
'Ini aneh, anak ini tidak ada di kehidupan ku sebelumnya.'
Farenzo yang menyadari bahwa dirinya kembali ke masa lalu, lebih tepatnya 20 tahun sebelum kematiannya. Mulai melatih fisik dan kekuatannya untuk insiden yang terjadi dalam festival perburuan, hingga menyebabkan kematian kakak keduanya.
Farenzo juga mulai melatih kemampuan atribut miliknya yang dimana hal itu membuat dirinya menjadi seorang pengecut di kehidupan sebelumnya.
Atribut kegelapan, memiliki kemampuan yang membuat pemiliknya bisa melihat para roh yang masih memiliki kebencian, kemarahan, dan perasaan lainnya terhadap dunia.
Di kehidupan sebelumnya, Farenzo dilecehkan oleh para roh yang memiliki dendam dan kebencian di hatinya. Namun, di kehidupan ini giliran dia yang melecehkan para roh.
Saat ini Farenzo memiliki 10 roh yang sudah berada di bawah kendalinya. Bahkan, sekarang dia memiliki hewan magis yang sama dengan kekuatannya.
~ Tuan.
Farenzo tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Blue di pikirannya. Blue, adalah nama dari kucing hitam yang saat ini duduk di pangkuannya.
Blue mengetuk tangan Farenzo menggunakan kaki depannya.
~ Tuan, anda baik-baik saja?
'Ya, aku baik. Hanya teringat masa lalu.'
Setahunya Curran tidak pernah punya anak, sebab dia tidak bisa melakukan kontak fisik dengan orang lain. Dan dia tidak pernah bertemu atau mendengar sesuatu mengenai anak ini.
'Mungkinkah karena aku mengulang waktu?'
Yah, Farenzo tidak akan mempermasalahkan hal ini selagi perubahan yang terjadi adalah hal positif.
Farenzo tersenyum tipis, lalu menyapa Rein dengan ramah.
"Halo, senang bertemu denganmu."
"Senang bertemu denganmu juga Tuan muda Rexxon."
"Kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan formal. Kau bisa memanggilku kakak, adik kecil."
Wajah Rein langsung berubah aneh.
"Kita tidak sedekat itu Tuan muda Rexxon."
Rein mengalihkan pandangannya dari wajah Farenzo, ke kue kering yang ada di atas meja.
Senyum Farenzo menjadi kaku, mendengar penolakan datar dari seorang anak kecil. Yah ini memang salahnya juga, kalau di pikir-pikir dia pun akan melakukan hal yang sama.
~ Anak kecil itu sangat angkuh.
Farenzo mengabaikan komentar Blue, dan bersikap seperti biasa seolah-olah kejadian tadi tidak pernah terjadi.
"Baiklah, mari kita bahas rencananya."
Jasvier memasang mantra kedap suara di sekitar tenda agar tidak ada yang mendengar rencana mereka.
Suasana dalam tenda dalam sekejap berubah menjadi serius, mereka langsung fokus saat poin inti akan di bahas.
Rein mengambil kue kering yang ada di atas meja lalu memakannya, dia penasaran rencana apa yang akan mereka gunakan untuk melawan penyihir tingkat atas.
__ADS_1
Sedangkan Croft sedari tadi diam mencoba mencari tahu dari mana bau emas yang dia cium itu berasal.
"Penyihir yang akan kita hadapi merupakan penyihir tingkat atas, yaitu bintang 10. Kita memiliki peluang 50:50 bila melawannya."
"Kemungkinan penyihir itu adalah milik suatu organisasi yang ingin di kenal namanya, jadi kita harus membunuhnya sebelum dia memunculkan diri dan diketahui oleh banyak orang."
Farenzo mengerutkan keningnya saat informasi kedua di ucapkan oleh Jasvier.
'Organisasi?'
Setahunya, alasan penyihir itu menyebabkan insiden pada festival ini karena terdapat tambang emas yang berada di kedalaman hutan Volker. Hal itu baru diketahui setelah 2 tahun kemudian sejak insiden terjadi.
Dan wilayah hutan Volker keluar dari zona kerajaan Xinlaire.
Farenzo tidak terlalu memperdulikan tentang tambang emas, tujuannya bergabung dalam kelompok ini adalah membalaskan dendamnya pada penyihir itu.
Karena penyihir itu telah membuat dirinya harus kehilangan anggota keluarganya dan di asingkan karena di tuduh mempelajari ilmu hitam.
Farenzo sangat membencinya, dan akan membunuhnya apapun yang terjadi.
"Beberapa kelompok sudah di bentuk untuk menaklukkan monster sesuai kemampuan mereka. Jadi tujuan kelompok kita hanya satu, membunuh penyihir itu."
