Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 36


__ADS_3

Ekspresi wajah Joy berubah menjadi dingin. Tatapan matanya menggelap.


Curran menatap dengan tenang pedang tajam yang di arahkan kepadanya.


"Sambutan yang cukup ramah, Tuan Morgan."


Morgan tersenyum.


"Benarkah?"


"Saya merasa tersanjung atas pujian anda, Tuan muda Curran."


Morgan berjalan melewati kelompok Curran. Dia berdiri tak jauh dari hadapan Curran.


"Saya menantikan pertunjukan menarik yang akan anda berikan, Tuan muda Curran."


Netra hijau emerald milik Curran menatap wajah Morgan yang terlihat arogan.


"Bagaimana kalau saya menolak?"


Curran bertanya dengan suara tenang.


Morgan menyeringai kecil. Lalu tatapannya jatuh pada seorang anak kecil yang di gendong, namun membelakangi dirinya.


"Anda harus melakukannya, karena saya merasa tertarik dengan putra angkat anda."


Setelah mengatakan kalimat itu, Morgan berbalik membelakangi mereka, lalu berjalan menuju pintu kediaman miliknya.


Ekspresi Curran berubah menjadi datar. Dia ingin mengambil pedang miliknya, namun terhenti saat telinganya mendengar gumaman Rein.


"Joy."


Sret.


Sret.


Sret.


Joy mengangkat tangan kanan miliknya, yang membuat semua senjata yang di pegang oleh sekelompok orang berpakaian hitam terlepas dari tangan.


Ekspresi wajah Joy terlihat datar, tatapan matanya dingin.


Dia sama sekali tidak menyukai manusia yang berniat melukai Curran teman pertamanya, dan Rein teman yang perlu dia lindungi.


Morgan berbalik kembali mendengar suara senjata, dia melihat berbagai pedang melayang di atas kepala Curran.


"Lanjutkan."


Morgan menjatuhkan perintah untuk melanjutkan menyerang Curran. Dia ingin tahu kekuatan Curran yang berhasil membunuh salah satu anggota organisasi Bloody Moon.


Mendengar perintah, sekelompok orang berpakaian hitam mengeluarkan belati dari pakaiannya dan melayangkan senjata itu ke arah mereka.


Bang!


Bruukk.


Bruukk.


Bruukk.


Joy merentangkan tangan kirinya ke samping, membuat orang-orang berpakaian hitam terpental jauh hingga jatuh dengan suara keras.


Jhon berdiri di depan Morgan, lalu memasang perisai untuk melindunginya.


Moku berjalan dengan anggun, dia berdiri di depan Curran. Lalu mengetuk kaki depannya, tak lama kemudian lingkaran api mengelilingi tempat berdirinya Curran dan Mark.


Joy menurunkan tangan kanannya. Pedang milik orang-orang berpakaian hitam melayang, lalu melesat mengelilingi Morgan. Dengan bagian tajam mengarah pada Morgan.


Morgan terkekeh kecil. Dia merasa terkejut dengan kekuatan Curran yang semakin kuat.


"Tuan muda Curran, anda benar-benar luar biasa."


Jleb.


Morgan mengerutkan keningnya. Dia melirik ke bawah, dan melihat belati merah menancap di pahanya.


"Tuan-"

__ADS_1


Morgan mengangkat telapak tangannya, untuk membuat Jhon agar tetap tenang.


Morgan mencabut belati dengan tenang, darah mengalir setelah belati tersebut keluar dari tubuhnya.


Kemudian, dia memperhatikan belati merah yang ada di tangannya. Lalu, tatapan matanya tertuju ke depan. Lebih tepatnya, melihat seringai kecil yang terukir di wajah bocah rambut pink.


Rein merasa tangannya gatal untuk melemparkan belati ke arah Morgan. Jadi, dia melakukannya saat menemukan sebuah peluang.


Dia tidak peduli wajah Morgan hanya mirip atau bukan. Yang pasti, pria itu benar-benar menyebalkan.


Sudut mulut Morgan berkedut. Lalu membentuk sebuah senyuman tipis.


"Anda bisa berhenti melakukannya, Tuan muda Curran."


"Hentikan."


Moku mendongak ke atas untuk melihat wajah Curran. Lalu mengetuk kaki depannya kembali, yang membuat lingkaran api menghilang dalam sekejap.


[ Sudah cukup. ]


Croft menepuk-nepuk kepala Joy.


[ Jatuhkan senjatanya. ]


Joy memasang wajah cemberut.


~ "Bagaimana kalau manusia itu berniat untuk menyakiti manusia merah dan Cutie pie kembali?"


[ Itu tidak akan terjadi. ]


Joy menatap wajah Croft yang terlihat percaya diri.


~ "Baiklah."


Joy menarik kembali kekuatan angin miliknya. Membuat pedang melayang yang mengelilingi Morgan jatuh ke bawah dengan keras.


