Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Seduction 2


__ADS_3

Reta sudah menyelesaikan ritual mandi dengan bermacam bunga, meskipun ia merasa nyaman di kerajaan Phoniex, tapi di sini tak buruk juga. Pelayan yang telah disediakan oleh Draca cukup memuaskan dirinya. Seketika Reta tersenyum sendiri, sepertinya dirinya sudah mulai terbiasa dengan kehidupan mewah seperti ini.


"Apa yang membuatmu tersenyum?" Lagi-lagi Draca datang dan mengagetkannya. Wajah Reta seketika berubah cemberut. "Jadi, kau tak menyukai kehadiranku?" tanyanya dan Reta mengangguk tanpa kata.


Bukannya menjauh, Draca malah berdiri di belakang Reta yang masih bercermin dan membungkuk, memeluknya dengan hangat. "Kita bisa memulainya dari awal, aku tahu kau tidak dapat mempercayaiku, tapi kau perlu mengingat ini ... Aku hanya akan memiliki satu permaisuri dan itu adalah dirimu," ungkapnya yang entah membuat Reta merasa kalang kabut. Sekeras mungkin gadis ini mencoba untuk menahan emosinya.


"Aku akan melindungimu Meira, percayalah. Di tempat ini tidak sesederhana yang kau perkirakan, wanita itu bisa memangsamu kapan pun dengan kondisimu yang begitu sempurna," ucap Draca yang membuat Reta mulai berpikir.


"Maksudmu siapa? Ratu? Kenapa ia harus melakukan itu kepadaku?" tanya Reta yang masih belum memahami situasinya.


Draca menarik tangan Reta, membuat wanita ini harus berdiri dan Draca pun mulai memeluknya dengan erat. "Karena kekuatan klan naga api sangat besar, ia bahkan yang membuat ibu harus tinggal di bukit dingin," ucapnya terdengar cukup emosional, untuk pertama kalinya Draca tak menahan emosinya dan keluar begitu saja.


Reta melepaskan pelukan Draca dan menatap lekat bola mata kelam itu. Ada luka yang menganga di sana dan Reta menyadari jika bahkan seorang Draca yang agung pun pernah mengalami perihnya terluka karena ulah seseorang. Kemudian Reta mengingat kembali wajah ibu Draca yang terlihat begitu sedih dan membuat Reta tidak tega.


Haruskah ia bekerjasama sekarang? Mungkin, setidaknya selama ia berada di kerajaan naga ini.


"Aku tau, kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhku. Jika tempat ini tidak menjadi sesederhana itu, maka aku akan menyederhanakan pemikiran perempuan itu hingga ia tidak bisa memikirkan hal lain untuk melawanku," kata Reta dengan sungguh-sungguh dan ini kejutan. Draca cukup dibuat takjub, Meira terlihat berbeda, tidak kekanakan atau penuh emosional seperti biasanya. Kenapa ia nampak begitu dewasa saat ini? Seketika Draca merasa bimbang untuk memilih antara Alika atau Meira.


Sementara Reta, ia berpikir jika kali ini tidak akan mudah. Maka dari itu, setidaknya ia harus menyiapkan mental untuk segala kemungkinan terburuk. Namun, tidak menuntup kemungkinan jika suatu saat ia memiliki cara untuk menghalau semuanya. Baginya yang paling sulit adalah untuk memperoleh hati Draca seutuhnya, dari pada berharap terlalu banyak, lebih baik menangani hal-hal yang seharusnya tidak perlu menjadi penghalangnya saat ini. Salah satunya adalah ratu dan ia tidak ingin rencananya hancur karena wanita penggoda itu.


"Putri Meira ...." Suara Gadi Ta memanggil Reta dari balik pintu, membuat acara saling pandang dengan pikiran berkecambuk di antara dua sisi ini berakhir.


"Ada apa Gadi Ta?" Draca bertanya dan Meira terlihat bersiap. Mendengar suara Gadi Ta yang nampak panik itu jelas ia akan mengatakan sesuatu yang buruk tentunya.


