
Reta telah bangun dan mendapati kedua orang tuanya menemaninya. Mereka terlihat begitu khawatir dengan kondisi putrinya saat ini. Putri Meira benar-benar tak sekuat seperti dulu yang bahkan tak sering sakit.
"Apa kau lebih baik?" tanya sang ratu dan Reta mengangguk, mencoba memaksakan tersenyum agar orangtua palsunya itu tak merasa terlalu khawatir.
Sang ratu menghela napas, terlihat lega dan Reta lagi-lagi mencoba untuk terlihat baik-baik saja. "Apa yang terjadi sebenarnya?" Sang Raja pun bertanya.
Reta diam, nampak berpikir. Ia mencoba mencari alasan yang tepat. "Sepertinya, hamba membutuhkan udara segar. Berjalan-jalan ke Kerajaan bawah, untuk melihat-lihat. Apakah itu tidak boleh?" tanyanya dengan wajah lucunya. Ini pertama kalinya putri mereka menunjukkan wajah yang polos dan selucu itu.
Ratu menjadi gemas sendiri. "Ijinkan saja, ia akan ditemani Gadi Ta dan beberapa panglima," kata Ratu yang mencoba membujuk Raja yang tak segera merespon keinginan Reta.
"Boleh kan Ayahanda?" tanya Reta penuh harap, membuat Raja tak bisa mengatakan tidak. Putri Meira adalah satu-satunya harapan kerajaan Phoenix dan Raja yang begitu menyayanginya akan memberikan segalanya untuk putri semata wayangnya ini.
"Baiklah, tapi kau harus menjaga dirimu dengan baik-baik. Jangan membuat kami mengkhawatirkanmu," nasehat Raja dan Reta pun mengangguk dengan semangat.
"Tentang kesepakatan dengan kerajaan Naga, pernikahan kalian akan di laksanakan segera," kata sang Raja membuat senyum Reta menghilang. Ia cemas dan tidak tahu bagaimana mengatasi hal ini.
Sekarang saja, keadaannya sangat buruk. Bagaimana nanti saat mereka menikah? Bisa-bisa ia dibunuh oleh wanita rubah itu atau bahkan pangeran Draca sendiri yang akan membunuhnya.
"Apa ada yang mengganggumu?" Ratu bertanya dan Reta menggeleng.
"Aku dan bundamu, sebenarnya tak menyetujuinya tapi pangeran Draca datang, meminta maaf dan bersunguh-sungguh akan menikahimu serta melindungimu," terang Raja yang jelas membuat Reta hanya bisa menutupi senyum sinisnya.
Pria itu, selain dingin dan kasar. Ia pandai bersandiwara dan taktik piciknya itu membuat semuanya mudah mempercayainya. Membayangkan wajahnya yang menyebalkan saja sudah membuat asam lambung Reta naik, apa lagi hidup bersamanya, setiap hari bertemu? Akan jadi seperti apa dirinya nanti?
"Selain itu, kami juga mempertimbangkan kedekatan Ayahandamu dengan Raja Naga. Jika perang pecah, kerajaan bawah akan menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan kerajaan atas," terangnya yang tentu membuat Reta memahaminya.
Reta masih mengingat bagaimana Ayah dan Ibu palsunya ini begitu marah, tapi mereka adalah seorang pemimpin dengan banyak hal yang harus dipertimbangkan tentunya dan jika itu berhubungan dengan rakyat, juga kerajaan, mereka tentu akan mengambil keputusan untuk melindungi dua hal itu. Mengesampingkan perasaan pribadi dan Reta cukup menghargai keputusan itu.
"Bunda dan Ayahanda tidak perlu cemas, aku akan melakukan apa pun untuk menjaga kerajaan ini," kata Reta dan mereka berdua terlihat begitu lega. Mereka tidak menyangka jika putrinya Meira akan sedewasa ini, mungkin dulu Meira juga akan tetap menyetujuinya tapi ia juga akan terus mendesak orang tuanya, agar cepat menikah dengan pangeran Draca. Namun, Meira yang sekarang malah menyerahkan semua keputusan kepada orang tuanya.
Ratu dan Raja pun pergi dari kamarnya. Menyisahkan Reta sendiri yang menghela napas panjang, memejamkan matanya sesaat dan ingatnya mulai berkelana. Ia mengingat jelas kejadian semalam dan itu cukup mengguncang hatinya. Bahkan berita pernikahan ini, sangat membuatnya resah.
