
[ MASTER!! ADA BERLIAN JATUH!! ]
"Mana?!"
Rein melihat Croft yang melayang di atas dengan menampilkan cengiran lebar, pandangan matanya langsung berubah menjadi datar.
'Sialan kau!'
[ Master, saya tahu saya salah. Tapi ini lebih penting, Curran, Joy, Farenzo, dan kucing hitam besar sedang membunuh para monster. ]
[ Mereka mengira, bahwa anda berdarah akibat bertarung melawan para monster. ]
Rein mendecakkan lidahnya. Dia tidak mengira segala sesuatu berjalan ke arah yang tidak sesuai.
Awalnya, dia berniat untuk merahasiakan skill hacker miliknya dari orang lain maupun Curran sendiri.
Tapi, dia juga tidak mungkin membiarkan Curran bertingkah seperti orang idiot melawan banyak monster sendiri.
Meskipun, Rein tidak mempercayai Curran sepenuhnya. Namun, Curran telah memberikan sesuatu yang belum pernah dia miliki saat menjadi Rein Croft.
Rein dengan cepat mengambil sebuah keputusan.
"Rein, syukurlah kau sudah sadar. Dengar, kau harus menghentikan Curran, karena dia berniat melawan monster sendirian."
Jasvier yang tersadar dari rasa terkejutnya mendengar Rein yang tiba-tiba berteriak, langsung memberitahukan informasi yang menurutnya penting.
Rein bangkit dari posisinya, dan memberi perintah pada Croft.
'Croft, keluarkan monster yang bisa terbang.'
[ Baik Master. ]
"Yang mulia, tolong tetap tenang."
Jasvier merasa bingung dengan ucapan Rein yang menyuruhnya untuk tenang, namun di detik berikutnya dia merasa terkejut melihat monster besar yang muncul di hadapannya.
Monster tersebut memiliki sayap yang lebar, bulu putih bersih, paruh warna biru pucat, dan mata biru jernih.
"Rein!"
"Tidak apa-apa, dia sudah jinak."
"Jinak?"
Rein menghiraukan Jasvier yang gelisah di belakangnya, dia melangkah maju lalu mengulurkan tangan ke depan.
Monster yang melihat tangan mungil Rein mengarah padanya, pun merendahkan kepalanya agar bisa menyentuh tangan Rein.
~ Kyuu..
Jasvier merasa tercengang melihat monster terbang yang dikatakan paling ganas di hutan Volker, ternyata sangat manja pada Rein.
Dia sekarang mengerti, alasan mengapa Rein berlumuran darah.
"Rein, apa tidak apa-apa memberitahu tentang kemampuan mu pada orang lain?"
"Yang mulia, saya tidak ingin ayah terluka."
Jasvier memiliki pandangan yang lembut, lalu mengelus kepala Rein.
"Baiklah, mari kita menyusul Curran."
"Tidak Yang mulia."
"Hm?"
__ADS_1
"Saya yang akan menyusul ayah, sedangkan anda menyusul tuan muda Rexxon dengan menaiki monster ini."
~ Kyuu!
Monster yang berada di dekat Rein, memprotes saat dirinya di panggil monster.
[ Master, anda harus memberinya nama. ]
"Baik, namamu Hoka."
~ Kyuu!!
[ .... ]
Hoka berseru gembira saat dirinya sudah memiliki sebuah nama.
Croft memasang wajah bangga, dan berkata dengan dramatis.
[ Saya tidak menyangka, ternyata Master sudah dewasa. Anda berhasil memikirkan sebuah nama, saya merasa bangga Master! ]
"...."
Rein memasang wajah datar. Dia hanya memberi sebuah nama, mengapa Croft harus bersikap seperti itu? Lagipula nama itu tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Rein, lalu bagaimana dengan mu? Apa tidak apa-apa kau sendirian yang menyusul Curran?"
Jasvier mengajukan pertanyaan pada Rein, dia merasa khawatir membiarkan Rein yang menyusul Curran secara sendirian.
"Tidak apa-apa Yang mulia, saya masih memiliki monster lainnya."
Rein menendang tanah, yang membuat dirinya melayang di udara.
"Hoka, lindungi Yang mulia."
"Bisa kita pergi sekarang?"
~ Kyuu.
Di hutan yang sama, Curran sedang menebas setiap monster yang ditemuinya menggunakan pedang api.
Joy juga membuat senjata dari angin di sekitar untuk membunuh monster yang sudah berani membuat Rein berlumuran darah.