"Pangeran Danual mengajak Nania pergi berkeliling, apa yang harus aku lakukan," ucapnya dengan cemas dan wajah Reta berubah. Draca tahu, istrinya ini masih belum kuat sepenuhnya. Jika ia memperlihatkan kelemahannya seperti ini, maka dia akan dengan mudah di singkirkan.


Seketika Meira berjalan dan membuka pintu. "Dimana? Kau tahu?" tanyanya dengan tak sabaran.


Draca pun datang dan mencoba menenangkan Reta. "Tenanglah, mereka tidak akan pergi jauh dari sini," katanya. "Kau sudah mengatakan ingin mengatasinya, maka jangan sekali-kali kau menunjukkan kelemahanmu Meira," lanjutnya yang membuat Reta terdiam. Sepertinya ucapan Draca ada benarnya, ia harus menjadi wanita yang memiliki komitmen untuk setiap kata yang ia ucapkan.


Wanita ini pun menghela napas. "Apa menurutmu Danual ingin memanfaatkan kepolosannya?" Reta mencoba menduganya dan Draca pun mengangguk.


"Aku rasa dan aku memiliki sebuah cara untuk menghentikannya. Kau hanya butuh bekerjasama denganku," tawar Draca yang membuat Reta nampak menimbang.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mempercayaimu kali ini, tapi ingat jangan sampai kau membohongiku," ancam Reta dan Draca mengangguk sembari tersenyum.


---***---


Berkeliling dengan menikmati pemandangan sekitar istana kerajaan naga adalah hal yang paling menyenangkan bagi Sara saat ini, bahkan ia merasa bersyukur ditemani oleh sosok pangeran tampan seperti Danual. Pria ini sangat ramah dan perhatian, kalau saja Sara bertemu dengan dirinya sebelum Arslaan, mungkin Sara akan merasa cukup bersyukur.


Mereka sampai pada sebuah taman dengan corak bunga bertabur tak beraturan, hanya saja itu begitu indah dengan ke naturalannya. "Sesungguhnya ada banyak hal yang indah di istana ini jika kau mau tinggal lebih lama." Terlihat sekali jika Danual mencoba untuk membujuk Sara.


"Selain itu, aku akan menemanimu menulis apa pun yang kau mau. Jadi, kau tak perlu merasa kesepian," lanjutnya yang membuat Sara tersenyum. Ingin sekali ia menjawabnya langsung, tapi ia masih menjaga keanggunannya sebagai seorang perempuan.


"Aku akan pergi jika putri Meira menginginkannya." Mungkin dengan jawaban semacam ini dirinya tidak akan terlalu malu karena perbedaan kasta mereka yang cukup jauh.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara itu adalah suara Reta yang berjalan dengan Gadi Ta.


Seketika keduanya membungkuk. "Kakak ipar, apa yang membawamu kemari?" sapa Danual dengan ramah dan hangat.


Reta tersenyum dan menatap Danual penuh minat. Hal ini tentu membuat Sara merasa sahabatnya ini cukup aneh. Biasanya Reta tidak akan ambil pusing dan memilih menghindar dari berurusan dengan pria lain. Bahkan jika itu dengan Draca, suaminya sendiri.


"Nania ... Pergilah dengan Gadi Ta karena aku akan hanya berbicara dengan adik ipar ku yang tampan ini.


Seketika Sara merasa jijik dengan pujian yang seharusnya tak perlu keluar dari mulut Reta yang terkadang selalu kasar itu.


"Baiklah, ayo Gadi Ta," ajak Sara yang kini menarik tangan Gadi Ta untuk menjauh dari hadapan mereka.


Kini hanya tinggal Reta dan Danual yang nampaknya menunggu dengan gemas kakak iparnya ini. Seolah ia ingin tahu, apa yang membuat kakak iparnya ini nampak serius.


"Apa yang ingin kau katakan kakak ipar?" tanyanya dan Reta lagi-lagi menunjukkan senyum khasnya.


Reta membalikkan tubuhnya, sengaja tak menatap Danual. "Rumor apa yang sering kau dengar tentang diriku?" tanya Reta.


"Tentu saja kau penggila saudaraku." Yang segera membuat Reta menoleh dan tertawa.


