
[ Master, mereka datang. ]
Rein melihat banyak monster golem tanah berukuran 1,5 meter bermunculan dan mendatangi lokasi mereka.
Rein menyimpan kembali belati emas ke dalam ruang inventori.
"Bibi Eren, anggap saja ini sebagai permainan."
Rein melakukan peregangan otot pada tangannya.
Eren mengerutkan keningnya melihat perbuatan Rein, lalu dia juga melihat anak kecil lainnya menyimpan belati kembar dan mengikuti pergerakan Rein.
Begitu juga dengan dua monster.
Eren menyimpan kembali pisau kecil dan belati di pinggangnya, dan melakukan seperti yang mereka berempat lakukan.
~ "Joy juga ingin bermain."
[ Kau juga bisa melakukannya. ]
Joy memandang wajah Croft.
[ Bermainlah, biar aku yang akan mengawasi mereka. ]
Joy tersenyum cerah, dia memeluk tubuh Croft dengan gembira.
~ "Croft yang terbaik."
Croft terkekeh kecil. Dia menepuk-nepuk kepala Joy dengan lembut.
"Bersiap, mulai."
~ Myuu.
~ Bell.
Bugh.
Rein meninju kepala golem yang membuat kepala tersebut terlepas dari tubuhnya dan terpental jauh.
Tak sampai di situ, Rein menendang tubuh golem lainnya hingga terjatuh dan menabrak dinding goa.
Duaks.
Eren menendang tangan monster golem tanah hingga terputus. Dia melompat menaiki tubuh golem tanah, lalu dengan sekuat tenaga dia mencabut kepala golem.
"Hahaha."
Eren tertawa bahagia saat dirinya berhasil mencabut kepala golem. Dia pun melanjutkan aksinya dengan tatapan mata yang membara.
Set.
Yuda menghindari tangan golem tanah yang ingin meraihnya. Dia melompat tinggi, lalu menendang kepala golem. Kemudian, dia meninju bagian tubuh golem hingga berlubang.
Ekspresi wajahnya terlihat datar dan tenang saat melakukan hal tersebut.
Braakk.
Moku yang ukuran tubuhnya menjadi besar, mengibaskan ekornya ke arah golem tanah hingga mereka semua terlempar dan jatuh dengan suara keras.
Bruukk.
Moku meraih tangan golem tanah, lalu membantingnya ke bawah. Setelah itu dia menginjak kepala golem tanah, hingga hancur dan berubah menjadi abu.
Splash.
Bell melemparkan bola air ke arah golem, yang membuat monster golem tanah terdorong ke belakang.
Duaks.
Kemudian, dia melemparkan bola air yang berukuran cukup besar ke arah monster golem hingga hancur.
~ Bell Bell Bell.
Bell melompat-lompat kesenangan karena berhasil menghancurkan monster golem tanah.
"Bell!"
~ Myuu!
Rein dan Moku berseru dengan nada kesal.
Rein mendecakkan lidahnya, melihat pakaiannya yang basah dan kotor akibat terkena air milik Bell.
__ADS_1
Moku menggoyangkan tubuhnya, melihat bulunya yang bersih sudah kembali kotor.
Sayangnya, Moku tidak bisa marah pada makhluk bulat yang telah membuatnya seperti ini.
~ Bell!
Bell terkejut melihat rekan-rekannya telah terkena air yang sudah bercampur dengan tanah saat dia menyerang monster golem.
Eren tidak begitu peduli dengan pakaiannya yang kotor, dan tetap melanjutkan aksinya.
Yuda hanya melirik ke arah Bell sebentar, sebelum kembali menyerang monster golem.
~ Bell.
Bell memasang ekspresi sedih, karena telah membuat Rein dan yang lainnya kesusahan.
Puk puk.
Rein menepuk-nepuk bagian atas tubuh Bell.
"Tidak apa-apa, kita datang kemari untuk bermain. Jadi, lakukan sesukamu."
Bell memiliki ekspresi cerah kembali, mendengar perkataan Rein.
~ Bell Bell.
Bell melompat-lompat kesenangan, dan kembali menghancurkan monster golem tanah.
Rein tersenyum kecil melihat Bell yang sudah kembali ceria.
Meskipun sedikit menyebalkan dengan pakaiannya yang kotor, tapi mereka datang untuk bermain dan bersenang-senang.
Jadi, Rein menghiraukan pakaian miliknya yang kotor.
Toh, dia bisa membersihkan pakaiannya nanti saat pulang.
Rein mengumpulkan kekuatan angin pada bagian tangannya, lalu dia terbang melesat dan kembali memukul monster golem tanah.
