
Reta dan Draca telah sampai di kerajaan Phoniex dan mereka pun mulai mempersiapkan segalanya yang dibutuhkan untuk pernikahan. Reta benar-benar berada dalam kondisi dilema, ia ingin segera menemukan jalan untuk pulang, namun di sisi lain rencana pernikahannya dengan Draca tidak bisa dihindarkan lagi.
Kini gadis itu sedang merenung, di depan jendela dengan beberapa kali mendesah. "Apa yang Anda pikirkan putri Meira?" Gadi Ta datang dengan membawa beberapa pakaian pernikahan untuk di coba.
Reta menoleh. "Bisakah kau membawa Nania kemari?" pinta Reta.
Gadi Ta terlihat berpikir. "Budak dari ras Rusa?" tanyanya dan Reta pun mengangguk.
"Dimana ia putri?" tanya Gadi Ta.
"Di Istana dingin, kerajaan Naga. Jika seandainya Draca bertanya kepadamu, bilang saja jika aku yang menginginkannya. Jikalau bisa, kau harus membawa Darasi Ya bersamamu." pintanya dan Gadi Ta pun mengangguk untuk menyanggupinya.
"Baiklah Putri Meira," katanya yang kini pergi.
Reta kembali sendiri dengan pikirkan penuh ke khawatiran. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia terus memaksakan dirinya untuk menikah dengan Draca. Seharusnya, ia menghentikan semua ini, meskipun Reta merasakan rasa suka pada Draca. Namun, ia juga tak bisa mengabaikan fakta jika pria itu penuh dengan intrik. Selalu ada sebuah alasan untuk setiap tindakan untuk pencapaian yang ia inginkan, Reta cukup tahu jika pria itu semengerikan ini.
Tujuannya Reta memanggil Nania dan Darasi Ya, ia ingin mengambil kesempatan terakhir untuk berkumpul dengan mereka. Meskipun tanpa Adel karena Reta belum menemukannya atau masih ragu tentang Alika yang sangat mirip dengan Adel. Pernikahan ini tentu akan menjadi belenggunya untuk selama-lamanya atau semua ini akan berakhir sampai ia menemukan jalan untuk kembali pulang.
"Apa ini ekspresi seorang yang akan menikah?" seru seseorang yang tak lain adalah Draca. Reta memelihat Draca sudah berada di hadapannya. Ayolah, saat ini Reta sedang tidak ingin bertemu dengannya. Namun, akhir-akhir ini pria ini sering kali menemuinya.
Reta menghela napas. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," balasnya yang lebih memilih untuk membaringkan dirinya di tempat tidur dan Draca dengan santainya juga ikut berbaring di samping Reta.
"Kau masih mencemaskan teman rusamu itu?" tanya Draca, ia tak memandang Reta. Wajahnya menghadap kelangit-langit ruang kamar Reta dan Reta pun mengangguk.
"Ya, jadi biarkan Gadi Ta membawanya bersama Darasi Ya," mohonnya yang kali ini memandang Draca, pria ini pun balas memandangnya dengan mengangguk.
"Kau tidak memiliki permintaan lagi?" tanya Draca dan Reta nampak berpikir.
"Apakah Alika akan datang?" Aneh, tiba-tiba pertanyaan itu datang secara tiba-tiba. Ia masih saja penasaran dengan jati diri Alika yang sebenarnya.
Draca mengirutkan keningnya, tak mengerti dengan pertanyaan calon istrinya. Ia pun mendekatkan tubuhnya pada Reta dan memandangnya, seolah mencoba untuk mengerti dengan apa yang gadis ini pikirkan.
"Kenapa kau bertanya tentang dirinya? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?" Draca, masih belum lepas dari rasa kecurigaannya dan Reta hanya tersenyum mendengarkan tuduhan Draca. Dugaan Reta memang benar, jika pria ini tidak akan pernah mempercayainya dan ia akan melenyapkan selintas pikiran jika Draca mulai tertarik kepadanya.
Tidak akan pernah, pria ini tidak akan pernah menyukainya meskipun mereka pernah bercumbu, atau tidur bersama. Ini hanya bagian dari triknya dan Reta harus terus mengingat itu sampai kapan pun.
