Suddely Became A Child

Suddely Became A Child
Eps 08


__ADS_3

[ Master, saya ingin merampoknya!! ]


'Croft, tenanglah. Ini yang dinamakan kasih sayang orang tua.'


Bola cahaya miring ke samping.


[ Saya tidak mengerti, mengapa membanggakan diri dinamakan kasih sayang orang tua? ]


Croft mungkin tidak mengerti, tapi Rein mengerti. Dan itu membuat dia merasakan pahit di hatinya.


Gilbert merasa waspada terhadap dirinya. Seorang anak yang dibawa dan di adopsi oleh putranya. Itulah mengapa Gilbert bertanya tentang kemampuannya.


Dan Gilbert tidak pernah bermaksud untuk menyombong diri, melainkan memberitahu dirinya akan kekuatan yang dia miliki.


Bila suatu hari dia menyakiti atau mengkhianati Curran, maka Gilbert yang akan melawan dirinya.


Karena Gilbert tidak bisa menyampaikan kasih sayangnya dengan sebuah pelukan, maka dia melakukannya dengan sebuah perlindungan.


Rein iri.


Dia merasa iri, melihat orang tua orang lain yang memberikan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Sedangkan orang tuanya....


[ Master, mengapa anda menangis? ]


Rein tersadar dari lamunannya. Dia merasakan cairan bening hangat mengalir jatuh ke pipinya.


'Mengapa aku menangis? Aku tidak sedih.'


"Rein."


Rosaly memanggil. Dia terkejut melihat Rein yang tiba-tiba menangis saat ditanya oleh ayahnya.


"Ya Bibi."


Rein mengusap air matanya lalu menyahuti panggilan Rosaly.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik, hanya kelilipan."


Jawaban Rein tenang dan stabil.


Rosaly menutup mulutnya karena jawaban yang diberikan oleh Rein.


"Apa sesuatu terjadi padamu?"


Curran bertanya dengan nada hangat. Dia bingung saat melihat adiknya bertanya tentang keadaan Rein, disaat anaknya sedang makan dengan tenang.


"Tidak ada, aku baik-baik saja."


Curran mengangguk. Dia mengelus kepala Rein pelan, dan berkata.


"Katakan saja pada Ayah, bila sesuatu terjadi padamu."


"Tentu."


Rein menjawab dengan terlambat. Kemudian dia menatap kembali ke arah Gilbert yang terdiam, seolah sedang menunggu jawaban darinya.


"Kakek."


Rein memanggil.


"Ya."


Gilbert menanggapi dengan singkat. Dia masih terkejut melihat tatapan mata Rein yang dalam dan air mata yang mengalir di wajahnya.


Dia ingat pernah melihat ekspresi itu di wajah putranya.


"Aku bisa meracik obat."


"Hm?"


Gilbert mengerutkan kening.


"Aku akan menjadi seorang Alchemist, agar aku bisa menyembuhkan setiap luka dan penyakit yang dimiliki oleh orang lain. Dan aku akan melakukan apa yang aku inginkan."


Rein mengatakan keinginannya dan menegaskan bahwa keputusannya tidak akan berubah oleh siapapun, termasuk Gilbert.

__ADS_1


Di kehidupan sebelumnya, kedua tangannya sudah banyak membunuh orang secara tidak langsung. Itu sebabnya, di kehidupan ini dia ingin menggunakan tangannya untuk membantu banyak orang.


Dan.


Dengan menjadi Alchemist, dia bisa membantu banyak orang sekaligus mendapatkan banyak uang.


Rein menahan diri untuk tersenyum memikirkan rencananya, dan menunggu tanggapan dari Gilbert.


"Begitu."


Gilbert merespon kecil. Dia meletakkan alat makannya dan menatap Rein dengan tatapan hangat, lalu berkata.


"Sepertinya kau memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari keluarga Crimson."


Rein memiringkan kepalanya tidak mengerti.


Gilbert tersenyum kecil, dan melanjutkan perkataannya.


"Mendiang istriku adalah seorang alchemist."


Rein terdiam. Dia baru menyadari bahwa tidak ada nyonya di keluarga ini.


[ Hm, saya tidak mendengar para pelayan maupun kesatria yang membicarakan tentang nyonya kediaman ini. ]


Rein mendengar suara Croft yang terdengar kebingungan, jadi dia pun menjawab lewat pikiran.


'Mungkin itu adalah topik yang sensitif, jadi tidak ada yang membicarakannya.'


"Di bagian belakang kediaman ini terdapat hutan yang di penuhi oleh tanaman herbal, peninggalan istriku."


Gilbert menjeda ucapannya sejenak, sebelum melanjutkannya lagi.


"Aku akan menghadiahkan Green Forest padamu, lakukan apapun yang kau inginkan tentang hutan itu."


Sudut mulut Rein berkedut. Dia senang, dengan begini dia tidak perlu membeli tanaman herbal dari toko.


Puk.


Rein merasakan tepukan yang membuatnya mendongak menatap wajah Curran.


Curran berkata dengan yakin. Dia mengira Rein ragu menerima hadiah yang di berikan ayahnya.


'Hm? Mengapa aku harus menolaknya?'