"Tuan putri, saatnya sarapan." Gadi Ta datang dan Reta memperhatikannya. Ia mulai memiliki kecurigaan padanya, Reta terus-terusan merasa heran. Saat Draca datang atau wanita rubah itu datang, Gadi Ta selalu saja tak ada. Disaat ia terbangun dari pingsannya, setiap kali ia bertanya pada Gadi Ta, wanita itu hanya menemukan dirinya pingsan. Sangat mencurigakan!
"Apa anda benar-benar ingin pergi ke kerajaan bawah?" Gadi Ta bertanya dan Reta mengangguk.
"Kau ingin menemaniku?" tanya Reta dan Gadi Ta mengangguk.
"Tentu saja, saya akan melindungi Anda." Mungkin jika Reta tak merasakan sesuatu yang tak beres pada Gadi Ta, ia akan sangat senang. Tapi, dengan semua hal yang terjadi dan keanehan-keanehan ini, Reta tidak akan lagi untuk mempercayai siapa pun.
---***---
Mereka benar-benar turun kebawah dengan kereta kencana yang di kendalikan oleh beberapa prajurit kerajaan dengan wujud Phoenix-nya. Saat Raja menyuruhnya untuk membawa panglima, Reta menolaknya. Ia hanya ingin jalan-jalan, kenapa harus membawa panglima seolah menjadi utusan atau menjalankan sebuah negosiasi.
Dan, berakhir seperti inilah sekarang, ia menginjakkan kakinya di kerajaan bawah yang konon katanya di pimpin oleh klan Singa. Benar, saat mulai memasuki kota dengan pakaian seadanya yang tak mencolok seperti di kerajaan Phoniex ia berjalan bersama dengan Gadi Ta dan pengawalnya. Gadi Ta yang memang terlihat lebih menawan dari Reta, beberapa kali di lirik oleh para pria dan Reta yang terlihat seperti wanita sakit-sakitan lebih memilih berkonsetrasi dengan segala tujuannya.
"Gadi Ta ..." panggil Reta dan wanita itu menoleh.
"Iya, Tuan Putri," jawabnya dengan hormat.
"Aku ingin makanan itu, bisakah kau membelikannya untukku?" pinta Reta dan Gadi Ta pun menangguk.
"Baik Tuan Putri, tunggu disini," pesannya dan Gadi Ta pun mulai melangkah pergi.
__ADS_1
Reta terus mengawasi gerakan Gadi Ta, sampai pelayannya itu berhenti di depan penjual makanan. Menunggu antrian yang lumayan, karena sepertinya makanannya sangat enak.
"Jara Ta ..." Reta juga memanggil pengawalnya yang satu ini.
"Ya, Tuan Putri." Pria itu berada tepat dihadapan Reta dan membungkuk.
"Belikan aku minuman, aku haus," pinta Reta dan Jara Ta nampak menimbang.
"Cepat, bagaimana kalau aku mati kehausan?" desak Reta dan Jara Ta pun membungkuk, kemudian pergi. Reta memandang anak buahnya kembali dan sekarang hanya tersisa prajurit biasa yang akan mudah ia kelabuhi.
"Ayo jalan!" perintahnya dan mau tidak mau prajurit itu mengikutinya, hingga sampai di tengah-tengah pasar. Ditengah kerumunan dan beberapa deretan prajurit kerajaan yang seperti sedang melakukan pawai.
Reta tersenyum menatapnya, ia bersiap untuk mencari cela agar bisa terlepas dari pengawasan prajuritnya dan saat barisan wanita dari berbagai ras berjalan, dengan pengawalan cukup ketat, Reta menemukan sosok yang cukup ia kenal.
"Sara!" panggil Reta pada seorang wanita bertubuh mungil, lebih mungil darinya bahkan.
Gadis yang Reta panggil menoleh dan cukup terkejut, sambil bibirnya bergerak seolah mengatakan 'Tolong Aku' dan Reta menghentikan reaksi tercengangnya, memilih mengikuti gerombolan itu saat berhasil mengelabuhi para penjaganya.
Disisi lain, Gadi Ta kembali dan tak menemukan Reta. Hanya prajurit yang tadi bersama Reta. "Dimana Tuan Putri Meira?" tanya Gadi Ta dan para prajurit itu membungkuk dan meminta maaf.
"Maafkan kami Gadi Ta, Putri menghilang dan kami tidak bisa menemukannya," kata salah satu diantara mereka.
"Apa! Jara Ta dimana?" Baru saja Gadi Ta menanyakannya pria itu pun muncul dengan membawa minuman.
