! Apa permintaan maafku dapat menghidupkan kalian kembali?!"


"Apa permintaan maafku dapat menyatukan tubuh kalian kembali?!"


"Tidak! Itu tidak terjadi."


Ellena berseru dengan suara bergetar. Dia mengatakan tanpa mendengar jawaban dari perkataannya.


Mizu menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca menyaksikan kondisi yang di alami oleh Ellena.


"Permintaan maaf kalian tidak bisa mengembalikan putraku kembali."


"Aku tetap tidak bisa memeluknya."


"Aararghhhhhh."


~ "Sudah cukup Elle, kau sudah membalas mereka semua."


Mizu terbang mendekat, dia mengusap punggung Ellena untuk menenangkan dirinya.


Ellena mengatur napasnya yang memburu.


Tap tap tap.


"Ya ampun, sepertinya kita datang terlambat."


Ellena berbalik ke asal suara. Dia melihat dua siluet seseorang, yang satu seorang pria dan satunya lagi seorang wanita.


"Astaga, apa kau baru saja berpesta sendirian?"


Seorang wanita rambut pink panjang yang diikat bertanya dengan senyum nakal.


"Menarik, apa baru saja terjadi pembantaian di sini?"


Seorang pria rambut biru menatap potongan tubuh manusia yang berserakan dimana-mana.


Ellena mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenal mereka berdua.


"Siapa kalian?"


"Bukankah harusnya kau menjawab pertanyaan ku terlebih dahulu."


Splash.


Ellena mendengar suara yang terdengar dekat dengan telinganya, dia melemparkan tebasan air secara tiba-tiba.


Mizu mengedipkan matanya beberapa. Dia terkejut melihat pergerakan manusia yang berhasil lolos dari pengawasannya.


Dia menjadi serius, lalu terbang di dekat Ellena dengan sikap waspada.


Wanita rambut pink terkekeh melihat tindakan Ellena.


"Honey, berhenti bermain-main."


Pria rambut biru menegurnya.


"Baiklah, maafkan aku. Namaku Freya, bagaimana denganmu?"


"Ellena."


"Senang bertemu denganmu Elle. Dan ini Babo, oke cukup sampai di situ."


Morgan memutar matanya mendengar nama panggilan manis dari istrinya.


"Mari kita mengobrol di luar. Babo, bereskan tempat itu."


Freya meraih tangan Ellena dan berjalan keluar bangunan, meninggalkan Morgan di dalam.


"Baik honey."


Mizu memiringkan kepalanya. Dia tidak mengerti dengan perilaku dari wanita rambut pink yang bersikap baik pada Ellena.


Ellena merasa bingung dengan kejadian cepat yang baru saja terjadi, dia mencoba bersikap santai namun tidak menghilangkan kewaspadaannya.


"Aku berterimakasih padamu, karena tugasku malam ini selesai. Meskipun aku tidak bisa ikut berpesta."


Freya menghentikan langkahnya begitu mereka telah berada di luar bangunan, dia berdiri berhadapan dengan Ellena.


"Sebagai balasannya, aku akan memberimu satu permintaan."


Ellena mengerutkan keningnya.


"Kau serius?"


"Tentu saja. Jadi, apa permintaan mu?"


Ellena terdiam. Dia mencoba untuk mencerna perilaku dari wanita rambut pink yang bernama Freya. Namun gagal.


"Bagaimana dengan menjalin hubungan kerjasama?"


Ellena menjawab dengan pemikiran yang terbesit di benaknya.


"Baiklah, aku akan datang ke rumahmu dalam waktu seminggu."


"Kau tahu rumahku?"


"Tidak."


Freya terkekeh geli melihat ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Ellena. Dia menepuk-nepuk kepala Ellena.


"Jangan khawatir, aku berjanji akan datang ke rumahmu untuk menjalin hubungan kerjasama."


Ellena menghela napas. Dia akan menganggap ini semua hanyalah omong kosong.


"Aku akan kembali."


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Ellena menghiraukan ucapan Freya. Dia berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Wanita itu sudah pergi?"


"Itu benar."


Freya memeluk tubuh kekar suaminya.


"Babo, terkadang sesuatu yang lembut pun bisa menjadi berbahaya, bila kau mengusiknya."


"Aku tidak mengerti maksud dari perkataan mu."


"Dasar bajingan bodoh."


Morgan terkekeh kecil mendengar kata umpatan yang dikeluarkan oleh istrinya.


"Babo, ayo kita buat anak keempat. Aku ingin anak kita kali ini mirip denganku."


"Honey, aku juga menginginkannya. Tapi kita masih memiliki satu tempat lagi yang harus dibereskan."


Freya melepaskan pelukannya.


