
Rein berguling-guling di kasur, lalu menatap kosong tembok yang terlihat datar.
Sudah dua minggu berlalu sejak Festival perburuan yang di lakukan di hutan Volker, yang sekarang menjadi wilayah Volker.
Semenjak itu Curran menjadi sibuk melakukan pembangunan wilayah agar bisa di tempati oleh warga dari kerajaan Xinlaire. Dia juga di bantu oleh para kesatria dari wilayah Duchy Crimson, dan pihak istana.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Yang menjadi masalah adalah, Curran menghukum dirinya agar tidak pergi ke hutan hijau yang ada di belakang kediaman.
Sialan!!
Yang lebih menyebalkan, Curran memberikan banyak kesatria untuk mengawasi setiap kali dia pergi untuk bermain.
Berengsek!!
Dia sudah memiliki banyak monster di ruang dimensi, satu roh angin, serta sistem si Croft yang kadang sesat. Dengan adanya mereka, tidak mungkin dia akan terluka.
Lagipula, dia juga tidak mungkin menggunakan skill hacker setiap hari.
Curran bajingan!!
"Haaahh."
Rein menghela nafas panjang.
Awalnya Rein berniat untuk merampok emas milik Curran, namun tidak jadi. Karena, kalau Curran miskin maka dia pun akan menjadi miskin.
"Haaahh."
Rein kembali menghela nafas panjang.
~ "Mengapa ... Cutie pie ... Terus ... Menghela ... Nafas?"
Joy bertanya dengan mulut penuh. Dia sedang memakan buah berwarna ungu segar, duduk di atas meja kecil bersama dengan Croft yang berada di sampingnya.
Croft menoleh ke samping, kemudian dia mendecakkan lidahnya melihat wajah Joy yang terdapat cairan ungu di area wajahnya.
[ Aku sudah bilang 'kan, kalau makan tuh pelan-pelan. Lihat! Wajahmu jadi kotor begini. ]
Joy tersenyum kecil melihat Croft yang sedang menggerutu, namun tetap membersihkan wajahnya.
Joy sekarang memiliki cara agar Croft mau bicara dengannya, meski sedikit takut namun akhirnya dia memiliki teman mengobrol selain manusia merah atau Cutie pie.
[ Berhenti tersenyum seperti orang bodoh. ]
Joy langsung memasang wajah cemberut saat dirinya di bilang bodoh oleh Croft yang menatap dengan datar.
Setelah memastikan wajah Joy kembali bersih, Croft melayang ke arah Rein.
"Aku bosan."
Rein mengeluh dengan wajah lelah.
[ Master. ]
Rein melirik Croft yang terbang ke arahnya.
"Hm."
[ Master, bagaimana kalau kita mencuri makanan dari tempat Marry. ]
Rein memasang wajah datar mendengar usulan dari Croft yang sangat tidak bermutu.
"Kau ingin kita mencuri makanan dari tempat Marry dengan kesatria di belakang ku? Wow, itu ide yang luar biasa."
Croft meringis. Sejenak dia melupakan kesatria yang sedang berjaga di depan pintu kamar.
~ "Bagaimana kalau kita bermain di luar?"
Joy terbang mendekati mereka dan memberitahu pemikirannya.
Croft menjentikkan jarinya.
[ Joy, kau sangat pintar. ]
__ADS_1
~ "Benarkah?"
Joy berseru mendengar pujian dari Croft.
[ Tentu saja. ]
Croft menepuk-nepuk kepala Joy. Kemudian menoleh ke arah Rein.
[ Master, mari kita menyelinap keluar. ]
Sudut mulut Rein berkedut. Dia segera menendang selimut yang membungkus tubuhnya. Lalu turun dari kasur.
"Ide bagus, kita ke pasar sekarang."
[ Siap Master. ]
~ "Bukan itu maksud Joy-"
Joy menghentikan ucapannya melihat mereka berdua yang terlihat bahagia. Dia berpikir sejenak, sebelum mengikuti mereka yang sedang menyelinap lewat jendela.
* * *
Tok tok tok.
"Masuk."
Mendengar sahutan dari dalam, Rosaly masuk ke dalam ruangan dengan beberapa berkas serta bunga yang ada di tangannya.
"Ayah, aku ingin melapor."
Gilbert melepaskan kacamata dari wajahnya, lalu bersandar pada kursi dan menatap putrinya yang cantik.
"Katakan."
Rosaly menyerahkan berkas pada Gilbert, kemudian menaruh bunga di atas meja.
"Banyak kasus tentang hilangnya seorang anak akhir-akhir ini, ada sekitar 100 anak yang di kabarkan menghilang tanpa sebab."
"Aku tidak tahu apakah itu bentuk penjualan manusia atau monster yang melakukannya."
