Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 52


__ADS_3

Moya memperhatikan Rein yang sedang menulis sesuatu, sesekali dia melirik ke arah Curran yang sibuk dengan tumpukan kertas.


Moya memakan buah pemberian dari Joy dengan perlahan. Dia mengingat percakapan dengan Curran saat perjalanan pulang.


"Lindungi putraku, hanya itu yang ku minta."


Moya memegang buah di tangannya sedikit lebih kencang. Tanpa di minta pun Moya akan melindungi Rein.


Srak.


~ "Yeeeeeeeeyyy, sudah selesai."


Joy berseru dengan riang. Croft menepuk-nepuk kepala Joy. Moku mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri.


Rein tersenyum puas. Dia mendekati Curran dengan gulungan kertas yang ada di tangannya.


"Ayah."


Curran mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dia baca. Melihat putranya mendekat, dia mengangkatnya lalu menaruhnya di atas pangkuan.


"Kenapa hm?"


"Lihat, aku membuatnya bersama dengan Joy dan Moku."


~ "Itu benar manusia merah, Joy membantu Cutie pie menggambar."


~ Myuu Myuu.


Curran tersenyum kecil. Dia memperhatikan gambar yang telah di buat oleh putranya, namun dia segera mengerutkan keningnya.


Itu karena, gambar yang di buat oleh putranya sangat detail dan rapih, seperti sebuah cetak biru dalam pembangunan.


Curran melihat bagian atas pada gulungan kertas.


Dungeon harta karun.


"Kau ingin membuat dungeon buatan?"


Curran mengajukan pertanyaan, meskipun dia kurang yakin dengan perkataannya.


"Wah, Ayah sangat pintar."


Rein memuji Curran karena langsung bisa menebak niatnya dari gambar yang telah dia buat.


Moku memiringkan kepalanya. Dia tidak mengerti arah pembicaraan dari ayah dan anak yang ada di hadapannya.


~ "Apa itu dongon?"


Joy menatap ke arah Croft meminta penjelasan.


[ Dungeon, bukan dongon. Itu tempat permainan. ]


[ Seperti yang kita lakukan saat di goa. ]


~ "oooohhh."


Joy mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Rein mengeluarkan cristal magis yang dia ambil saat berada di dalam goa.


"Saat bermain siang itu, aku dan yang lain menemukan sebuah goa yang terdapat cristal magis murni di dalamnya."


"Itu sebabnya, aku ingin membuat dungeon buatan. Bagaimana menurutmu, Ayah?"


Curran terdiam cukup lama.


Dia memikirkan gambaran kasar dari pembuatan dungeon buatan, pembangunan wilayah, dan organisasi Bloody Moon.


Curran menghela napas. Dia menggulung kertas yang memiliki gambar buatan putranya. Lalu menyimpannya ke dalam kotak.


Curran mengangkat tubuh Rein, dia membuatnya duduk di atas meja.


"Ayah akan mempertimbangkan ide pembuatan dungeon buatan, tidak apa-apa 'kan?"

__ADS_1


Rein menganggukkan kepalanya.


"Ya Ayah, tidak apa-apa, aku mengerti."


Curran tersenyum, lalu mengusap kepala Rein dengan lembut.


Tok tok tok.


Semua mata mengarah ke pintu yang terdengar ketukan di baliknya.


"Masuk."


Mark memasuki ruangan yang telah menjadi ruang kerja pribadi milik Curran. Wajahnya tersenyum melihat ruangan tersebut yang ramai.


"Ada apa Mark?"


"Tuan besar, makan malam telah siap."


"Mari kita makan malam."


Curran mengangkat tubuh Rein, lalu menggendongnya. Dia berjalan keluar dari ruangan tersebut.


~ Myuu Myuu.


Moku melompat turun dari atas meja, dia mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Curran.


~ "Makan makan makan."


Joy berseru dengan semangat. Lalu tatapannya tertuju pada Moya yang masih terdiam di sana.


~ "Moya, ayo ikut. Kita makan malam bersama."


Croft hanya melirik sekilas ke arah, lalu terbang di samping Rein.


Moya melayang mendekati Joy, dan terbang bersama dengan yang lainnya.


"Mark, panggil Farenzo dan Yuda, kita akan makan malam bersama."


"Saya mengerti, Tuan."


Suara dentingan alat makan terdengar di ruangan yang sudah terisi oleh manusia, hewan, dan roh.


Farenzo memakan daging dengan keningnya yang berkerut, melihat Blue yang memberikan salah satu makanannya ke dalam piring milik Moku.


'Apa dia tidak menyukai makanannya?'


