
Malam semakin larut saat satu persatu tamu undangan kerajaan meninggalkan aula pernikahan. Reta pun terlihat begitu kelelahan dan Draca masih setia berbincang dengan beberapa pejabat kerajaan.
"Kau lelah?" Sara datang mendekatinya.
Reta menguap dan mengangguk dalam bersamaan. "Ya, seperti yang kau tahu aku sangat lelah dan pria brengsek itu terus-terus saja menggunakan kesempatan ini untuk kepentingannya," omel Reta dan Sara hanya tertawa.
"Ayo masuk, Gadi Ta juga terlihat masih sangat sibuk," ajak Sara dan Reta pun menyetujuinya.
Mereka pun berjalan melewati setiap bangunan dengan pilar berukir burung Phoenix dan melihat malam yang gemerlap begitu indahnya di temani dengan beberapa pertunjukkan festival Phoenix yang menunjukkan atraksi kemegahan api di angkasa.
"Coba kau pikirkan, bagaimana aku bisa menjadi makhluk seperti itu. Sangat tidak masuk akal," gumam Reta sembari mendongak, masih memperhatikan angkasa, memperhatikan para phoenix melakukan atraksi.
"Dan aku menjadi manusia rusa. Ah, kenapa dari semua spesies harus menjadi rusa yang lemah." Sara mengeluh dan membuat Reta tertawa.
"Tapi setidaknya dengan kau sebagai rusa, Aslaan sang singa menyebalkan itu menyukaimu dari pada harus memakanmu," ejek Reta yang seketika mendapatkan pukulan gemas dari Sara.
"Singa pemaksa itu, entah mengapa aku merindukannya," ucap Sara tanpa sadar mengutarakan kerinduannya.
Reta diam sesaat, terlihat memikirkannya. Sara memang pemuja pria tampan sama seperti Akira, hanya saja ucapannya kali ini nampak begitu dalam. "Jika Aslaan tiba-tiba datang kepadamu dan memintamu untuk hidup bersamanya, apa kau akan menurutinya?" tanya Reta dengan serius.
Senyum Sara seketika lenyap, ia merasa bersalah karena berbicara seperti itu kepada Reta. Ia tahu, Reta adalah satu-satunya yang bisa memikirkan tentang bagaimana mereka pulang dan ucapannya ini tentu akan menambah beban Reta. "Aku hanya merindukannya, bukan berpikir untuk tinggal bersamanya," sangkal Sara, tapi Reta tentu tak akan bisa mempercayainya begitu saja.
"Aku tidak akan melarangmu, jika kau menginginkannya karena aku merasa kau cukup bahagia bersamanya," kata Reta yang tidak seperti biasanya. Seolah gadis ini menerima banyak lonjakan perasaan dan pikiran yang membuatnya terlihat begitu dewasa saat ini.
Sara seketika memeluknya. "Kenapa kau mengatakan ini? Apa sesuatu terjadi, ini sama sekali seperti bukan dirimu." Sara merasa mungkin Reta begitu frustasi sampai mengatakan hal semacam ini.
Reta tertawa, tentu ini bukan dirinya. Reta yang dulu, ia akan mengeritik Sara habis-habisan jika ia memilih pasangan yang asal-asalan seperti Aslaan. Namun, semenjak berada di sini semua berubah. Semua pandangan sempit nan kekanakan itu hilang, ia hanya memikirkan jika manusia harus bisa bertahan dimana pun ia berada. Salah satunya dengan adanya pendamping yang akan melindunginya, membuat semua orang akan sanggup bertahan dalam kondisi apa pun.
Reta tiba-tiba berhenti melangkah, saat ia menyaksikan pemandangan yang tidak semestinya.
"Astaga! Bagaimana bisa mereka melakukan itu dihari pernikahan kalian?" gumam Sara yang hendak melangkah, menghampiri sosok pria dan wanita yang sedang bercumbu.
Reta menahannya dan menggeleng. "Sara, biarkan saja. Aku tidak terlalu terkejut melihatnya. Kita hanya menjadi peran pengganti di dunia ini. Jadi, sebaiknya kita berhenti terus berharap kepada siapa pun, karena semua itu hanya semu," lirih Reta yang berjalan dengan tetap memandang Draca yang masih berciuman mesra dengan Alika.
"Kalau begitu, kita batalkan saja untuk menanyai Alika tentang saudara kembarnya itu," usul Sara dan Reta pun menggeleng.
"Tidak, aku akan tetap menanyainya. Bantu aku untuk mengganti bajuku, agar aku bebas bergerak," ucap Reta yang sama sekali tak Sara mengerti. Saat ini, ia sudah menangis melihat kelakuan Draca yang terus mengkhianati Reta, tapi sahabatnya ini masih saja memaksakan dirinya untuk tegar.
Sara, merasa Reta banyak berubah. Gadis ini, sekarang lebih bisa diandalkan, jauh di bandingkan Adel. Apa mungkin karena ia sering mendapatkan kejadian menyakitkan seperti ini?
