Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 49


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu?"


"Yang mulia, obat yang diberikan oleh Tuan putri sangat bagus. Saya telah menelitinya, dan saya yakin kerajaan kita bisa terbebas dari wabah penyakit."


George mendengarkan perkataan tabib istana dengan seksama. Dia menatap ke arah putrinya yang sudah berhasil menemukan obat untuk mengobati warganya.


"Keluarkan pembendaharaan istana, gunakan untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan dalam membuat obat tersebut."


"Laksanakan Yang mulia."


Ellena memiliki senyuman lembut di wajahnya. Dia berharap kerajaannya segera terbebas dari wabah penyakit.


* * *


Satu tahun kemudian.


"Dengan ini aku menyatakan bahwa kerajaan Xinlaire telah terbebas dari wabah penyakit!!!"


"Hidup Yang mulia Raja."


"Hidup Yang mulia Raja."


"Hidup Yang mulia Raja."


Sorakan kemenangan dan kebahagiaan terlukis di wajah para warga karena telah berhasil melewati wabah penyakit yang menghantui kerajaan Xinlaire.


Udara dingin menusuk kulit Ellena. Dia berjalan menuju balkon istana.


Mizu melayang di dekat Ellena dengan buah merah yang berada di tangannya. Dia memakan buah tersebut secara perlahan.


Mizu merasa senang, akhirnya bisa makan buah dengan tenang setelah bekerja keras selama beberapa bulan terakhir untuk membuat ramuan.


Ellena memandang bulan purnama yang bersinar di langit malam. Ada tatapan kerinduan yang tersirat di matanya.


"Bu ... Kerajaan kita sekarang sudah terbebas dari wabah."


"Apa ibu bahagia di sana?"


Setetes air mata membasahi pipi Ellena.


Seandainya saja dia bisa lebih cepat bertemu dengan Mizu.


Seandainya saja dia bisa pulang lebih cepat saat itu.


Seandainya, hanya seandainya.


Ellena hanya bisa berandai-andai tanpa bisa melakukan apapun. Dia tidak bisa mengubah apapun, karena waktu tidak dapat diulang kembali.


Sret.


Ellena terkejut saat mendengar ada yang membuka tirai balkon, dia segera menghapus air matanya, lalu berbalik untuk melihatnya.


"Tuan Gilbert?"


Ellena melihat seorang pria rambut merah sepundak dengan netra hijau emerald yang teduh.


"Saya minta maaf. Saya tidak tahu bahwa anda berada di sini, Tuan putri."


Ellena memasang senyum bangsawan miliknya.


"Tidak apa-apa, Tuan Gilbert. Anda bisa menggunakan tempat ini, saya izin permisi."


"Silahkan, Tuan putri."


Gilbert melihat kepergian Ellena.


Dia mengambil langkah maju menuju balkon, lalu memandang langit malam dengan tatapan rumit.


"Ibu, ayah, semoga kau bahagia di sana."


* * *


Dua tahun kemudian.


"Ellena, apa kau mau menikah denganku?"


Ellena memandang wajah pria rambut merah yang berada di hadapannya dengan memegang sebuah cincin permata.


"Apa anda sedang melamar saya, Duke Gilbert?"

__ADS_1


Ellena tersenyum simpul saat menjawab pertanyaan dari Gilbert dengan pertanyaan lainnya.


"Tentu saja, apa nona cantik di depan saya mau menerimanya?"


Ellena terkekeh, dia menganggukkan kepalanya. Lalu memberikan tangannya pada Gilbert.


"Saya mau menerimanya."


Gilbert segera memasangkan cincin tersebut ke jari manis Ellena.


"Terimakasih Ellena."


Ellena memiliki senyum lembut yang terlukis di wajahnya.


Mizu memiringkan kepalanya ke samping, melihat sepasang kekasih yang sedang bahagia.


~ "Apa itu menikah?"


Ellena terkekeh geli mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Mizu.


Dari kejauhan, lebih tepatnya semak-semak yang berada tak jauh dari sepasang kekasih. Terdapat dua orang pria yang sedang bersembunyi untuk melihatnya.


"Yang mulia, untuk apa kita berada di sini?"


Andrew sedang berjongkok di samping William dengan memeluk lututnya sendiri. Dia memiliki ekspresi lelah di wajahnya.


"Adikku sudah dewasa."


William menghiraukan ucapan Andrew. Dia memiliki mata yang berkaca-kaca ketika melihat adiknya di lamar.


"Yang mulia."


"Andrew, lihat itu! Lihat! Bajingan itu menyentuh tangan adikku."


