Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 07


__ADS_3

"Achoohhh."


Rein menutupi hidungnya dengan jari telunjuk.


'Ugh, mengapa aku tiba-tiba bersin?'


[ Racun, hidung anda mendeteksi adanya racun di sekitar ruangan ini. ]


'Bukankah cukup hanya menciumnya saja?'


[ Master, kemampuan resistensi racun anda tingkat F. Apa yang anda harapkan dari tingkat rendah itu? ]


Rein menatap wajah Curran yang juga sedang melihat ke arahnya.


'Aku harus secepatnya meminta uang pada ayah baru ku.'


[ Benar Master, anda harus minta banyak koin emas agar saya juga bisa menaikkan level saya. ]


'Ya ya ya.'


Croft terbang mengitari kepala Rein yang menyetujui ucapannya tentang meminta banyak koin emas.


"Rein, apa kau sakit?"


Curran bertanya dengan nada tidak yakin. Pasalnya sejak tadi anak ini terlihat baik-baik saja, lalu kenapa saat masuk ke ruang makan dia tiba-tiba bersin?


"Racun."


"Hm?"


Curran mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Aku alergi racun."


"...."


Curran terdiam. Rosaly tertegun. Dan Gilbert mengerutkan keningnya. Sedangkan para pelayan gelisah di tempat.


[ Hm, Master mengapa alergi? ]


'Karena itu yang terlintas di pikiranku.'


[ .... ]


Curran melirik ke arah Rosaly dan memberi isyarat padanya untuk mengatakan sesuatu.


Rosaly menangkap pesan dari tatapan kakaknya. Dia menahan diri untuk tersenyum karena hukuman yang diberikan kakaknya akan di gagalkan oleh anaknya sendiri.


"Rein."


Rosaly memanggil dengan tenang.


Rein menoleh dan melihat seorang gadis rambut merah panjang yang tergerai dengan balutan gaun hijau yang membuat kesan anggun padanya.


"Apa kamu akan terus bersin-bersin sebelum racunnya di hilangkan?"


Rosaly bertanya dengan hati-hati sambil sesekali melirik ke arah Curran.


[ Ya. ]


'Hm Croft, tapi aku tidak bersin-bersin.'


[ Master, anda sedang menutupi hidung anda dengan jari. ]


'Ah itu benar.'


"Sepertinya begitu."


Rein menjawab dengan lesu.


Awalnya dia merasa senang karena kemampuan itu lumayan berguna untuk mendeteksi adanya racun. Tapi kalau dia harus bersin-bersin sampai racunnya hilang, bukankah itu cukup merepotkan?


Curran mengerutkan kening. Dia tidak mengira resistensi racun yang dimiliki putranya, membuat dirinya bersin-bersin sampai racun tersebut hilang.


Awalnya dia hanya menduga itu untuk melemahkan efek racun yang di makan oleh Rein, bukan bersin-bersin.


"Rosaly, singkirkan puding milikmu."


Curran berkata dengan nada sedikit menekan.


"Tentu kakak."


Rosaly menjawab dengan senyum tebal di wajahnya.

__ADS_1


'Astaga, kakakku sangat imut!!'


Rosaly menjerit di dalam hati saat mengetahui kalau kakaknya menaruh racun di Puding makanan kesukaannya.


"Pelayan, simpan puding milikku di kamar. Aku akan memakannya nanti."


"N-nona."


"Cepat!"


"Baik Nona muda."


Salah satu pelayan wanita mengambil puding terdekat dengan Rosaly, lalu membawanya keluar dari ruang makan.


"Kamu bisa membuangnya Putri ku."


Gilbert berkata dengan tegas melihat kelakuan putra dan putrinya.


"Tidak Ayah, aku sangat menyukainya. Lagipula itu puding kesukaan ku."


Rosaly menjawab dengan senyum lembut miliknya.


Gilbert menghela nafas, lalu melirik ke arah putranya.


"Curran, temui aku di ruang kerja setelah makan malam."


"Baiklah Ayah."


Curran menyetujuinya.


Rein menelan ludah.


'Croft, yang aku pikirkan tidak mungkin benar 'kan?'


[ Sepertinya memang benar, Master. ]


'Apa aku akan diberi racun juga bila membuat kesalahan?'


[ Tenang saja Master, anda 'kan memiliki resistensi racun. ]


'Oh benar.'


Rein duduk di pangkuan Curran dengan hati tenang, sesuatu yang dia khawatirkan sudah ada solusinya.


Gilbert memberi perintah singkat agar anak dan cucu barunya bisa mulai memakan makanannya.


Curran memotong daging menjadi kecil-kecil agar bisa dengan mudah saat Rein memakannya.


'Dia benar-benar memperlakukan ku seperti anak kecil.'


[ Anda memang anak kecil Master. ]


Rein menghiraukan ocehan Croft yang menjawab pikirannya. Dia mulai memakan daging yang sudah di potong oleh Curran.