"Kau kemana saja, Putri Meira hilang!" Kesal Gadi Ta dan Jara Ta seketika menyadari kecerobohannya.
"Maafkan aku, aku akan mencarinya," kata Jara Ta yang kini berlari.
"Ikuti ketua kalian!" Gadi Ta memerintahkan sisa prajurit yang di pimpin oleh Jara Ta dan para prajurit tersebut pun mematuhi perintah Gadi Ta. Mereka pergi mengikuti Jara Ta.
Tak menunggu lama, sosok pangeran Draca datang tentunya dengan penyamaran. Ia berjalan mendekati Gadi Ta yang masih berada di tengah-tengah pasar. Wanita ini takut jika mungkin putri Meira tersesat, jadi jika putri Meira mencarinya akan sangat mudah menemukannya disini.
"Ada apa?" Draca menepuk pundak Gadi Ta, agar wanita ini tahu jika dirinya sudah ada disini.
"Pangeran, Putri Meira menghilang." Kali ini, Gadi Ta benar-benar menunjukkan ke khawatirannya.
"Hilang? Dimana? Apa yang kau lakukan disini?" tanya pangeran Draca yanh tentu tak mengerti.
"Begini, Tuan Putri Meira ingin jalan-jalan ke kerajaan bawah dan raja menyetujuinya. Tapi, saat aku mencoba membelikan apa yang ia inginkan, putri tiba-tiba hilang," lirihnya yang membuat Draca berdecak.
"Kau tak perlu sekhawatir itu, ini pasti bagian dari rencananya. Bagus kau memberitahuku sekarang, mungkin ini jalan kita untuk tahu apa yang gadis picik itu rencanakan. Tunggulah disini, aku akan mencarinya dan terima kasih untuk kesetiaanmu kepadaku," kata Draca yang kini berjalan, menghilang diantara kerumunan orang. Gadi Ta memandanginya, kemudian menghela napas panjang.
----***----
Reta terus berjalan, mengikuti para prajurit yang membawa sosok Sara. Reta sangat senang, sepertinya ia akan berjumpa lagi dengan salah satu sahabatnya. Hal ini pula memantapkan keyakinan Reta jika semua sahabatnya juga ada disini. Yang perlu ia tahu adalah dimana mereka sekarang?
Tiba-tiba rombongan itu berhenti, membuat Reta juga berhenti. "Apa ini? Gerbang istana?" Reta baru menyadari jika rombongan ini akan memasuki istana.
Seketika Reta kebingungan, apa yang harus ia lakukan untuk dapat masuk kedalam. Reta pun berpikir, hingga akhirnya ia memiliki ide. Reta mengambil beberapa batu krikil yang ia aliri dengan api semampunya dan ia lemparkan pada para prajurit, membuat semuanya heboh.
"Apa ini!?"
"Siapa yang berani melakukannya? Tunjukkan dirimu pengecut!"
Itulah teriakan dari para prajurit yang terlihat waspada dan Reta yang merasa rencana berhasil, menyelinap memasuki barisan para wanita yang semenjak tadi di jaga ketat oleh prajurit kerajaan.
__ADS_1
Reta, tidak tahu kenapa dan untuk apa mereka harus di jaga ketat seperti itu. Setelah tidak ada serangan lagi, mereka benar-benar memasuki istana.
Reta yang sudah terbiasa tinggal di istana, ia tidak akan tercengang melihat bangunan istana. Malah, menurut Reta lebih bagus di kerajaan Phoenix yang memiliki nilai seni yang luar biasa menakjubkan dengan detail warna-warninya. Reta belum tahu saja, kerajaan Naga dan Rubah bahkan lebih bagus lagi.
Para prajurit itu pun terus menggiring mereka sampai di istana tempat pelayan dan disana sudah berjejer beberapa pelayan dari berbagai ras dan Reta cukup terkejut saat melihat penampilan beberapa orang yang masih tak jauh dari wujud aslinya. Seperti dua pengawal dihadapannya, besar seperti Beruang, memiliki bulu lebat di sekujur tubuhnya dan kuku-kukunya cukup tajam. Belum lagi, beberapa ras ular yang menjadi pelayan istana. Mereka berjalan menggunakan ekor, hanya bagian atas saja yang berbentuk manusia, namun lidah berbisa mereka terkadang menjulur membuat Reta ngeri sendiri.