Setahunya Blue merupakan spirit beast yang tidak pilih-pilih makanan.


Farenzo mengambil kesimpulan bahwa Blue memang tidak menyukai makanan tersebut, makanya dia memberikannya kepada Moku agar tidak terbuang.


Farenzo kembali makan dengan tenang.


Moku menatap dengan bingung daging tambahan yang diberikan oleh kucing hitam. Dia memandang kucing hitam yang berada di hadapannya.


Apa dia tidak bisa memotong daging?


Moku mengeluarkan kukunya yang bersih, lalu memotong daging tersebut menggunakan kukunya.


Setelah itu, Moku memberikan daging yang sudah dia potong ke piring kucing hitam.


~ Myuu Myuu.


Moku mengetuk piring yang dagingnya sudah dia potong, agar kucing hitam itu dapat memakannya dengan mudah.


Blue memandangi piringnya dengan bingung. Dia berniat memberikan daging tersebut untuk Moku, tapi yang terjadi daging itu malah kembali kepadanya.


Blue memakan daging yang ada di piringnya dengan sesekali melihat ke arah Moku.


Croft mendecakkan lidahnya melihat wajah Joy yang terdapat cairan merah akibat buah yang dimakannya.


Croft mengambil sapu tangan dari ruang inventori, lalu mengusap wajah Joy yang berantakan.


[ Makan tuh pelan-pelan. ]

__ADS_1


Joy hanya diam saja saat wajahnya sedang di bersihkan oleh Croft.


"Saya memberi hormat pada penguasa wilayah."


Curran menghentikan tangannya yang sedang memotong daging. Dia menatap ke depan yang terdapat Kendrick sedang berdiri hormat di depan pintu ruang makan.


"Katakan."


"Tuan Morgan telah sampai di depan kediaman, beliau berkata bahwa anda ingin bertemu dengannya."


"Ayah?"


'Mengapa bajingan itu datang saat malam hari?'


Curran mengerutkan keningnya.


Dia memang memintanya untuk datang, tapi dia tidak mengira bahwa Morgan akan datang saat waktu makan malam.


"Biarkan dia masuk."


"Baik, Tuan."


Kendrick mengundurkan diri dari ruangan tersebut.


"Mark, siapkan kamar tamu untuk malam ini."


"Di mengerti Tuan."


Mark yang berada tak jauh dari Curran membungkuk hormat, lalu berjalan keluar menyiapkan tempat untuk tamu.


Rein menyeringai kecil. Dia sedang berpikir berapa banyak emas yang perlu dia peras dari bajingan tersebut.


"Halo semuanya, selamat malam."


Morgan memasuki ruang makan dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya.


"Astaga, apa kedatangan saya menganggu makan malam kalian?"


"Ah itu tidak benar, Tuan-"


Farenzo menjawab ucapan Morgan dengan canggung, namun ucapannya terpotong oleh suara Curran yang terdengar tidak senang.


"Kalau kau sudah tahu, mengapa kau harus datang?"


Morgan terkekeh. Dia berjalan mendekati kursi yang berhadapan dengan Curran, dan duduk di sana.


"Itu karena saya merasa sangat senang, saat mendapatkan pesan dari anda yang memberitahu bahwa anda ingin bertemu dengan saya."


Curran memiliki ekspresi tabah di wajahnya mendengar jawaban yang diberikan oleh Morgan.


Tatapan Morgan beralih ke arah putra, Yuda. Yang duduk di samping Rein. Dia melihat tatapan putranya yang terlihat hidup di banding sebelumnya.


Sepertinya keputusan dirinya yang mengirim Yuda ke keluarga ini cukup bagus.


Di antara ketiga anaknya, hanya Yuda yang membunuh orang secara berutal dan tanpa belas kasihan.


Keluarganya memang pembunuh bayaran di benua Timur, namun mereka bukanlah mesin pembunuh.


Mereka masih manusia yang memiliki hati nurani.


"Tuan muda Rein, sepertinya saya memiliki topik obrolan berdua dengan anda."


Morgan berkata dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya.


"Ho, tentu saja. Saya juga merasakan hal yang sama."


Rein membalas dengan senyum yang tak kalah cerah.


"Benarkah? Saya merasa senang mendengarnya."


Farenzo mengerutkan keningnya. Saat hidungnya mencium aroma hangus, seperti ada yang terbakar.


Dia melihat sekeliling, namun tidak melihat percikan api yang membakar benda di dalam ruangan ini.

__ADS_1


Dia juga tidak menemukan makanan yang gosong di atas meja.


'Mungkin hanya perasaanku saja.'


__ADS_2