"Aku akan menikahimu, jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ucapnya yang kini memeluk Reta dan gadis ini membalasnya dengan hambar.
"Aku tahu, kau tak perlu khawatir tentang itu. Hanya saja, aku sedikit penasaran dengan kerajaan para rubah. Apa di sana hanya ada putri Alika?" Reta masih berusaha untuk menemukan Adel.
Draca berpikir sesaat sampai akhirnya ia mulai mengatakan sesuatu. "Tidak juga, kerajaan rubah memiliki satu putri yang bernama Alisa yang merupakan kembaran Alika. Hanya saja, saat ini ia diasingkan disebuah tempat karena kondisi fisiknya yang tak begitu baik dan itu cukup menjadi kelemahan yang nampak bagi sebuah kerajaan. Akan banyak yang memanfaatkannya untuk kepentingan politik. Jadi, tidak ada yang tahu dimana Alisa di sembunyikan." Reta menganga, ia nampak terkejut sekaligus merasa menemukan sebuah kesempatan.
__ADS_1
Draca, masih melihat Reta yang nampak terkejut. Ia terus-terusan dibuat untuk menebak apa yang ada di pikiran gadis ini. "Kali ini apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
Reta pun tersenyum, senyum yang nampak canggung dan Draca mengetahui itu. "Aku tidak memikirkan apa pun, hanya merasa kasihan kepadanya. Kalau di pikir-pikir, ia tak sebebas siapa pun. Jika menjadi seorang putri adalah keberuntungan semenjak lahir, maka ia tak memperoleh itu." Pendapat Reta seketika membuat Draca tertawa getir dan Reta tahu jika pendapatnya itu tak Draca setujui.
"Kenapa? Apa ucapanku salah?" tanyanya dan Draca kembali memeluknya.
"Tak sepenuhnya salah, hanya saja kita yang memiliki keberuntungan sebagai seorang pewaris tahta lebih sering mengorbankan banyak hal demi tahta itu sendiri, dari pada bersenang-senang dengan semuanya." Dan Reta sangat menyetujui hal ini. Namun, dunia ini sangat luas. Seharusnya, kita tidak perlu terpaku hanya pada satu solusi untuk setiap masalah bukan?
"Aku menyetujui hal ini, tapi tidak sepenuhnya," balas Reta yang membuat Draca memandangnya kembali, nampak menunggu apa yang akan gadis ini katakan. "Aku pikir semua itu tergantung pada sudut pandang seseorang, jika seandainya yang ada pada diriku hanya kata menyerah, maka aku akan benar-benar mengorbankan segalanya. Namun, jika aku memilih untuk memperjuangkannya, tentu saja akan berakhir berbeda. Dalam hal ini cara memperjuangkannya pun memiliki dua pandangan, yaitu dengan tak mempertimbangkan kebajikan dan dengan mempertimbangkan kebajikan. Hanya itu ...," ucapnya yang seketika membuat Draca tertawa. Rupanya Reta mencoba untuk menyindirnya dengan cara seperti ini.
"Aku tahu apa yang kau maksud, bagiku caraku memperjuangkan tahta adalah dengan cara yang tidak bijak. Namun, kau juga perlu tahu Meira ... Jika tidak selamanya seseorang seperti kita, hidup dalam kondisi sepertimu," tekan Draca, nampak sangat serius.
"Sepertiku? Apa maksudmu?" Reta tak suka jika Draca menjadikan dirinya alasan untuk membedakan dirinya dengan yang lainnya.
