
Reta muncul di depan gua tempat Akira tinggal. Ini sudah sangat siang, tapi tempat ini begitu dingin. Reta
seketika merasa kasihan kepada Akira yang harus memerankan sebagai putri terbuang. Namun, bukankah ia juga sama menyedihkannya, perannya sebagai putri Meira membuat dirinya dipermainakn oleh Draca. Ia hampir saja terjatuh kalau Akira tak segera menangkapnya. Bukankah ini lucu, dua orang lemah berusaha untuk saling menguatkan.
"Reta, kau baik-baik saja?" tanya Akira yang khawatir. "Apa ini karena kau meminum racun?" Rupanya Akira dapat menebaknya dengan benar.
Reta pun mulai menangis, derita yang selama ini selalu ia pendam akhirnya tertumpahkan. Ia tidak bisa mengeluh
tentang segalanya dengan terbuka kecuali pada Akira yang sekarang terkesan lebih serius dan melankolis. Rupanya peran saat inilah yang mengubahnya menjadi gadis seperti ini.. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa untuk tidak meminumnya, aku merasa seluruh tubuhku lemas dan susah untuk bernapas," lirihnya yang dibantu Akira berjalan.
Selama beberapa hari setelah meminum racun, Reta merasa sakit pada kepala dan sesak di dadanya. Reta berusaha untuk menahannya sampai beberapa kali ketiduran. Membuat semua orang tak menyadarinya dan dari pada terganggu dengan rasa sakit itu, Reta lebih terganggu dengan kondisi janinnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anaknya?
Meskipun Draca belum tahu tentang hal ini, Reta juga sebenarnya tidak ingin memberitahunya. Namun, jika takdir
berjalan dengan tidak semestinya, maka yang hanya bisa Reta lakukan adalah merelakan semuanya. Ia hanya harus bertahan sampai bayinya lahir, setelah itu Reta pasrah jika harus mati sekali pun.
“Berbaringlah, aku akan memeriksamu. Aku memperoleh beberapa keterampilan setelah memasuki tubuh ini,” ucap Akira dan Reta hanya menanggapinya dengan anggukan. Baginya ini mungkin, mengingat kebanyakan kaum rubah menguasai ilmu pengobatan.
Akira pun mencoba untuk mengeluarkan serbuk rubahnya dan menyebar dengan ajaibnya ke seluruh tubuh Reta, membuatnya tiba-tiba menggigil kedinginan. “Astaga, berapa dosis yang mereka berikan? Kenapa begitu pekat?” gumam Akira yang berhasil menyerapnya sedikit dan membuatnya kelimpungan juga.
“Sudah, jangan memaksakan dirimu. Aku sudah lebih baik,” bohong Reta yang tak ingin melihat Akira yang selama ini begitu lemah menjadi sangat lemah.
__ADS_1
“Tapi ini menyakitimu, kau sedang hamil sekarang,” tolak Akira dan Reta kembali duduk, mencoba menyela koneksi
yang terhubung antara dirinya dan Akira.
“Aku pikir sudah tidak ada cara lain. Akira, mungkin kita harus berganti dengan rencana lain,” ucap Reta yang
sebenarnya tidak begitu Akira setujui, tapi ia juga tidak bisa memaksa Reta untuk melakukannya.
---***---
"Ayahanda memanggilku?" tanya Draca yang baru saja masuk aula dimana semua orang berkumpul yang kebanyakan dari faksi klan naga api, hanya beberapa saja orang luar biasa yang berasal dari klan naga es. Mereka memandang Draca dengan berbagai ekspresi.
"Ya, duduklah dan aku akan memberitahumu beberapa hal," ucap sang Raja yang terlihat sekali lesu dan wajah pucatnya membuat semua orang khawatir, termasuk juga Draca meskipun selama ini ia begitu membencinya karena berani membuang ibunya hanya untuk kekuasaannya.
Lanjutannya bisa baca di link dibawah dan gratis sama seperti di sini kok. Jadi jangan lupa untuk cek link di bawah ya. Aku tunggu dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini, aku sangat menanti komentar yang luar biasa dari kalian semua.
.
__ADS_1
.
.
link lanjutan :https://www.\*\*\*\*\*\*.com/novel/BoWj%2FsO1WIQaH1yxlVCJYg%3D%3D-Super-Blue-Blood-Moon.html
.
.
Selamat membaca ^ - ^
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.