"Jika saat ini aku mengatakan, aku tak menginginkannya ... Apa kau akan percaya?" tanya Reta dengan serius, seketika senyum Danual menghilang. Ada yang aneh pada wanita di hadapannya ini.

__ADS_1


"Kenapa? Kau memiliki rencana lain?" tanyanya yang sepertinya ingin tahu apa yang di pikirkan wanita kakaknya ini.


"Ya, ada yang harus ku selesaikan dan itu mengharuskan diriku pergi dari Draca, kerajaan ini bahkan kerajaan Phoenix sekali pun," jawab Reta yang membuat kerut di dahi Danual semakin jelas.


"Kenapa? dan haruskah kau meminta bantuan kepadaku?" tanya Danual yang masih tak memahami niat dari seorang Meira.


Reta tersenyum. "Karena kekuatanmu sebanding dengannya. Aku sudah cukup lelah harus menuruti semua perintahnya." Bahkan Reta menghela napas panjang dan Danual masih diam, tak menunjukkan reaksi yang Reta harapkan. Namun, Reta sangat tenang karena gadis ini mempunyai cara lain.


"Aku akan menyerahkan kerajaan Phoenix jika kau berhasil untuk menjatuhkannya."


Ucapan Reta yang ini membuat Danual semakin tak mengerti. "Sepenting apa hal yang perlu kau lakukan? Sampai kau mengorbankan kerajaanmu? Kau tidak sedang merancang sesuatu kan?" Danual mulai menunjukkan pergolakannya dan Reta merasa menang untuk ini.


"Aku hanya ingin menghabiskan hidupku dengan damai, terbebas dari jerat apa pun. Sebelum Draca menghabisi ku dan menggantiku dengan Alika, kekasihnya."


"Jadi kau tahu? Alika akan menjadi kandidat Draca untuk mencapai puncak kekuasaannya dan dirimu hanya sebagai batu loncatan pertamanya," terang Danual yang membuat Reta tertawa getir. Bahkan, Danual saja tahu, tapi dengan kejamnya Draca menjadikan bahan ini untuk menjebaknya. Pria itu bahkan tak memperdulikan perasaannya.


Namun, Reta hanya bisa mengiyakannya karena ia tak ingin Sara menjadi target tragis dari Danual. Reta wajib melindungi teman-temannya karena hanya dirinyalah yang paling leluasa melakukan apa pun dengan statusnya yang sekarang.


"Aku tahu ... Aku sudah memberikan seluruh yang ku miliki, tapi malam dimana seharusnya kita bersama. Ia merencanakan sesuatu dengan Alika dan itu adalah tentang bagaimana cara menyingkirkan ku. Aku sangat kecewa dan marah, aku ingin membuatnya hancur. Bisakah kau melakukan itu? Kau akan mendapatkan dukungan penuh dari kerajaan Phoenix," ucap Reta tak hentinya berusaha untuk menyakinkan Danual.


Bahkan kali ini Reta menangis dengan ekspresi kepedihan menyayat. Danual masih diam dengan ekspresi datarnya. Sekarang terbukti jika pria di hadapannya ini tak sebaik yang kebanyakan orang pikirkan. Empati dan perhatian yang selama ini ia perlihatkan hanya sebuah tipuan.


"Untuk membuatmu percaya, aku akan memberimu seribu pasukan Phoenix yang sudah terlatih dan masuk dalam kelompok andalan pamanku,"


Danual menganga. "Kau serius? Itu adalah pasukan khusus yang cukup terkenal," gumamnya dengan tak percaya dan Reta terlihat berusaha menahan senyuman kemenangannya.


"Tentu, kau pikir aku bercanda? Kau mau atau tidak?" desak Reta.


Danual seketika berdehem. Mengembalikan lagi ekspresinya. "Beri aku waktu, aku harus membicarakan dengan ibuku," ucapnya dan Reta pun mengangguk.


"Baiklah, aku akan menunggu kabar baik darimu," balas Reta yang kini meninggalkan Danual sendiri.


Jika kedua pangeran itu berseteru dan melibatkan dirinya dalam hal ini, itu tidak masalah. Selama, hal ini bisa memperpanjang waktunya untuk melaksanakan rencananya sendiri bersama Sara dan Alisa.

__ADS_1


__ADS_2