"Sebentar lagi Raja Singa akan datang, jangan sampai bertingkah atau kalian akan mati!" pesan si panglima beruang dan semuanya jelas saja ketakutan, hanya Reta yang tak begitu peduli. Reta hanya terus mengawasi Sara yang terlihat pucat.
"Apa ia sakit?" gumamnya yang mulai mengkhawatirkan sahabatnya yang sedikit berbeda dengan telinga panjang, mata hijaunya dan kulit kekuningannya. Reta tidak bisa menebak, dari ras mana sahabatnya itu.
Salaiska Dakara
"Raja telah tiba!" teriak seseorang dengan lantang membuat semuanya bersujud, Reta dengan cepat mengikutinya.
Sesuai dengan namanya, sosok raja Singa itu cukup berwibawa. Tidak terlalu mencolok dengan rambut panjang dan mata keemasan. Ototnya begitu kekar jelas tak jauh berbeda dengan Draca. Tatapannya pun begitu tajam dengan wajah yang cukup serius.
Raja Arslaan
Memimpin Kerajaan Bawah
Raja dari ras Singa ini berkeliling, seolah mencari sesuatu dan ia berhenti tepat di depan Sara yang mungil dan cukup menarik perhatian, membuat Reta terlihat was-was. Entah Reta, merasa jika tatapan pria ini sedikit berbeda. Ah, kenapa semenjak Reta berada disini, ia menjadi cukup peka dan menjadi peduli tentang banyak hal.
"Aku mau dia untuk menemaniku malam ini," ucapnya yang jelas membuat Reta tak terima.
Sepertinya semua pria disini brengsek! Itulah yang dipikirkan oleh Reta saat ini. Mereka bertingkah pongah karena kekuasaan yang mereka miliki.
Dua pengawal dengan ras berbeda, kadal dan kijang pun maju, menarik Sara dari barisan dengan sangat kasar. Tangan Reta sudah mengeluarkan api, ia tak suka jika teman-temannya disakiti.
Sara terlihat ketakutan. "Tolong, aku ingin pulang!" ucapnya yang membuat Reta yang sangat paham dengan maksud temannya ini, begitu geram.
Raja Singa itu berbalik dan menatap dingin Sara. "Kau hanya budak, seharusnya kau bersyukur karena dengan bermalam denganku, kau akan menjadi selirku," ucapnya yang cukup menghina Sara.
"**** itu!" cibir Reta yang dapat mendengarnya, sungguh pendengarannya cukup tajam. Ia bersumpah akan menyelematkan Sara dari pria siluman singa bedebah itu!
Seketika tubuh Reta mulai menunjukkan perubahan. Api membara tak hanya keluar dari tangannya tapi keluar dari tubuhnya, seolah membakar seluruh tubuhnya. Rambut apinya melambai-lambai seperti obor olimpiade dan sayap apinya yang terlihat mengkilat-kilat dan panas.
"Phoenix! Ada Phoenix disini!" seseorang memekik ketakutan saat melihat perubahan Reta. Sepertinya mereka cukup mengenal ras Phoenix seperti Reta.
Sebelum semua orang menyadarinya, Reta melesat dengan sayap apinya dan meraih tubuh Sara. Raja Singa yang tahu langsung saja mengejarnya dan hampir saja menyahut Sara kalau Reta tidak segera menghindar.
"Apa yang dilakukan oleh keluarga kerajaan Phoenix disini? Bukankah kalian telah mengatakan jika tidak tertarik dengan dunia bawah." Raja itu tertawa, cukup tertarik dengan maksud dari gadis misterius di hadapannya ini.
"Dan, kau membawa budak dari ras rusa? Ada apa ini?" tanyanya yang tentu membuat Reta kesal.
Reta yang sekarang ada dalam puncak emosinya, ia tidak akan memikirkan apa pun kecuali bagaimana cara menyelamatkan Sara dari pada bedebah ini. Bahkan ia tidak menghiraukan dirinya dengan wujud separuh Phoenix seperti ini. Ia mengumpulkan semua amarah dan menjadikannya sebuah kekuatan dan bersiap menyerang Raja itu.
BUM
Sebuah lubang tercipta, Raja singa bisa menghindar tapi beberapa pengawal istana mati. Saat kabut akibat ledakan hilang, Raja tak menemukan siapa pun disana.
"Sialan! Aku akan mendapatkan kalian. Prajurit, cari mereka berdua dan berihadiah bagi yanh bisa menangkap kedua wanita lancang itu!" perintahnya lantang dan semua menyanggupinya.
__ADS_1