[ Memang, barang gratis adalah yang terbaik. ]


'Tepat.'


Namun Rein tidak mengatakan pemikirannya, dia hanya mengangguk pada ucapan Curran.


"Terimakasih Kakek."


Rein mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan tempat dan tanaman herbal secara gratis.


Gilbert tersenyum hangat lalu mengangguk, dan kemudian dia melanjutkan makannya.


"Rein, aku juga memiliki hadiah untukmu."


Rosaly berkata dengan memberikan sebuah kotak yang terdapat pita merah di atasnya.


Rein menerima kotak tersebut, dan bertanya.


"Apa aku boleh membukanya?"


"Tentu."


Setelah mendapat persetujuan, Rein membuka kotak tersebut yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah belati dengan ukiran bunga merah di bagian gagangnya.


Rein tersenyum cerah mendapatkan belati pemberian dari Rosaly.


"Awalnya aku berniat memberimu sebuah pedang. Tapi karena tanganmu terlalu kecil untuk memegang pedang, jadi aku memberikan sebuah belati untukmu. Dan sepertinya pilihan ku tepat."


Rosaly menjelaskan dengan senyum segar diwajahnya melihat Rein yang menyukai hadiah pemberian darinya.


"Terimakasih Bibi Rosaly."


Rosaly menebalkan senyumannya, lalu melirik ke arah Curran.

__ADS_1


Curran hanya melirik Rosaly sekilas, sebelum melanjutkan makannya.


Makan malam berakhir damai setelah pemberian hadiah.


Setelah selesai makan, Curran di panggil ke ruang kerja Gilbert. Rosaly kembali ke kamar bersama pelayan pribadinya, Emma.


Dan Rein, saat ini sedang berada di kamar Curran setelah di antar oleh Mark. Rein duduk di kasur dengan baju yang sudah berganti menjadi baju tidur.


Di tangannya terdapat sebuah kantung berisi emas, pemberian Curran yang berjanji akan memberikan uang saat dia menyentuh telapak tangannya.


"Croft."


Rein memanggil.


[ Ya Master. ]


"Gunakan semua koin emas yang ada di kantung ini untuk menaikkan level mu, aku butuh informasi tentang keluarga ini secepatnya."


Meskipun keluarga ini baik padanya, Rein belum bisa mempercayai mereka sepenuhnya.


[ Hehehe, dengan senang hati saya akan melakukannya Master. ]


Croft melayang dan mendarat di atas kantung yang berisi koin emas. Kemudian, dia mulai menyerap semua koin emas yang di dalam kantung.


Dan langsung menaikan levelnya.


Bola cahaya Croft sedikit demi sedikit membesar dengan cahaya menyilaukan mata, membuat Rein harus menyipitkan matanya untuk melihat.


Saat cahaya kian memudar, terlihat sesosok seorang pemuda dengan tubuh mungil seukuran telapak tangan.


Pemuda tersebut memiliki mata bulat emas, rambut emas, dan mengenakan pakaian putih dengan perpaduan warna emas dan merah.


[ Master!! Bagaimana penampilan saya? ]


Croft bertanya dengan mata berbinar dan antusias, seperti seekor anjing yang meminta pujian dari tuannya.


"Imut, kau terlihat sangat imut."


Rein mengatakan pemikirannya. Namun hal itu membuat Croft memasang wajah cemberut.


[ Master, saya itu tampan, oke. Bukan imut!! ]


Croft memprotes saat dirinya di katakan imut.


Sudut mulut Rein berkedut. Dia seperti pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya.


"Baiklah baiklah, kau terlihat sangat tampan. Nah, sekarang beritahu aku informasi tentang keluarga ini."


Croft tersenyum cerah saat di puji tampan oleh Rein. Dia pun melayang ke arah pundak Rein dan duduk disana. Dan mulai menceritakan informasi yang telah diperoleh olehnya.


Rein mendengarkan dengan seksama informasi yang diberikan oleh Croft. Setelah beberapa menit kemudian, dia pun menghela nafas panjang.


"Mengapa hidup itu sulit?"


Rein mengeluh secara internal.


Setelah mendengar informasi tentang keluarga ini yang diberikan oleh Croft, dia mulai menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja yang mengalami kehidupan pahit. Melainkan orang lain juga.


[ Tidak apa-apa Master, hidup itu memang sulit. Itu sebabnya kita harus bahagia di kehidupan yang sulit ini. ]


Croft menepuk-nepuk kepala Rein dengan mengatakan sesuatu untuk menghiburnya.


Rein merasa nyaman mendengar kalimat Croft yang mencoba untuk menghiburnya, namun perasaan itu dengan cepat hilang setelah mendengar kalimat berikutnya.


[ Bagaimana kalau kita merampok? ]


Lupakan.


Rein meyakinkan dirinya kalau dia tidak mendengar apapun.


[ Hm, Master. Ada seseorang yang akan datang ke kamar ini menggunakan teleportasi. ]


Rein segera menyentuh belati pemberian dari Rosaly untuk berjaga-jaga, setelah mendengar pemberitahuan Croft.


Sesosok seorang pria muda muncul berdiri di hadapannya.


"Eh, sejak kapan di kamar Ran ada anak kecil?"

__ADS_1


__ADS_2