~ "Hihihi, hihihi."
Joy tertawa gembira, saat dirinya sedang menghancurkan monster golem tanah dengan kekuatan angin miliknya.
Joy melemparkan kekuatan angin pada monster golem tanah, yang membuat monster tersebut terbelah menjadi beberapa bagian, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.
Croft tidak memiliki minat untuk melawan monster golem tanah, karena monster itu terbuat dari tanah bukan emas.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya selesai menghancurkan semua monster golem tanah yang ada di sana.
Rein mengusap lumpur yang ada di wajahnya.
Dia melihat keadaan yang lain, yang tak jauh berbeda dengannya. Penuh dengan lumpur.
Setidaknya, kali ini tidak ada yang terluka di antara mereka.
"Mari kita lanjutkan."
~ Myuu.
~ Bell.
"Baik, Tuan muda."
"Tentu."
Mereka bergerak maju dengan antusias, tentang permainan apa lagi yang akan mereka mainkan.
Tak berselang lama, Rein melihat berbagai macam tanaman dengan warna yang berbeda.
[ Hati-hati Master, tanaman disini merupakan monster yang bermutasi. ]
"Ho."
Rein terkesiap.
Dia segera mengeluarkan belati emas miliknya dari ruang inventori.
"Tanaman di sini adalah monster pohon yang bermutasi."
Eren segera menatap Rein yang sudah memegang belati emas di tangannya.
Dia pun mengambil dua belati yang lebih besar dari sepatu miliknya.
Yuda mengeluarkan sabit kembar kesayangannya.
__ADS_1
Moku melihat ke kanan dan ke kiri, dia tidak melihat keberadaan Bell yang selalu berada di dekat kakinya.
~ Bell Bell Bell!!!
Bell melompat-lompat melarikan diri dari pohon yang mengejarnya. Dia berniat untuk memetik salah satu buah yang ada di pohon tersebut.
Tanpa di sangka, ternyata pohon itu hidup dan menyerang dirinya.
Sring.
Yuda menebas pohon yang mengejar Bell. Dia memotongnya hingga menjadi beberapa bagian.
~ Kyyyaaakksss.
Pohon-pohon yang awalnya terdiam, mulai bangun dari posisinya. Dan mulai menyerang.
"Maju!"
Rein memberikan perintah, dan mereka berempat segera bergerak cepat menuju monster pohon.
"Joy, tolong awasi mereka sebentar."
Joy mengerutkan keningnya, dia ingin bermain. Tapi, karena ini permintaan dari Rein.
Joy mengangguk setuju.
~ "Joy mengerti."
Rein mengangguk puas pada jawaban yang diberikan oleh Joy. Dia menepi dari pertarungan yang sedang terjadi di hadapannya.
Croft terbang mendekati Rein, lalu memasang perisai emas transparan di sekitarnya. Agar tidak ada yang melukai Rein.
[ Ada apa Master? ]
"Pohon di sini tidak ada yang beracun 'kan?"
Tanaman merupakan sesuatu yang paling rumit. Akan cukup berbahaya bila ada tanaman beracun di antara monster-monster bermutasi ini.
Bagaimana bila salah satu tanaman beracun sampai mengenai mereka berempat?
Dia yang mengajaknya untuk datang kemari, jadi sudah semestinya dia yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka.
[ Tenang saja Master, tidak ada yang beracun di antara monster pohon di sini. ]
Rein menghela napas lega mendengar jawaban dari Croft. Dia kembali melihat pertarungan yang terjadi.
Tatapan mata Rein sedikit lebih tajam.
"Hei kesatria! Perhatian gerakan sabit milikmu, senjata mu hampir saja mengenai bulu Moku."
"Bell, cukup siram pohon yang sudah menjadi abu saja. Tidak perlu yang lain."
"Bibi Eren, berhenti menusuk. Biarkan Moku yang membakar sisanya."
"Joy, kau bisa bergabung dengan mereka."
Joy tersenyum cerah.
~ "Baik!!"
Rein bersandar pada dinding goa.
"Apa masih ada monster lain di dalam?"
Croft melayang dan mendarat di pundak kanan Rein. Dia duduk dengan menyilangkan kakinya, lalu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rein.
[ Tidak ada, ini yang terakhir. ]
"Oh."
Rein mengembalikan belati emas miliknya ke dalam ruang inventori.
[ Mau popcorn? ]
"Tidak."
"Aku mau daging."
[ Saya akan memesan daging panggang untuk anda. ]
"Pesan yang banyak, sekalian dengan minumnya. Kita harus makan-makan setelah ini."
[ Baiklah. ]
__ADS_1