
Draca memang mengatakan ingin segera menikahi Alika dan kini mereka berada di gua, saling memeluk tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh keduanya. Gua ini pun digunakan Draca untuk meyakinkan Reta agar mau menikah dengannya. Mereka terlelap sebelum akhirnya membuka mata mereka karena sinar mentari yang muncul dari lubang atap gua.
"Draca, sepertinya ini sudah pagi," Alika mencoba membangunkan Draca yang masih saja memeluknya.
Draca pun telah membuka matanya dan menatap sekeliling. "Ayo kita mandi dan kembali, beberapa hal harus segera ku urus," ucapnya yang berdiri tanpa rasa malu karena tak memakai pakaian, ia bahkan menggendong Alika dan masuk ke dalam air terjun kecil ditengah gua.
Mereka saling tertawa dan bermain-main dengan air, seolah sering kali melakukan hal ini di sini, sebab mereka terlihat begitu terbiasa dan tak ada kecanggungan yang sama seperti saat Draca bersama Reta.
Tidak memakan waktu sampai mereka telah rapi kembali dan menghilang bersama. Mereka berpisah di angkasa kerajaan Naga. Draca mencium kening Alika. "Aku pasti akan merindukanmu," bisiknya yang segera membiat Alika tersenyum lebar, jantung wanita ini semakin bertendum keras. Ingin rasanya ia berlama-lama dengan Draca, hanya saja ia harus bersabar lagi untuk mendapatkan Draca seutuhnya. Hanya dia seorang, tidak yang lainnya.
Draca pun menghilang dan muncul tepat di depan taman istana yang putri Meira tempati. Melihat Gadi Ta tidak ada depan kamar untuk menemani itrinya itu, membuat Draca mulai tak tenang. Pria ini pun berjalan cepat. "Gadi Ta, apa kau di dalam?" panggilnya.
__ADS_1
Gadi Ta terlihat keluar dan menangis. "Maafkan hamba yang mulia, putri Meira menghilang dan semua sedang mencarinya saat ini," lapornya yang membuat Draca terkejut.
Tanpa berkata, Draca pun menerobos masuk ke dalam kamar Meira dan benar ia tak menemukan sosok itu di sini. Draca pun terlihat sekali mencoba untuk mengendalikan dirinya. Ketakutan terbesarnya saat ini adalah bagaimana jika Meira tahu dan memilih untuk kabur darinya sebelum ia bisa menguasai kerajaan Phoenix?
"Cari Meira keujung dunia ini. Kalian harus menemukannya bagaimana pun caranya!" tekannya Draca yang tak ingin kehilangan harta karunnya yang membuat dirinya akan menguasai seluruh Phatasia.
"Baik raja, kami akan melaksanakannya!" ucap para para prajurit dengan serempak.
Kini hanya tinggal Draca yang hanya diam dengan kirutan didahinya. Ia mencoba untuk memfokuskan dirinya, mencoba mencari jejak Meira, tapi gagal. Banyak kemungkinan yang berkembang dalam otaknya, membuat ia tidak bisa memikirkannya. Hanya kekhawatiran yang semakin membesar saja.
---***---
__ADS_1
Ditengah keheningan, dengan kilauan yang berasal dari pantulan batu energi di penjuru gua. Reta terbangun, mendapati dirinya lebih baik karena tidur di atas batu energi. Racun itu memang tidak terserap, tetapi ia memiliki tambahan energi untuk bisa lebih bugar. Sebuah fakta juga membuatnya mengerti jika mereka tidak ragu untuk membunuhnya meskipun saat ini dirinya sedang mengandung calon pewaris dua kerajaan. Namun, permasalahannya, apakah Draca menganggapnya seperti itu?
Bisa saja saat ia telah menguasai kerajaan Phoniex, Draca memilih untuk membunuh anaknya yang tidak pernah ia harapkan sama sekali, sama seperti dirinya. Reta merasa cukup nelangsa, tapi ia tidak punya pilihan lain, karena seharusnya ada hal yang lebih penting ia pikirkan yaitu jalan untuk pulang.
Lanjutannya bisa baca di link dibawah dan gratis sama seperti di sini kok. Jadi jangan lupa untuk cek link di bawah ya. Aku tunggu dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini, aku sangat menanti komentar yang luar biasa dari kalian semua.
link lanjutan :https://www.\*\*\*\*\*\*.com/novel/BoWj%2FsO1WIQaH1yxlVCJYg%3D%3D-Super-Blue-Blood-Moon.html
__ADS_1
Selamat membaca ^ - ^