"Raja kuat nan bijaksana, panglima besar dengan pasukan kuat yang bisa melindungi negara kapan pun pertempuran terjadi, rakyat makmur dengan wilayah yang subur. Semua itu membuat dirimu tak harus susah-susah memikirkan berbagai jenis masalah. Kau pun bisa tumbuh dengan segala kemewahan dan kasih sayang, hingga membuat dirimu menjadi gadis manja yang seolah tak perlu memikirkan jenis kesusah apa pun," kata Draca yang tentu saja tak Reta setujui. Di bumi, ia adalah tipe pejuang yang akan selalu memperjuangkan banyak hal untuk sesuatu yang ingin ia capai. Salah satunya, saat ayahnya adalah seorang guru dan ibunya adalah pemilik sebuah toko roti, untuk memenuhi keinginannya seperti membeli handphone baru, Reta harus membantu ibunya dengan berjualan. Mempromosikan kue buatan ibunya di media online, bahkan teman-temannya dan terkadang menerima pesanan sesuai keinginan mereka. Dengan itu, ibunya akan memberikan beberapa uang untuk ditabung, hingga cukup untuk dibelikan handphone.
Seperti itulah kehidupannya, tidak seperti Adel yang ayahnya adalah seorang dosen di universitas ternama, tidak pula Sara yang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya yang memiliki pabrik tekstil ternama, bahkan itu Akira yang orang tuanya memiliki beberapa cabang perusahaan di beberapa negara Asia. Reta hanya gadis biasa yang sering kali memperjuangkan keinginannya dengan berusaha dengan keras dan tekun.
"Mungkin dulu aku seperti itu, tapi saat ini aku tak terima dengan pandanganmu itu terhadapku," ucap Reta yang kini bangkit dari tempat tidurnya.
Draca tertawa karena tahu Meira merajuk, cukup manis. Sangat berbanding terbalik dengan Meira yang dulu, yang akan langsung menyerangnya dengan api jika ia tersinggung. "Ya, mungkin kali ini aku memiliki pandangan yang berbeda," ucapnya yang juga bangun, memeluk Reta dari belakang, mengendus kulit leher Reta yang mulus dan seputih susu. Membuat gadis ini menghela napas dalam.
"Pernikahan kita besok, apa kau akan terus berada di sini?" usirnya yang lagi-lagi membuat Draca geli sendiri.
---***---
"Reta ...." Seseorang memanggilnya, membuat Reta membuka matanya dan memandangi sekitar, tidak ada siapa pun. Draca sudah pergi, setelah berhasil membuatnya berantakan tanpa terbalut sehelai benang pun. Seketika Reta merasa kesal pada diri sendiri yang selalu tak bisa menolak Draca.
"Reta ...." Suara itu memanggilnya kembali dan ia menemukannya, dari balik pintu. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.
"Siapa?" tanyanya mencoba memakai gaunnya dan melangkah pada sumber suara yang berasal dari balik pintu.
"Aku Sara," ucapnya dan Reta seketika membuka pintunya dan memeluk Sara dengan erat.
"Kau baik-baik saja bukan?" Reta bertanya dan Sara pun mengangguk. Membuat Reta menghela napas panjang.
"Aku sudah datang semenjak tadi, tapi Gadi Ta tak mengijinkan ku masuk. Ia hanya bilang ada pangeran Draca di dalam. Apa yang terjadi? Ia tidak sedang melukaimu kan?" tanya Sara yang tak mampu Reta jawab. Bayangkan saja, kalau Sara tahu jika Draca sudah berhasil merebut keperawanannya, bahkan mereka telah tidur bersama beberapa kali. Reta yakin Sara akan sangat marah terhadap Draca. Di antara mereka berempat, Reta adalah gadis yang cukup lugu, tidak terlalu menyukai yang namanya pacaran, tapi dirusak dengan mudah oleh makhluk tak jelas seperti Draca.
Reta mencoba tersenyum sebiasa mungkin. "Tidak terjadi apa pun, kami hanya berbicara tentang bagaimana pernikahan kita nanti," jawab Reta membuat Sara mengangguk.
"Oh ya, dimana Adel? Kau tidak membawanya?" tanya Reta yang ingin mengubah topik.
__ADS_1
Sara pun menghela napas. "Ia tidak mau pergi jika itu bukan perintah pangeran Draca."
Seketika Reta pun kesal. "Bagaimana bisa, ia tak mengingat kita? Apa aku perlu membenturkan kepalanya itu?" kesalnya dan Sara tertawa.
"Sudah biarkan saja dan sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apa yang ingin kau lakukan, hingga memanggilku kemari?" tanyanya yang kini duduk disebelah Reta.