Buk. Buk. Buk.


Morgan mengambil botol kecil lainnya, lalu menuangkan cairan biru tersebut ke luka tusukkan belati.


"Jhon."


"Layani mereka dengan baik."


Morgan memasukkan kembali botol kecil tersebut, dia berbalik untuk masuk ke dalam rumahnya dengan belati merah yang masih dia pegang.


Sret.


Aliran angin menyelimuti tangan Morgan, dan merebut paksa belati merah dari tangannya. Morgan kembali berhenti jalan, tatapan terpaku pada belati merah yang melayang ke tangan kecil milik Rein.


"Aku harus mencucinya sebanyak tujuh kali."


Rein bergumam kecil. Lalu mengembalikan belati merah pemberian Rosaly ke dalam ruang inventori.


Morgan tersenyum kecil.


"Mari kita masuk ke dalam."


Curran mengangguk. Dia melangkah maju menuju kediaman keluarga Lester, dengan Mark yang berjalan di belakangnya. Moku dengan anggun berjalan sejajar dengan kaki Curran.


Croft dan Joy melayang di sekitar kanan dan kiri pundak Rein.


* * *


Tak.


Morgan meletakkan cangkir teh di atas meja.


"Bukankah itu bagus."


"Dengan membuka wilayah Volker, anda akan mendapatkan perlindungan, jaringan informasi, dan kekuatan."


"Dengan begitu, anda akan memiliki kekuatan internal maupun eksternal."


Curran menatap pantulan buram bayangan dirinya di dalam teh. Dia memiliki senyuman khas bangsawan yang terlihat menawan.


"Tuan Morgan, berlian akan tetap menjadi berlian dimanapun dia berada."

__ADS_1


Curran meminum teh dengan anggun, lalu menaruhnya kembali ke atas meja.


"Keputusan saya sudah final, wilayah Volker tidak akan di buka untuk umum."


Membuka wilayah Volker untuk umum terlalu beresiko, apalagi itu masih merupakan wilayah baru.


Akan cukup rumit bila serangan balasan itu benar-benar terjadi.


Belum lagi, Curran perlu mencari tahu tentang kebenaran adanya tambang emas di sana.


"Anda terlihat sangat percaya diri."


Morgan berkomentar dengan bibir yang membentuk garis tipis.


"Tentu saja."


Curran menjawab dengan tenang, dan masih mempertahankan senyum bangsawan miliknya.


"Bagaimana, kalau putra anda yang memintanya untuk membuka wilayah Volker menjadi umum?"


Senyum bangsawan yang Curran pertahankan, seketika luntur dan berubah menjadi ekspresi serius.


Sudut mulut Morgan berkedut, melihat perubahan ekspresi wajah yang terjadi pada Curran saat dia menyinggung tentang putra angkatnya, Rein.


"Tuan Morgan, apa sekarang anda berubah profesi menjadi pengemis?"


Curran bertanya dengan mengangkat salah satu alisnya.


Tatapan Morgan berubah menjadi dingin.


"Tuan muda Curran, jaga batasan anda."


"Itu juga berlaku untuk anda, Tuan Morgan."


Suara rendah Curran terdengar tidak bersahabat. Suasana di dalam ruangan pun mulai sedikit panas.


Morgan menghela nafas panjang.


"Tuan muda Curran, pertanyaan saya bagian mana yang melewati batas?"


"Tuan Morgan, apa anda berniat membujuk putra saya agar membuka wilayah Volker untuk umum?"


Curran menyahuti pertanyaan Morgan dengan pertanyaan lainnya.


"Bagaimana menurut anda?"


Sudut mulut Curran berkedut. Dia merapatkan bibirnya agar tidak tertawa mendengar ucapan Morgan yang terdengar lucu baginya.


"Tuan Morgan, sepertinya anda melupakan kejadian saat pagi hari. Haruskah saya mengingatkan anda tentang kejadian tersebut?"


"Tuan muda Curran, pertanyaan saya hanya membutuhkan jawaban anda antara ya atau tidak."


Morgan merasa semakin tidak senang, dengan arah pembicaraan mereka bila di lanjutkan.


"Mungkin."


Curran kembali memasang senyum bangsawan miliknya.


"Saya akan mempertimbangkannya."


Morgan memiliki ekspresi lega mendengar kalimat tersebut.


[ Curran, kau bisa langsung kembali ke kediaman Crimson. Kami akan pergi ke suatu tempat. ]


Curran mengerutkan keningnya mendengar suara Croft yang terdengar di pikirannya.


'Kemana?'


[ .... ]


Tidak ada jawaban.


Curran memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali.


'Lindungi putraku.'


[ Tentu. ]

__ADS_1


"Tuan muda Curran, izinkan putra kedua saya untuk tinggal bersama anda."


"Hm?"


__ADS_2