Jasvier mengakhiri ucapannya.
"Aku akan pastikan untuk membunuhnya."
Farenzo mengatakan dengan dingin, dan aura membunuh yang kental keluar dari tubuhnya.
"Kendalikan amarah mu, disini ada putraku."
"Aku minta maaf."
Farenzo menarik kembali aura membunuh yang sempat dia keluarkan, lalu tatapannya jatuh pada anak kecil yang menatapnya dengan datar.
Plup.
Jasvier menepuk kedua tangannya, lalu semua tatapan langsung mengarah padanya. Kecuali Rein yang lanjut memakan kue kering.
"Aku akan memberitahu rencananya."
* * *
Sudah dua puluh menit berlalu sejak di mulainya festival perburuan, kini Rein sedang makan bersama dengan beberapa para bangsawan yang menemani keluarga mereka dalam berburu. Dan sang Raja yang juga makan dengan elegan di meja berbeda.
Rein menatap datar para bangsawan yang sedang mengatakan omong kosong atau berbisnis tentang urusan mereka.
'Makan santai di saat yang lain sedang berperang, sungguh menyebalkan.'
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tingkah mereka. Acara makan ini dibuat agar terlihat baik-baik saja layaknya festival pada umumnya, namun di balik itu semua mereka sudah siap dengan senjata masing-masing bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Rein mengalihkan pandangan dari para bangsawan, dan menatap ke arah hutan Volker dimana perang sedang berlangsung.
Di lihat dari depan hutan Volker memang terlihat seperti hutan biasa, tapi bila kau masuk ke dalamnya maka kau akan melihat pertarungan antara manusia dengan monster.
"Nak, apa kau mengkhawatirkan tuan muda Curran?"
__ADS_1
Rein menatap seorang gadis yang duduk di samping kursinya. Gadis tersebut memiliki rambut coklat panjang, dengan mata hazel yang menawan dan memakai gaun bangsawan berwarna hijau.
Valerie Mallory, seorang gadis berusia 19 tahun yang merupakan tunangan dari putra mahkota kerajaan Xinlaire, Jasvier Osmond.
Valerie hadir di acara ini karena sudah menjadi tugasnya sebagai tunangan putra mahkota untuk berada di dekat Jasvier saat acara kerajaan di laksanakan.
"Anda benar Lady, saya sedang mengkhawatirkan ayah saya. Saya harap dia baik-baik saja."
Valerie tersenyum, yang membuat wajahnya terlihat dewasa dan menawan.
"Kamu tenang saja, aku yakin tuan muda Curran akan baik-baik di sana. Apalagi ada putra mahkota bersama dengannya."
"Terimakasih atas perhatian anda, Lady Mallory."
"Tentu, kau bisa bertanya padaku bila ada sesuatu yang tidak kau mengerti."
"Saya akan mengingatnya."
Valerie tersenyum lembut. Dia sedikit menyukai anak kecil yang berada di hadapannya. Sangat jarang bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki sikap tenang dengan tutur kata sopan.
Anak kecil yang biasa Valerie temui memiliki sikap pemalu, arogan, sombong, bahkan keras kepala. kata kata yang mereka ucapkan pun sangat kasar dan nakal.
'Tuan muda Curran memiliki mata yang bagus.'
Valerie memiliki kesan yang baik terhadap Rein.
Rein yang tidak mengetahui bahwa dia baru saja memikat hati seorang gadis, meminum susu yang sudah di sediakan khusus untuknya.
Tatapannya tidak pernah lepas dari hutan Volker yang ada di depan. Pikirannya tiba-tiba teringat ucapan Croft tentang mata seorang pemuda bernama Farenzo Rexxon.
Bila Rein ingat kembali, tatapan milik pemuda bernama Farenzo terlihat sangat dalam membuat siapapun yang melihatnya akan terjebak ke dalam ruang hampa.
Namun, dibalik kehampaan itu terdapat kebencian, kemarahan, kekecewaan, penyesalan, dan niat membunuh yang pekat.
'Siapa dia?'
'Apa dia seorang reinkarnator? Transmigrator? Atau regresor?'
Yah, apapun itu Rein tidak peduli. Asalkan dia tidak menganggu hidupnya itu saja sudah cukup.
[ Master!!! ]
Rein menutup matanya saat mendengar teriakkan Croft tepat di telinganya.
'Sialan! Jangan berteriak di telingaku!'
[ Master, ini ini ini ini. ]
Rein merasa bingung dengan Croft yang mengatakan hal sama berulang kali.
'Bicara yang benar.'
Croft melayang di hadapan Rein, lalu berseru di wajah Rein.
[ Emas, banyak emas, ada tambang emas di dalam hutan Volker!!! ]
__ADS_1
Praanngg...