Gadis ini pun mengedarkan pandangannya di sekeliling, mencari sosok Gadi Ta atau siapa pun yang memiliki kemungkinan untuk mendengarkan perkataannya. "Aku rasa kita dapat menemukan Akira, tapi kau harus membantuku untuk keluar dari sini," bisiknya pada Sara.
"Kau yakin? Dimana Akira?" tanya Sara dengan suara lantangnya dan Reta dengan sigap membekap mulutnya.
"Diam bodoh, aku tidak akan bisa pergi kalau mereka sampai tahu rencana kita kali ini," bisik Reta yang membuat Sara mulai mengerti.
"Tapi, kau akan menikah beberapa jam lagi. Malam semakin beranjak," ucap Sara yang memang benar adanya.
Reta menghela napas, nampak berpikir keras. "Setelah pernikahan selesai dan Draca kembali ke kerajaan Naga, untuk perayaan di sana sebelum membawaku," ucap Reta dan Sara mengangguk.
"Tapi, apakah kau harus tetap menikahinya? Jika kau sampai terikat dengannya, maka itu berarti kita akan selalu terjebak di sini. Reta, aku tidak mau, bisakah kita kembali secepat mungkin?" mohon Sara yang tentu membuat Reta sedih. Gadis ini pun memeluk Sara.
"Aku juga ingin kembali, bersabarlah. Kita hanya perlu mencari Akira dan membawanya bersama kita untuk menemukan solusi agar bisa kembali ke bumi," hibur Reta yang nampaknya tak akan menyerah begitu saja.
"Tuan putri, sebentar lagi matahari terbit. Waktunya untuk ritual mandi bunga sebelum pernikahan." Terdengar suara Gadi Ta dari balik pintu yang membuat baik Reta dan Sara terlihat tegang.
Sara pun memegang tangan Reta dan menggeleng. Berharap sahabatnya ini tidak melakukannya, untuk menikahi seorang Draca yang di kenal cukup kejam itu.
"Tentu Gadi Ta, kau tunggu saja. Aku akan segera keluar," ucap Reta dan kali ini ia memandang Sara. "Kau tetap di sini, meskipun Aslaan tiba-tiba mengajakmu pergi. Kau harus tetap di sini, pernikahan ini adalah satu-satunya jalan agar kita bisa kembali, percayalah aku memiliki banyak cara untuk kita kembali." Lagi-lagi Reta mencoba untuk meyakinkan Sara.
"Tentu, aku akan mempercayaimu," balas Sara dengan senyuman penuh keyakinan.
Reta pun pergi keluar dengan segala kecemasan yang memenuhi pikirannya. Berharap, jika ini sebuah mimpi maka semua akan berakhir segera.
---***---
Ritual dengan mandi wewangian seribu bunga telah usai. Wajah Reta merah padam, saat ia hanya memakai kain yang dililitkan dan melakukan ritual mandi di depan banyak tamu undangan, hingga akhirnya memakai gaun yang begitu mewah berwarna merah dengan hiasan mahkota di rambutnya.
Semuanya nampak terpana, bersamaan dengan itu rombongan dari kerajaan naga telah datang. Draca segera bersanding dengan Reta, membuat gadis ini semakin ingin lari saja.
"Jangan gugup, aku bersamamu," ucap Draca sembari memegang tangan Reta yang tentu membuatnya semakin tak tenang saja.
Ia akan menikah sekarang! Menikah! Apa kalian tahu makna dari menikah itu? Mempersatukan dua insan dalam satu ikatan dan ini sama sekali tak ada di pikiran Reta. Membuatnya mendadak frustasi di tengah-tengah pernikahan mendadak ini.
Namun, saat melihat Sara ia segera sadar jika semua ini hanya semu. Pernikahan ini nyatanya hanya sebuah aliansi antar dua negeri dan juga trik Draca untuk memperluas kekuasaannya.
__ADS_1
Baiklah, Reta sudah bertekad untuk mengikuti alur permainan ini sampai ia berhasil menemukan jalan untuk keluar dari dunia ini. Dunia yang sama sekali tidak ia pahami.