Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 47


__ADS_3

Rein mengedipkan matanya beberapa, untuk menahan rasa kantuk yang mulai dia rasakan.


Mereka telah keluar dari goa tempat Rein bertemu dengan Moya. Kecuali Bell. Rein meminta Bell untuk kembali ke ruang dimensi.


Bukan tanpa alasan Rein meminta Bell untuk kembali. Hanya saja, dia khawatir saat pulang nanti Bell akan memakan barang-barang berharga yang ada di rumahnya.


Moya ikut bersama kelompok Rein, dan duduk di pundak Eren. Dia memperhatikan anggota kelompok Rein yang sudah bersih dan rapih.


'Sudah cukup, aku tidak bisa menahannya lagi.'


Rein menghentikan langkahnya. Membuat yang lain pun menghentikan langkah mereka.


"Tuan muda, apa terjadi sesuatu?"


Eren merasa bingung dengan anak kecil rambut pink yang menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


Rein mengabaikan pertanyaan dari Eren. Dia memandang ke arah Yuda.


"Hei kesatria, kemari."


Yuda yang namanya di panggil, melangkah maju ke depan dan berada di samping Rein.


"Kau butuh sesuatu?"


"Ya, aku merasa lelah dan mengantuk. Gendong aku."


Sudut mulut Yuda berkedut. Melihat Rein yang merentangkan kedua tangannya, meminta untuk digendong dengan wajah sayu.


"Tentu."


Plak.


Yuda terkejut, melihat tangannya di tepis oleh Rein saat dia ingin menggendongnya. Dia menatap Rein dengan tatapan bingung.


"Berbalik."


Rein melihat Yuda membalikkan badannya dengan ekspresi bingung. Setelah itu, dia menepuk pundak Yuda sebentar, sebelum akhirnya menaiki punggung Yuda.


Yuda menahan tubuh Rein agar tidak terjatuh. Seulas senyum kecil terlukis di wajahnya, lalu berubah menjadi datar di detik berikutnya.


Moku melihat Rein di gendong oleh Yuda. Dia berjalan mendekati Eren, lalu mengetuk kaki Eren menggunakan kaki depannya.


~ Myuu Myuu.


Eren menatap ke bawah, seekor rubah merah berseru padanya. Dia terkekeh kecil, lalu berjongkok menyesuaikan ukuran tubuhnya.


"Apa anda ingin di gendong juga, Nona Moku?"


~ Myuu Myuu.


'Imut!'


Eren menjerit di dalam hati, melihat seekor rubah merah yang menganggukkan kepalanya meminta untuk di gendong juga.


"Baiklah."


Eren dengan hati-hati menggendong seekor rubah merah. Menurut tuan muda, rubah merah ini sangat menjaga keindahan bulunya.


Dan, Eren mengakui bahwa bulu milik rubah merah yang di gendongannya sangat lembut dan halus. Belum lagi, ada aroma mawar segar yang tercium olehnya.


"Baiklah mari kita segera kembali, aku khawatir ayah akan mencari kita."


"Hm."


"Baik, Tuan muda."


Croft melayang di dekat wajah Rein.


[ Master, bukankah anda sudah dewasa. Lalu, kenapa anda meminta untuk di gendong oleh seorang anak kecil? ]


'Croft, saat ini aku hanyalah seorang anak kecil yang lemah dan juga rapuh.'


'Berhenti bicara dan awasi sekitar.'


Rein mencari posisi tidur yang nyaman, lalu menutup matanya dan tertidur pulas.


Croft kehilangan kata-kata mendengar perkataan Rein yang mengatakan bahwa dirinya lemah dan rapuh.


Dia melihat wajah damai Rein yang sedang tidur, membuat seulas senyuman lembut terlukis di wajah Croft.


Croft melayang dan mendarat di kepala Rein. Dia mengusap rambut merah muda dengan lembut.

__ADS_1


[ Tenang saja Master, saya akan mengurus semuanya. ]


Croft yang memiliki ingatan tentang kehidupan Rein sebelumnya tahu, bahwa Rein tidak pernah tidur dengan damai.


Dia akan tidur dengan kesakitan, ketakutan, dan waspada akan seseorang yang ingin membunuhnya.


Croft memejamkan matanya saat ingatan tentang masa lalu mulai terbesit di benaknya. Dia membuka matanya kembali, dengan tatapan tekad yang kuat.


[ Saya akan melindungi anda, Master. ]


Croft merentangkan tangannya ke depan, cahaya emas tipis menyelimuti seluruh anggota kelompok yang sedang berjalan untuk kembali.


Kemudian, Croft membentuk bola cahaya kecil berwarna emas.


[ Bersihkan jalan! ]


[ Aku tidak ingin makhluk rendahan seperti mereka, menganggu waktu tidur Masterku. ]


[ Dan, lindungi goa itu karena Master menginginkannya. Pastikan tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya! ]


Bola cahaya tersebut mengangguk, lalu pergi untuk melaksanakan perintah.


Croft kembali mengusap kepala Rein dengan lembut.


~ "Ekhem ekhem."


Moya menoleh ke samping, dia melihat Joy yang melayang di dekatnya.


~ "Apa kau butuh sesuatu?"