Andrew menghela napas panjang.


* * *


Ellena menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Gilbert. Kini, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Dia tinggal di kediaman keluarga Crimson yang berada di wilayah Barat kerajaan Xinlaire.


"Kenapa hm?"


Gilbert mengusap kepala Ellena dengan lembut.


"Aku ingin punya tempat, dimana tempat itu berisi tanaman-tanaman herbal. Bagaimana menurutmu?"


"Kau ingin tempatnya berada dimana?"


"Hm ... Bagaimana kalau di belakang kediaman?"


"Baik, aku akan menyiapkannya untukmu."


Gilbert mengecup kepala Ellena.


Mizu menatap sepasang kekasih yang berada di hadapannya.


~ "Mizu lapar."


* * *


Beberapa tahun kemudian.


[ Berhenti membuat ramuan atau keluargamu akan celaka. ]


Tatapan mata Ellena meredup melihat tulisan dari selembar kertas yang dia temukan.


~ "Elle, apa yang tertulis di kertas itu?"


Mizu bertanya setelah melihat perubahan ekspresi wajah Ellena yang terlihat buruk.


Ellena meremukkannya, lalu menyimpan kertas itu ke dalam saku.


"Bukan apa-apa, hanya omong kosong. Lupakan saja."


~ "Mizu mengerti."


Ellena mengangguk puas. Dia kembali bersikap seperti biasa, namun pikirannya menjadi rumit.

__ADS_1


"Ibu."


"Ibu."


Ellena menoleh ke samping, dia melihat putra dan putri sedang berjalan dengan membawa keranjang berisi tanaman herbal.


Seulas senyum lembut menghiasi wajah Ellena.


"Ya ampun, anak-anak Ibu baik banget sih. Sini sayang, sini."


Seorang gadis cilik yang memiliki rambut merah panjang dengan netra hijau emerald, menaruh keranjang miliknya di dekat Ellena.


"Lihat Ibu, keranjang punya Ocha lebih banyak daripada punya kak Ran."


Rosaly kecil berusia 6 tahun, menunjuk ke arah keranjang miliknya yang memiliki lebih banyak tanaman herbal di banding kakaknya.


"Wah iya nih, pinter banget sih Putri Ibu."


Ellena mengecup kening putrinya dengan lembut. Yang membuat pipi Rosaly memerah.


Seorang anak laki-laki tersenyum menyaksikan kasih sayang antara ibu dan adiknya.


"Ran, kemari."


Curran berjalan mendekati tempat ibunya.


"Ada apa bu-"


Ucapan Curran terhenti, saat keningnya di kecup oleh ibunya. Pipinya berubah menjadi semerah tomat, begitu juga telinganya yang memerah.


"Bu, aku sudah besar."


Ellena terkekeh geli melihat wajah putranya memerah karena malu. Dia mengusap kepala Curran.


"Dimata Ibu, kamu akan selalu menjadi anak kecil."


Curran tersenyum mendengar perkataan ibunya.


"Bibi Elle."


Tatapan mata Curran dan Rosaly segera meredup melihat seorang anak laki-laki rambut kuning yang datang menghampiri mereka.


Rosaly segera pindah berdiri di samping Curran.


"Bibi Elle, lihat tanganku lecet-lecet. Sir Alex sangat kejam saat mengajariku berpedang."


Jasvier kecil menunjukkan tangannya yang terluka pada bibinya. Dia datang kemari untuk membolos pelajaran berpedang. Namun, dia merasakan punggung bagian belakang kedinginan.


'Pengganggu.'


'Pengacau.'


Curran dan Rosaly saling melirik, sebelum akhirnya seringai kecil terlihat di wajah mereka.


Mereka berniat menggantung Jasvier di atas pohon, karena sudah menganggu waktu mereka bersama dengan ibunya.


* * *


Beberapa hari berlalu.


Di malam hari, Ellena terbangun karena mendengar suara gedoran pintu yang terdengar cukup keras.


Brak Brak Brak.


"Tuan Duke bangun! Ini sangat penting!!!"


Gilbert mengucek-ngucek matanya, dia mengambil pita lalu mengikat rambut merah miliknya yang sudah panjang.


Ellena mengikuti Gilbert di belakangnya.


Cek.


Gilbert mengerutkan keningnya, melihat wajah Mark yang terlihat panik.


"Ada apa Mark?"


"Tuan muda Curran menghilang di kamarnya!"


"Apa?!"

__ADS_1


Tubuh Ellena membeku di tempat.


__ADS_2