---***---
Reta telah mengganti bajunya dengan pakaian biasa, cukup natural dan menarik dengan caranya.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu." Ini sudah ketiga kalinya Sara mengatakan ini. Reta hanya tersenyum hambar, sembari menatap pantulan dirinya di kaca.
__ADS_1
"Memaksakan diri untuk apa?" sahut seseorang yang tak lain adalah Draca. Pria ini, kini mendekati Reta dan mengabaikan kehadiran Sara.
"Sara, bisakah tinggalkan kami," mohon Reta dan Sara pun mengangguk, tanpa mengatakan apa pun. Sara keluar dengan harapan, jika Reta akan mampu memberanikan dirinya untuk menegur Draca.
Kini hanya tinggal Draca dan Reta, wanita ini menghela napas dan memejamkan matanya sesaat. Sungguh, berpura-pura adalah bukan gaya Reta dan semenjak tadi ia harus berpura-pura di depan Sara dan sekarang Draca.
Belum satu hari mereka menikah, tapi Draca sudah bertindak seenaknya seperti ini. Reta cukup tahu jika pria naga ini tidak akan menjatuhkan seluruh hatinya pada Reta dan untuk hal ini, Reta mulai sekarang akan berusaha untuk mengingatkan dirinya agar tak terlalu jauh menyukai Draca.
"Ada apa?" tanya Draca yang kini datang dan memeluknya dari belakang.
Reta hanya mampu tersenyum sinis. Ia tak habis pikir, bagaimana Draca cukup mahir berakting di depan para wanita dan Reta menyadari ambisi besar itu, segala impian pria ini akan kekuasaan mengalahkan segalanya.
"Kau sudah berjanji membuat diriku bertemu dengan Alika bukan?" kata Reta yang berusaha sekali untuk terlihat biasa.
Draca segera melepaskan pelukannya. Reta menduga, pasti pria ini sedang berpikir jika kebersamaan dengan Alika beberapa saat lalu telah di ketahui oleh Reta.
"Untuk apa? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?" tanyanya dan kecurigaan pria naga ini muncul kembali. Membuat Reta semakin merasa getir saja.
Reta bangkit dan berbalik menatap Draca. "Aku hanya ingin berbaikan dengannya, setelah semua yang terjadi. Bisakah kau mengantarkanku kepadanya?" Dan Reta memutuskan untuk segera menemukan Akira dan mengakhiri segala omong kosong ini.
Draca masih memandangnya, seolah ia berusaha menebak apa yang sedang Reta pikirkan? "Baiklah, ia masih berada di aula bersama tamu yang lainnya," ucapnya yang kini merangkul Reta dan mendorong tubuhnya untuk berjalan bersama-sama.
Sepanjang kaki mereka melangkah menuju aula, Reta terus berusaha menunjukkan sikap normalnya. "Aku bisa menjamin jika kita akan baik-baik saja," ucapnya yang membuat Draca kini memandangnya.
"Apa yang baik saja?" tanya Draca yang tak memahami perkataan Reta.
Pria ini pun tak banyak bertanya lagi. Ia hanya mengikuti langkah kaki Reta yang nampak penuh tekat itu. Mungkin, ia akan hanya akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Reta.
---***---
Reta dan Alika saling bertatapan. Atmosfer panas pun memenuhi sekeliling. Namun, semua berubah saat Reta tiba-tiba merangkulnya dan mengajaknya duduk bersama.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya sedikit berbisik yang tentu membuat Alika sangat kesal.
"Kau masih bertanya kabarku? Seharusnya akulah yang ada di posisimu saat ini!" tegasnya yang tentu membuat Reta tertawa.
"Sepertinya kau benar-benar mencintainya," gumam Reta.
"Untuk itu, seharusnya kau tidak perlu bertanya lagi," jawab Alika menantang.
Reta tersenyum kembali. "Seandainya, setelah ini Draca menikahimu? Bagaimana nasib kerajaan rubah? Kau atau saudaramu yang akan menjadi pewaris tahta?" Jebak Reta. Ia mulai melancarkan aksinya.
"Tentu saja akulah yang akan mewarisinya dan Alisa, hanya akan menjadi penunggu gua suci. Ia tidak akan pernah bisa pergi dari tempat itu karena hanya di sana lah ia bisa tetap hidup tanpa beban apa pun," ucapnya yang tanpa sadar ia beberkan sendiri keberadaan saudarinya itu.
Reta seketika tersenyum penuh kemenangan dan itu membuat Alika memandangnya dengan aneh. "Kenapa kau sangat begitu senang!" desaknya tak mengerti. "Kau mempunyai rencana picik?" lanjutnya dan Reta menggeleng dengan sangat santai.
__ADS_1
Reta pun bangkit. "Kau hanya perlu sedikit bersabar menunggu, terima kasih untuk mau berbicara denganku," ucapnya yang kini segera berbalik dan pergi.
