
Alika terbangun saat mentari menerpa matanya dan ia begitu senang saat Draca masih tidur di sampingnya dengan nyaman. Wanita ini pun memeluk tubuh Draca dengan erat, menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Draca yang akhir-akhir ini membuatnya selalu sadar jika kebersamaannya dengan Draca saat ini adalah nyata. Juga tentang hubungan mereka yang tidak perlu bersembunyi lagi dalam bermesra-mesraan. Mereka bebas bersama sampai kapan pun dan tentunya putri Meira tidak akan bisa mengusik mereka lagi.
Mengingat putri Meira, Alika merasa takjub dengan saingannya itu. Pernikahannya lancar tanpa berusaha ia hambat atau memang Draca berusaha menghalangi segala rencana Meira untuk menggagalkan pernikahannya?
Tidak mungkin juga dalam semalam Meira tiba-tiba menjadi sosok pendiam, meskipun akhir-akhir ini wanita itu aneh. Alika merasa itu hanya jebakan dan segala ide liciknya, tapi sampai detik ini tidak ada yang terbongkar. Atau mungkin karena efek racunnya yang segaja Alika tambahi dosisnya tanpa Draca tahu?
Alika menyeringai saat ia berhasil mengelabuhi Draca dalam memberikan racun itu. Jelas sekali Alika tidak ingin anak itu lahir dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Meira harus menghilang dari hidup Draca. Agar hanya ada dirinya yang akan menjadi bagian dari hidup Draca selamanya.
"Kau sudah bangun?" Suara Draca membuat Alika kembali dari imajinasinya. Kini mereka berdua saling berpandangan dan mendekat, sebelum akhirnya Draca mengecup Alika dengan mesra.
"Baru saja aku bangun," balas Alika yang lagi-lagi memeluk Draca. "Apa kau tidak ingin mengajakku ke suatu tempat? Aku butuh membuat pikiranku lebih segar," usul Alika yang membuat Draca segera berpikir bahwa ide itu tak terlalu buruk juga. Sebab, pria ini harus bisa menghindari Meira mulai dari sekarang.
"Baiklah, sebaiknya kau segera mandi dan kita akan pergi sekarang," ucap Draca yang sungguh tak disangka oleh Alika akan langsung mengabulkan permintaannya ini.
"Baik, aku akan berdandan cepat. Jadi, kau tidak perlu lama menungguku," balas Alika yang segera bangkit, berusaha untuk meraih pakaiannya yang berserakan dan menuju tempat mandi.
__ADS_1
Kali ini senyum Draca lenyap, berganti dengan wajah datarnya. Masih di awal dari permainan ini, tapi Draca sudah lelah. Jika bersama dengan Meira, wanita itu akan bisa menebak apa yang ia pikirkan, jadi Draca tidak perlu menutup-nutupinya. Namun, jika itu bersama Alika, Draca seolah bermain dengan adik kecil perempuan yang manja. Mungkin, jika Meira tetap seperti dulu dan tidak berubah seperti saat ini, ia akan lebih parah dari sikap kekanakan Alika.
Draca seketika merasa dahinya mengkirut dan mulai kesal karena terus mengingat-ingat Meira dan mulai membanding-bandingkan kedua istrinya ini. Lalu, ia juga berpikir jika semuanya akan mulai merumitkan sekarang. Seharusnya ia tidak berurusan dengan wanita, hanya cukup mengerahkan seluruh pasukan untuk melumpuhkan seluruh kerajaan atas. Namun, ia malah memilih jalan yang seperti ini untuk mewujudkan seluruh mimpinya.
---***---
Lanjutannya bisa baca di link dibawah dan gratis sama seperti di sini kok. Jadi jangan lupa untuk cek link di bawah ya. Aku tunggu dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini, aku sangat menanti komentar yang luar biasa dari kalian semua.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Selamat membaca ^ - ^
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.