"Apa masih ada yang berani melakukan penjualan manusia di daerah ini?"
Gilbert bertanya dengan nada rendah, tatapan matanya sangat tajam melihat rincian kasus kehilangan anak.
"Aku tidak tahu pasti, tapi ada satu hal yang cukup mencurigakan."
Rosaly menghentikan ucapannya sejenak, untuk melihat respon ayahnya.
"Katakan."
Mendengar ucapan Gilbert, Rosaly langsung mengatakan hal yang mengganjal pikirannya.
"Kasus hilangnya seorang anak, terjadi bertepatan dengan seorang pedagang bunga yang muncul dalam beberapa hari yang lalu."
Rosaly terus melanjutkan ucapannya.
"Tidak hanya itu, ada sebuah insiden, dimana seorang pria berani melakukan kejahatan di tempat umum bahkan saat siang hari."
"Ada juga laporan para pedagang yang mengeluh tentang tingkah laku aneh dari pegawainya."
"Belum lagi, monster yang berada di ujung perbatasan mulai bertingkah agresif sejak kemarin. Hal ini membuat beberapa ordo kesatria Crimson mengalami luka berat, bahkan ada tiga korban jiwa yang meninggal atas insiden tersebut."
Rosaly menyelesaikan kalimatnya dengan nada rendah dan tatapan tajam di matanya.
Gilbert mencubit pangkal hidungnya. Dia merasa pusing dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Baru beberapa hari yang lalu, dia menyelesaikan masalah penjualan manusia.
'Apa aku terlihat jinak akhir-akhir ini?'
Netra hijau emerald milik Gilbert berkilat tajam.
"Ayah."
Gilbert menatap wajah Rosaly yang memiliki senyum tebal di wajahnya. Berbeda dengan tatapan yang membara serta licik, seolah-olah siap menerkam mangsanya.
"Katakan."
__ADS_1
"Apa mereka merasa longgar saat kakak tidak berada disini?"
Rosaly mengajukan pertanyaan yang terbesit di benaknya.
"Mungkin."
"Haruskah aku memburu mereka?"
Rosaly mengangkat satu alisnya, saat bertanya pada Gilbert.
Sudut mulut Gilbert berkedut.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Rosaly menebalkan senyumannya, lalu menjawab dengan suara tenang.
"Tentu saja menghancurkannya."
"Tapi kau belum memiliki bukti untuk melakukan hal itu."
Gilbert membalas jawaban Rosaly, dengan menatap ke arah wajahnya.
"Mengapa aku butuh bukti untuk menghancurkan sesuatu?"
Pertanyaan Rosaly, membuat sudut mulut Gilbert berkedut.
"Ayah, aku hanya ingin memburunya bukan membunuhnya."
Rosaly melanjutkan ucapannya.
"Kalau memang dia tidak bersalah, kita hanya perlu memberinya uang sebagai ganti rugi."
Gilbert tersenyum mendengar perkataan Rosaly.
"Lakukan sesukamu."
"Sesuai keinginan anda, Ayah."
Rosaly membungkuk hormat, lalu berbalik menuju pintu. Namun, dia segera mengerutkan keningnya mendengar suara ketukan pintu yang terdengar tergesa-gesa.
"Masuk."
Gilbert langsung memberikan izin pada orang yang berada di balik pintu agar segera masuk.
"Mark?"
Rosaly menatap dengan bingung, ke arah Mark yang masuk ke dalam dengan ekspresi kaku di wajahnya.
"Nona muda."
Mark merasa terkejut melihat Rosaly saat dia baru saja masuk ke dalam ruang kerja milik Gilbert.
"Mark, apa terjadi sesuatu pada Rein?"
Mark segera tersadar dari rasa terkejutnya mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gilbert. Dia pun langsung mengatakan tujuannya.
"Tuan besar, tuan muda Rein menghilang dari kamarnya. Saya melihat jendela kamar terbuka, kemungkinan tuan muda Rein pergi lewat jendela."
Rosaly terkejut dengan informasi yang dia dengar. Sedangkan Gilbert menghela nafas panjang.
Dia sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Tidak ada yang ingin di kurung dalam waktu lama, belum lagi memberikan banyak kesatria yang mengawasi membuatnya merasa bahwa pergerakan terbatas.
"Beritahu Curran, bahwa putranya kabur dari rumah."
"Baik Tuan besar."
Mark membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayah, bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Rein?"
Rosaly bertanya dengan khawatir.
"Rosaly, Curran harus mengerti tentang kesalahannya dalam mendidik seorang anak. Biarkan dia merasakan akibatnya."
Gilbert menjawab dengan tenang. Dia tidak terlalu khawatir selagi Rein masih berada di wilayahnya, belum lagi Rein memiliki penjaga yang cukup kuat.
__ADS_1
"Aku mengerti, Ayah."