"Wanita tua sialan! Dia selalu saja mengganggu waktu malam ku. Aku berdoa semoga dia tidak akan menikah selamanya!!"


Morgan memeluk tubuh Freya dari belakang.


"Sabar Honey, nanti cantiknya hilang loh."


"Terus kalau aku sudah tidak cantik, kau akan menikah lagi gitu!!"


Freya melepaskan pelukan Morgan, dia berbalik lalu menendang perut Morgan.


"Bajingan kau!"


"Honey!"


Morgan meringis kesakitan, melihat Freya yang sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian di tempat ini. Tendangan istrinya tidaklah main-main.

__ADS_1


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"


* * *


Uhukk.


Ellena yang baru saja masuk ke dalam kamar, memuntahkan seteguk darah.


~ "Elle, kau terluka dalam."


~ "Dan kau sudah tidak bisa membuat ramuan lagi."


Mizu merasa khawatir.


Ellena sudah tidak bisa membuat ramuan lagi, karena dia telah melanggar perjanjian mereka dengan membunuh banyak orang.


Cepat atau lambat Ellena akan kehilangan hak sebagai kontraktornya.


Seharusnya, Ellena kehilangan hak sebagai kontraktornya saat dia meninggal dunia. Namun, ini kesalahannya karena dari awal yang telah membuat sebuah perjanjian.


Bila salah satu dari mereka melanggar perjanjian itu, maka kontrak mereka akan menghilang selama beberapa hari kemudian.


Ellena tidak bisa menggunakan kekuatan air miliknya lagi.


Mizu menatap wajah Ellena dengan perasaan bersalah.


Ellena mengusap darah dari mulutnya.


"Aku baik-baik saja Mizu. Lebih baik kau temui Curran, aku mengkhawatirkan keadaannya."


~ "Tapi Elle-"


"Ibu?"


Tubuh Ellena menegang mendengar suara putranya yang terdengar sangat dekat dengannya.


"Apa yang terjadi denganmu, Ibu?"


Ellena berbalik ke asal suara, dan melihat Curran yang berdiri tak jauh darinya. Dia melirik ke sekeliling, ternyata kamar yang dia masuki merupakan kamar putranya.


"Ibu, mengapa pakaian mu berlumuran darah?"


"Tidak sayang, pakaian Ibu tidak berlumuran darah. Mungkin kamu salah lihat."


Ellena tersenyum kecut, merasa bersalah karena memanfaatkan putranya yang sedang sakit dengan berbohong kepadanya.


Curran melihat pakaian hitam yang dikenakan oleh Ibunya berlumuran darah, namun sang Ibu malah menyangkalnya.


Curran menatap wajah Ellena dengan tatapan rumit, lalu dia menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Ibu, sepertinya aku berhalusinasi."


Ellena menggigit bibirnya.


"Tidak apa-apa sayang, sebaiknya kamu istirahat. Ibu akan kembali ke kamar."


"Tentu."


Curran menaiki tempat tidurnya, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Kemudian dia menutup matanya dan mulai tertidur.


"Mizu, tolong lindungi putraku. Aku akan kembali."


~ "Berhati-hatilah Elle."


"Tentu."


Mizu menyaksikan kepergian Ellena yang telah keluar dari kamar Curran. Dia terbang dan duduk di meja dekat dengan tempat tidur Curran.


~ "Maaf."


Mizu merenungi kesalahannya. Kalau saja saat pertemuan pertama mereka, dia tidak mengajukan syarat untuk menjadi kontraktornya.


Mungkin hal ini tidak akan terjadi.


"Mizu, apa yang terjadi dengan Ibuku?"


Mizu melotot terkejut, dia menoleh ke samping dan melihat Curran yang telah memposisikan dirinya menjadi duduk.


~ "kau- kau bisa mendengar suara Mizu?"


"Bagaimana menurutmu?"


Mizu terdiam. Dia benar-benar terkejut, karena sebelumnya dia sudah berapa kali mencoba untuk berkomunikasi dengan Curran. Dan berakhir dengan kegagalan.


Tapi, sekarang Curran sendiri yang berbicara kepadanya.


"Jawab pertanyaan ku, apa yang terjadi dengan Ibuku?"


"Aku tahu aku tidak berhalusinasi, aku melihat dengan jelas pakaian Ibuku berlumuran darah."


Mizu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


~ "Mizu akan beritahu."


Curran mendengarkan dengan seksama informasi yang baru saja dia ketahui. Pupil matanya bergetar, setetes air mata mengalir membasahi pipi Curran.


Curran menangis dalam diam di keheningan malam hari yang tenang, dengan Mizu yang berada tak jauh darinya.


* * *


Uhukk uhukk.


Trang.