"Tuan muda Curran, anda tidak boleh mencampuri pertarungan orang lain."
Slash.
Curran melirik ke arah bangsawan yang memprotes akibat monster yang mereka hadapi malah di bunuh olehnya.
Curran menatap sebentar bangsawan tersebut, lalu melesat pergi dari sana meninggalkan beberapa monster pada bangsawan itu.
Curran lanjut menebas monster yang ditemuinya, hingga dirinya bertemu dengan sekelompok tiga orang yang terdiri dari Mark, Kendrick, dan Alex sedang melawan monster tingkat A.
Curran menggabungkan kekuatan pedang api miliknya dengan kekuatan angin milik Joy, kemudian dia berlari mendekat, lalu menebas monster tersebut menjadi dua bagian.
Slash.
Darah merah kehitaman mengenai tangan kiri Curran. Pandangan Curran menjadi keruh, dia mengingat saat bertemu dengan Rein yang berlumuran darah merah segar di tubuhnya.
"Tuan muda Curran!!!"
Alex memberi salam hormat pada Curran, sedangkan Mark dan Kendrick langsung berjongkok di hadapan Curran.
"Saya telah melakukan kesalahan, saya siap menerima hukuman."
"Kalian memang pantas mendapatkan hukuman! Akibat kelalaian kalian berdua, putraku harus berlumuran darah miliknya!!"
__ADS_1
Suara Curran terdengar sangat dingin saat mengatakan kalimat tersebut.
"Saya siap menerima perintah."
Mark dan Kendrick mengatakannya secara serempak.
"Bunuh setiap monster yang kalian temui, tidak peduli kalian mati atau tidak saat menghadapinya."
Curran berkata dengan suara tegas.
"Sesuai keinginan anda Tuan muda."
Mereka berdua menjawab dengan tenang, tidak ada rasa takut maupun gentar saat menerima perintah dari Curran.
Mark dan Kendrick mengeluarkan senjata yang mereka kuasai, lalu mulai melangkah pergi. Namun, pergerakan mereka terhenti oleh suara Curran.
"Tunggu."
Curran memejamkan matanya sejenak, sebelum membukanya kembali. Dia tidak ingin bertindak gegabah saat amarah menguasai dirinya.
"Bergerak secara bersamaan, dan jangan mati."
Rein mungkin putranya, namun Mark dan Kendrick adalah orang yang selalu bersama dengannya disaat orang lain menjauhi dirinya sejak dia memiliki kemampuan atribut api.
Jadi, Curran tidak ingin kehilangan mereka.
Kendrick memiliki senyum kecil, sedangkan Mark tersenyum simpul.
"Sesuai keinginan anda Tuan muda."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Tuan muda Curran, bolehkah saya bertanya tentang keberadaan Yang mulia putra mahkota?"
Alex mengajukan pertanyaan pada Curran, saat tersisa mereka berdua di tempat ini.
"Yang mulia sedang berada di tengah hutan bersama dengan putraku."
Curran menjawabnya dengan wajah tenang.
"Terimakasih atas informasinya, saya izin permisi."
Curran mengangguk pada Alex, dia membiarkan Alex mendatangi Jasvier untuk melindungi mereka. Dia khawatir ada monster yang datang ke tengah hutan, setelah tindakan yang telah dia lakukan.
~ "Manusia merah, ada pertarungan yang terjadi tak jauh dari sini."
"Tunjukkan jalannya."
Curran kembali berlari mengikuti sekumpulan angin yang berada di depannya. Kemudian, dia melihat cahaya terang dari arah kejauhan. Dan setelah mendekat, ternyata cahaya tersebut merupakan kobaran api yang mengamuk.
Seekor monster berbulu lebat nan cerah terdapat di tengah-tengah kobaran api, dan bola api yang mengelilingi dirinya.
Tak jauh dari monster itu, terdapat seorang pemuda yang tengah terbaring kesakitan akibat luka-luka yang diperoleh, serta lengan kanannya yang patah akibat benturan keras. Hal ini membuat pemuda itu tidak bisa memegang pedang menggunakan tangannya.
~ Ggrrrmmm.
Monster itu memunculkan kukunya yang tajam, lalu berlari menuju pemuda yang terbaring.
Curran mencengkeram pedang api dengan kuat, dan berlari menuju monster tersebut.
Namun, secara tiba-tiba monster api itu berhenti lalu meraung kesakitan.
Curran yang melihat sebuah peluang untuk membunuh monster api itu, mengayunkan pedangnya ke depan.
"Ayah! Uhukk."
__ADS_1