Draca yang semenjak tadi memperhatikannya, kini menghampiri Alika. "Apa yang ia bicarakan?" Draca pun menggoyang-goyangkan tubuh Alika.
"Tidak ada, tapi aku merasa ia sedikit aneh. Cepat segera laksanakan rencanamu dan bunuh ia setelahnya," bisik Alika dan Draca pun mengangguk.
"Kau tenang saja, aku akan pergi. Biarkan beberapa prajurit ku mengantarmu," kata Draca dan Alika pun mengangguk sambil tersenyum senang.
Setidaknya, hati Draca masih tetap miliknya dan siapa pun tidak bisa mengambil hal berharga ini darinya.
---***---
Di keheningan yang mengantarkannya pada kesendirian dengan ditemani altar-altar serta kubur-kubur. Alisa, gadis rubah yang seharusnya dapat bersenang-senang di luar dengan berbagai hal yang menarik, harus terjebak di sini. Memendang kepedihan karena telah dibuang dan kesakitan secara fisik.
Mungkin, kekuatannya lebih besar dari saudara kembarnya, Alika. Hanya saja, tubuhnya yang rengkih ini menjadi penjara paling mengerikan untuknya.
"Tuan putri, seseorang mencari Anda," lapor sang pelayan, membuat Alisa yang semenjak tadi melamun dengan pemikiran kosongnya kini mengirutkan keningnya.
"Mencariku?" tanyanya yang tak percaya. Selama ini, tidak ada yang mencarinya kecuali Alika dan itu pun hanya untuk pamer kepadanya.
"Iya dan ia mengaku sebagai teman laman anda. Ia mengaku sebagai Reta," lanjut sang pelayan yang seketika membuat mata Alisa melebar.
"Kau bersungguh-sungguh," tanyanya tak percaya dan pelayan itu pun mengangguk.
Alisa segera bangkit dengan terhuyun-huyun. Fisiknya semakin lemah dan ia tidak bisa berjalan dengan cepat. Membuat Alisa selalu saja ditemani pelayan, kemana pun ia pergi.
Gadis ini pun berjalan keluarg gua, menuju danau yang ditumbuhi berbagai pepohonan, serta corak bunga yang beragam. Indah dan sejuk, membuat siapa pun yang berada di sini, merasa tenang dan damai. Tempat ini menjadi cukup indah dan semua itu karena serbuk rubah yang Alisa tebarkan untuk menumbuhkan semua bunga-bunga yang indah dan langka.
Dua sosok bertudung nampak memandang kagum sekeliling. Hingga Alisa datang dan menanyakan keperluan mereka. "Apa yang membawa kalian untuk menemuiku?" tanyanya dengan heran.
Dua sosok itu pun membuka tudung mereka dan segera menoleh, menghadap Alisa. Seketika mata gadis itu membelalak. "Reta, Sara!" tegurnya dan keduanya pun tersenyum.
Tangis seketika memenuhi tempat ini, dengan tiupan semilir angin yang menghangatkan suasana. Mereka berpelukan mesra, seperti seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
"Aku pikir, aku akan mati sendirian di sini," lirih Alisa dan keduanya menggeleng, sembari tersedu.
"Jangan berbicara seperti itu Akira, kami datang di sini untuk menyelamatkanmu. Ayo kita pikirkan sebuah cara untuk kembali ke dunia kita, bumi!" Reta mencoba untuk menyemangati kedua temannya.
Alisa adalah Akira yang berhasil mereka temukan. Semalam, saat Alika terpancing untuk mengatakan keberadaan Alisa, Reta segera menyuruh Sara untuk mengirim beberapa prajurit ke tempat ini dan mereka membenarkan jika ada sosok wanita yang mirip seperti putri Alika yang berada di tempat ini.
Mereka pun memutuskan datang, saat Draca kembali ke kerajaannya untuk mengurus kedatangan Reta. Reta bahkan menyuruh Gadi Ta untuk ikut Draca, ia bertugas menentukan dekorasi kamar dan benda apa saja yang disukai putri Meira di sana. Karena hal itu lah, Reta dan Sara bisa pergi ke mari dengan bebas.
"Bagaimana caranya? Aku tidak bisa bergerak bebas karena penyakit yang ku derita," keluh Akira yang tentu membuat kedua sahabatnya ini prihatin. Akira yang mereka kenal adalah sosok yang selalu memiliki banyak energi, baik itu untuk berbicara kasar atau tidak berhenti bergerak.
Reta pun menggenggam tangannya. "Jika kau ijinkan kami memakai tempat ini, aku janji akan menemukan caranya," ucap Reta dengan yakin dan Akira pun tersenyum.
__ADS_1
"Aku mempercayaimu ... Sungguh, aku ingin kembali ke bumi," lirihnya dan Reta serta Sara pun mengangguk.
"Kita akan pulang bersama-sama," seru Sara penuh tekat.