Gilbert meletakkan alat makannya, dia segera menghampiri istrinya yang baru saja mengeluarkan batuk darah.


"Sayang, apa yang terjadi denganmu?"


"Aku baik-baik saja."


Ellena mengusap darah dari mulutnya, dan mencoba tersenyum untuk menenangkan suaminya.


Gilbert mengerutkan keningnya. Dia menggendong Ellena dan membawanya keluar dari ruang makan.


"Mark, panggil tabib ke kamarku."


"Baik Tuan."


Rosaly mengikuti ayahnya, dia merasa khawatir dengan keadaan Ibunya.


Curran juga mengikuti ayahnya, dengan tangannya yang mencengkram erat.


* * *


"Bagaimana keadaan istriku?"


"Saya minta maaf Tuan Duke, saya tidak bisa mendeteksi penyakit yang ada di tubuh istri anda."


Seorang pria yang baru saja mengecek keadaan tubuh Ellena, memiliki pikiran yang rumit.


Itu karena tidak ada konflikasi di tubuhnya, tidak ada racun yang berada di sana, dan tidak ada jejak sihir yang bersarang di tubuh Ellena.


"Saya sekali lagi minta maaf, Tuan Duke. Saya izin permisi."


"Tentu silahkan."


Gilbert mengusap wajahnya dengan frustasi. Ini sudah kesekian kalinya dia mendatangkan seorang tabib untuk memeriksa kondisi kesehatan tubuh istrinya, dan hasilnya tetap sama.


Tidak ada yang mengetahui tentang penyakit yang di alami oleh Ellena.


'Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Elle?'


Tok tok tok.


Gilbert merapihkan pakaiannya.


"Masuk."


Mendapat jawaban dari dalam, Curran masuk ke ruang kerja ayahnya.


"Apa kau butuh sesuatu, Curran?"


Curran melihat menampilkan ayahnya yang terlihat kelelahan, dia terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab ucapan Gilbert.


"Itu benar, aku memiliki sebuah permintaan padamu, Ayah."


"Katakanlah."


"Aku ingin liburan sekeluarga."


Gilbert mengerutkan keningnya.


"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi, putraku?"


"Ayah."


Curran menatap wajah ayahnya dengan tatapan yang dalam.


"Aku hanya ingin kita piknik bersama sekeluarga di hutan hijau, bagaimana menurutmu?"


Gilbert terdiam.


Dia memandang wajah putranya dengan seksama, sebelum akhirnya dia menghela napas panjang.


"Ayah akan menyelesaikan semua pekerjaan hari ini, agar besok kita bisa piknik bersama. Bagaimana?"

__ADS_1


Seulas senyum lembut terlukis di wajah Curran.


"Terimakasih, Ayah."


Gilbert tersenyum. Dia ingin mengusap kepala putranya, namun terhenti begitu melihat Curran yang melangkah mundur darinya.


Gilbert tersenyum canggung, dia menarik kembali tangannya.


"Kalau begitu kau boleh kembali."


"Baik, Ayah."


* * *


Tak.


Curran meletakkan cangkir yang berisi teh hijau. Setelah keluar dari ruang kerja ayahnya, dia di ajak untuk meminum teh bersama dengan adiknya.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Ocha?"


Rosaly menatap pantulan dirinya yang terlihat di cangkir teh miliknya.


"Kak Ran, apa ibu bisa sembuh?"


Rosaly menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaannya. Perasaannya kurang baik, melihat ibunya yang terus memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


Banyak tabib yang telah di panggil oleh ayahnya, namun tak satu pun kabar gembira dia dapatkan.


Apakah ibunya bisa sembuh?


Penyakit apa yang di derita ibunya?


Rosaly memandang ke arah Curran yang diam saja tanpa memberinya sebuah jawaban. Mungkin karena dia sedang melamun, jadi tidak mendengar balasan dari kakaknya.


Untuk itu Rosaly mengulangi pertanyaannya.


"Kak Ran, apa ibu bisa sembuh?"


"Kakak telah meminta ayah agar kita bisa piknik bersama di hutan hijau, dan ayah menyetujuinya."


Curran mengalihkan pandangannya dari wajah adiknya, dia menatap cangkir teh dengan tenang.


"Kita bisa menghabiskan waktu bersama dengan Ibu."


Rosaly tersenyum kecut.


Bukan itu jawaban yang dia inginkan, tapi jawaban itu pula telah menjawab pertanyaannya secara tidak langsung.


Rosaly menundukkan kepalanya. Cengkraman tangan pada cangkirnya sedikit mengencang, dan tatapan matanya berembun.


Dia menepiskan semua pikiran negatif yang menghampiri pikirannya, lalu menggigit bibirnya untuk menahan dirinya agar tidak menangis.


"Aku mengerti."