~ "Nih."


Moy melihat benda yang terbungkus plastik, dengan batang berwarna putih.


~ "Ini permen punya Joy, kau mau?"


Moya menatap wajah Joy sebentar, lalu mengambil permen pemberian darinya.


~ "Terimakasih."


~ "Sama sama."


Moya memegang permen dengan erat, lalu dia melihat Joy yang masih melayang di dekatnya. Dia pun membuka bungkus permen, lalu memakannya.


~ "Benarkah?"


~ "Iya."


Joya memiliki ekspresi cerah, dia senang bahwa Moya menyukai permen pemberiannya.


~ "Joy masih punya banyak permen, kau mau?"


Moya menatap wajah Joy.


~ "Permen itu enak, tapi tidak baik untuk kesehatan bila kita memakannya terlalu banyak."


~ "Eh, Kenapa?"


Joy mengedipkan matanya beberapa kali. Dia menatap Moya dengan ekspresi bingung.


~ "Permen memiliki banyak kandungan gula, karena dia memang terbuat dari gula."


~ "Hal itu tidak baik untuk kesehatan tubuh, dan dapat membuat gigi kita berlubang."


~ "Lebih baik makan permen sewajarnya saja, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."


~ "Apa kau mengerti?"


Joy terdiam mendengar penjelasan dari Moya. Dia menganggukkan kepalanya, lalu terbang meninggalkan Moya.


Moya tersenyum lembut, melihat Joy yang mengerti ucapannya. Dia pun lanjut mengemut permen yang sudah lama tidak dia makan.


~ "Croft."


Croft menoleh ke belakang mendengar ada yang memanggilnya. Dia melihat Joy yang memeluk tubuhnya sendiri dengan mata berkaca-kaca.


[ Ada apa denganmu? ]


~ "Huhuu."


Croft membawa Joy yang terlihat seperti akan menangis ke atas kepala Yuda, dia tidak ingin Joy menganggu Rein yang baru saja tertidur.

__ADS_1


Lalu, dia memasang perisai kedap suara di antara mereka berdua agar tidak mengganggu yang lainnya.


[ Ada apa?]


~ "Huuuaaaaaa!"


Joy menangis histeris di dalam pelukan Croft.


Croft mengusap kepala Joy untuk menenangkan dirinya yang sedang menangis.


[ Kenapa hm? ]


~ "k-kata Moya-"


[ Kenapa? Moya bilang apa? ]


~ "Kata Moya ... Kalau Joy makan permen, nanti ... Tubuhnya berlubang!"


Dengan sesegukan Joy menjawab pertanyaan Croft, lalu menangis kembali.


Croft kehilangan kata-kata untuk yang kedua kalinya. Permen macam apa yang membuat tubuh berlubang?


~ "Joy takut, nanti perut Joy jadi berlubang gimana?"


[ Joy, dengarkan aku. ]


Croft melepaskan pelukannya, lalu memandang wajah Joy yang memiliki hidung merah dan mata berkaca-kaca.


[ Permen yang kau makan itu buatan ku, jadi tidak mungkin aku membuat permen yang dapat melubangi perut kecilmu itu. ]


~ "Benarkah?"


[ Benar, itu benar. ]


Croft menghapus air mata Joy.


~ "Joy bisa makan permen lagi?"


[ Tentu saja, nih makan. ]


Croft membuka bungkus permen, lalu memberikan permen tersebut pada Joy. Dia menepuk-nepuk kepala Joy yang makan permen dengan tenang.


Farenzo dan Blue memiliki ekspresi kosong di wajah mereka, melihat Curran yang terus berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Rein yang sedang bermain.


Curran menghela napas panjang. Dia menatap ke arah Farenzo yang berdiri tak jauh darinya.


"Tetaplah di sini, aku akan pergi mencari putraku."


~ "Manusia merah!"


Curran menoleh ke belakang mendengar suara yang tidak asing. Dia mengambil langkah besar begitu melihat Rein yang berada di punggung Yuda.


"Apa yang terjadi dengan Rein?"


[ Dia hanya kelelahan. ]


~ "Cutie pie tertidur setelah kita selesai bermain."


Curran mengerutkan keningnya, mendengar penjelasan dari Croft dan Joy.


'Apa mereka habis bermain kejar-kejaran?'


"Berikan padaku."


Curran menyelimuti seluruh tubuh Rein dengan sihir, namun sihir tersebut langsung menghilang begitu ingin menyentuh tubuh Rein.


Curran terdiam di tempat, melihat kejadian barusan. Dia melayangkan tatapan tajam pada Yuda.


Yuda mengangkat satu alisnya tidak mengerti.


~ "Joy akan membantu."


Joy menyelimuti seluruh tubuh Rein dengan kekuatan angin miliknya, lalu melayangkan tubuh Rein ke arah Curran.


Curran menangkap tubuh Rein, lalu memeluknya dengan hati-hati.


~ "Ran kecil, apa sekarang kau bisa memeluk seseorang?"


Curran membeku. Dia terkejut mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar.


Dengan perlahan, dia menoleh ke samping dan melihat makhluk mungil rambut biru yang melayang di dekatnya.

__ADS_1


"Mizu?"


__ADS_2