"Rein."


Curran memanggil.


"Ya Ayah," jawab Rein.


"Wanita yang disana adalah adikku, namanya Rosaly Crimson. Kamu bisa memanggilnya Bibi Rosaly."


Curran memperkenalkan Rosaly pada Rein.


"Halo Bibi Rosaly," sapa Rein ramah.


"Halo juga Rein."


Rosaly menjawab sapaan tersebut dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.


"Dan pria yang disana adalah Ayahku, namanya Gilbert Crimson. Panggil dia Kakek."


Kini giliran Curran memperkenalkan Gilbert pada Rein.


"Halo Kakek cantik."


Gilbert berhenti mengunyah dan langsung menelan makanan tersebut. Dia melihat Rein yang berkedip polos setelah mengatakan hal itu.


Suasana dalam ruangan tersebut tiba-tiba menjadi sunyi.


'Apa aku salah bicara?'


[ Tidak Master, kakek anda memang terlihat cantik. ]

__ADS_1


"Benarkah?"


Gilbert bertanya dengan mengangkat satu alisnya.


Rein menelan makanannya, kemudian baru menjawab pertanyaan dari Gilbert.


"Benar Kakek. Kakek terlihat tampan dan juga cantik dengan rambut panjang itu."


Sudut mulut Gilbert berkedut mendengar pujian dari cucunya.


"Haruskah aku memanjangkan rambut saat besar nanti?"


Rein menyentuh rambutnya saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Tidak perlu."


Rein mendongak menatap wajah Curran.


"Rambut panjang tidak cocok untukmu," ucap Curran.


Rein terdiam. Dia mulai membayangkan dirinya dengan rambut panjang.


[ Master, anda pasti akan terlihat sangat cantik dengan rambut panjang. ]


Tiba-tiba Rein merasa merinding. Dia menepiskan pemikiran tentang rambut panjang dan menyahuti ucapan Curran.


"Ya ya aku tidak akan memanjakan rambut."


Rein mengangguk pada keputusannya.


"Itu bagus."


Curran berkata dengan menepuk kepala Rein pelan. Lalu melirik ke arah Gilbert dengan tatapan bangga.


Gilbert tersenyum tipis melihat sikap putranya yang sedang menyuruh cucunya untuk tidak mengikuti gaya rambutnya.


Namun senyum itu segera menghilang di gantikan wajah serius, dan mulai memanggil Rein.


"Rein."


"Ya Kakek," sahut Rein tenang.


"Mulai saat ini kamu adalah bagian dari keluarga Crimson."


Rein menoleh menatap wajah Gilbert. Dia merasakan keseriusan dalam setiap kata yang di ucapkan oleh Gilbert.


Dia menyadari sesuatu saat menerima fakta bahwa dia menjadi bagian dari keluarga ini. Dia tidak mengetahui hal apapun yang terkait dengan keluarga barunya.


Tidak ada informasi yang di ketahui oleh Rein. Croft belum naik level, sehingga dia hanya bisa mencari informasi dari mulut ke mulut. Dan dia belum memiliki banyak uang untuk menaikkan level Croft.


Yang bisa dilakukan Rein saat ini hanyalah mengamati.


Mengamati setiap tindakan kecil yang dilakukan oleh keluarga barunya. Dan melihat respon mereka saat dia berbicara.


Dari kalimat yang ucapkan Gilbert, Rein memiliki perkiraan kalau dia sedang menilai dirinya.


Sikap Gilbert mungkin terlihat menerimanya dengan lapang dada. Tapi bagi Rein, Gilbert hanya menerimanya karena menghormati keputusan putranya.


Tidak lebih dari itu.


Dan Rein mengerti arah pembicaraan Gilbert, jadi dia mendengarkan dengan tenang.


Gilbert melihat Rein yang menatapnya dengan tenang, seolah-olah siap mendengarkan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.


Gilbert pun mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Keluarga Crimson di kenal sebagai pedang kerajaan Xinlaire. Setiap hari para kesatria kediaman selalu pergi keluar untuk membasmi monster agar wilayah ini tetap aman."


"Para kesatria tersebut dikenal sebagai Crimson Knight, yang di pimpin oleh putraku."


Rein mendengarkan dengan tenang, sesekali memasukkan daging ke dalam mulutnya.


[ Master, apa pria itu sedang membanggakan diri dan anaknya? ]


'Ya.'


Croft terdiam mendengar jawaban Rein.


"Dan menjadi mata kerajaan untuk menilai setiap orang yang datang dan pergi ke wilayah Ibukota, kelompok itu di pimpin oleh putriku."


"Jadi, kemampuan apa yang kamu miliki?"


Gilbert menyudahi perkataannya dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


[ Master, saya ingin merampoknya!! ]


__ADS_2