* * *


"Ambil ini."


Mizu mengambil sebuah kotak kecil dengan kedua tangannya, dia menatap wajah Ellena sebentar, lalu membuka kotak tersebut yang di dalamnya terdapat sebuah cincin permata biru.


~ "Elle, mengapa kau memberikan benda ini pada Mizu?"


Ellena menutup matanya sejenak, menikmati halauan angin malam yang menerpa wajahnya.


"Aku memberikannya untuk pemilik mu selanjutnya."


Ellena kembali membuka matanya. Dia menatap ke arah Mizu yang terlihat semakin transparan di matanya.


"Semakin hari semakin samar-samar aku merasakan kekuatan air yang ada di dalam diriku, bahkan aku membutuhkan waktu lama untuk membuat bola air berukuran kecil."


"Kemampuan ku dalam melihat roh alam sepertimu pun, semakin memudar."


"Sudah saatnya kita berpisah Mizu."


Mizu memiliki tatapan mata berkaca-kaca, setetes air mengalir membasahi pipinya.


~ "Mizu minta maaf, ini semua salah Mizu."


"Mizu."


Ellena mencoba mengusap air mata yang ada di pipi Mizu, namun jari tangannya menembus tubuh Mizu.


Ellena tersenyum lembut. Dia menarik kembali tangannya.


"Itu adalah keputusan ku, Mizu. Dan aku siap menerima konsekuensinya, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."


Mizu mengusap air matanya, dia menyimpan kotak pemberian Ellena dengan baik. Kemudian dia terbang mendekati Ellena, mencoba untuk memeluknya.


~ "Elle."


"Tolong berikan hadiahku untuk pemilik mu selanjutnya."


~ "Tentu, Mizu akan memberikan hadiah Elle padanya."


"Terimakasih."


Mizu kembali menangis di malam hari yang tenang.


* * *


~ "Curran, apa kau bisa mendengar suara, Mizu?"


Setelah keluar dari kamar Ellena, Mizu mendatangi kamar Curran. Dia memiliki sebuah harapan, Curran mau menjadi pemilik selanjutnya setelah Ellena.


Mizu memiliki sebuah perasaan bersalah pada Ellena dan keluarga ini, dan dia ingin menebusnya.


"Kau menangis?"


Mizu merasa senang karena Curran masih bisa mendengar suaranya, dia menghapus air matanya, lalu terbang mendekati Curran yang sedang membaca sebuah buku.


~ "Ya, Mizu berpisah dengan Ellena."


~ "Elle tidak akan bisa melihat Mizu lagi."


Mizu dengan sendu menjawab pertanyaan dari Curran.


Curran menutup bukunya. Dia mengerti mengapa Mizu mendatangi dirinya.


Namun, Curran tidak menginginkannya.


Tangannya telah dia gunakan untuk membunuh nyawa seseorang.


"Aku berharap kau mendapatkan pemilik yang tepat setelah ibuku."


~ "Itu-"


"Selamat tinggal."


Curran bangkit dari posisi duduk, dia berjalan mendekati tempat tidur, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Selamat tinggal, Mizu."


Tubuh Mizu membeku. Dia tidak salah mendengar, Curran baru saja mengucapkan selamat tinggal untuknya.


Perkataan Curran telah memberitahunya dengan sangat jelas.


Mizu menatap ke arah Curran yang sedang tertidur.


~ "Bisakah Mizu mendapatkan kesempatan kedua?"


Hening.


Tidak ada respon dari perkataannya.


Mizu meneteskan air matanya. Dia memeluk tubuhnya sendiri, lalu terbang keluar dari kamar Curran.


~ "Selamat tinggal."


Curran membuka matanya.


"Aku juga ingin mendapatkan kesempatan kedua."


Curran kembali tidur setelah bergumam pelan.


* * *


Mizu memandangi kediaman Crimson dengan tatapan mata berkaca-kaca. Dia memeluk kotak pemberian Ellena dengan erat.


~ "Mengapa seperti ini?"


Banyak pertemuan dan perpisahan yang sudah Mizu alami sejak ratusan tahun yang lalu, dengan manusia atau makhluk lainnya.


Namun, dia tidak pernah menduga bahwa akan mengalami perpisahan yang seperti ini.


Ini terasa menyakitkan untuknya.


Mizu berbalik membelakangi kediaman Crimson, lalu terbang menjauh dari sana.


Mizu menginginkan kesempatan kedua, namun dia tidak mendapatkannya.


Saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah berharap.


Berharap agar yang menjadi pemilik selanjutnya merupakan anggota keluarga Crimson, agar dia bisa menebus kesalahannya.


Meskipun, saat itu mungkin sudah terlambat untuknya.

__ADS_1


__ADS_2